Total Tayangan Halaman

Berta'aruflah dengan Tenang Jangan Langsung Mengiyakan...

by - Juni 25, 2018



                       insannursalam.com


Sejatinya, ta'aruf sama dengan proses menjodohkan, mencari pasangan hidup, tanpa menjalani masa pacaran. Ada pihak yang menjadi tim sukses dalam proses pencarian calon pendamping tersebut. Kedua belah pihak saling memberikan keterangan mengenai sosok calon pengantin. Baik karakter maupun silsilah keluarga.

Pada dasarnya, proses ini sangat baik, dalam agama Islam sangat dianjurkan. Bahkan hukumnya adalah haram berpacaran karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah dan perbuatan terlarang lainnya. Perjodohan atau ta'aruf adalah cara yang diyakini benar.

Saya sendiri, tidak menjalani proses perjodohan. Suami adalah teman sekampung dan kami menjalin hubungan cukup lama. Sejak sekolah hingga suami bekerja, total waktunya empat tahun lamanya. Bukan menunggu suami mapan terlebih dahulu, tapi memiliki penghasilan untuk menafkahi keluarga. Itu pertimbangan kami waktu itu. Maka ketika ia memiliki penghasilan, kami tidak menunda menikah. *jangan ditiru ala-ala pacarannya ya...🙏

Banyak pasangan yang mampu menjaga diri dari perbuatan asusila, secara dewasa menyadari bahwa suatu perbuatan harus dipertanggungjawabkan. Namun tak terhitung banyaknya yang gagal total, menikah karena insiden memalukan.

Dan berapa banyak pula yang menjalami hubungan LDR, gagal dalam meneruskan hubungan ke jenjang perkawinan.  Atau malah berhasil saling menjaga dan setia. Jadi segalanya berpulang pada niat dan usaha masing-masing.

Pada pernikahan yang diawali dengan perjodohan atau ta'aruf, sebaiknya benar-benar cermat menelusuri perangai calon pasangan. Menurut saya pribadi, perangai adalah modal sangat penting dalam menjalin hubungan. Letaknya menduduki urutan kedua setelah keyakinan yang dipeluk. Masalah tampang,  harta, dan lain-lainnya, bisa dimaklumi. Harta bisa diusahakan bersama setelah menjadi pasangan suami istri.

Ta'aruf jangan sebatas melihat penampilan dan kalimat-kalimat yang dilontarkan ketika pertemuan beberapa kali. Kalau proses ta'aruf  belum saling kenal, sebaiknya tidak terburu-buru menentukan ke jenjang selanjutnya. Berikan waktu beberapa bulan, setidaknya beberapa minggu. Tujuannya untuk bisa mencari tahu kepribadian dan tingkah laku calon pasangan.

                                ipnu.or.id

Bagi tim suksesnya, alangkah baiknya jika benar-benar menggali informasi yang akurat. Mencari data dari sumber yang layak untuk  dipercaya. Kalau bisa dari seseorang yang tinggal dan bergaul dekat dengan calon tersebut.

Tanyakanlah secara rinci, dan yang menurut saya paling penting, bagaimana ia mengelola emosinya sehari-hari. Apakah ia seseorang yang temperamental, labil dalam mengambil keputusan dan lain sebagainya. Tujuannya agar calon benar-benar siap mental. Jikapun mundur masih ada waktu. Karena jika sudah terjadi pernikahan, sekuat mungkin, janganlah sampai bercerai berai. Meskipun boleh, perceraian adalah perbuatan halal yang tidak disukai Allah.

Saya pernah menemui pasangan yang cukup yakin mengiyakan perjodohan, padahal kenal baru beberapa minggu. Secara penampilan, laki-laki tersebut sangat meyakinkan. Kalimat yang keluar dari mulutnya adalah nasihat semua. Pakaiannya juga menggiring orang lain untuk menilainya sangat sholeh.

Ketika rumah tangga sudah dibentuk, yang terjadi adalah kekerasan verbal karena sang suami ingin segala ucapannya dituruti tanpa mengenal jeda waktu. Lucunya lagi, seseorang yang terlihat mengkaji ilmu agama dengan khusuk, ternyata berputus asa ketika menghadapi kenyataan kehidupan berumahtangga. Ia merasa kesulitan mendidik dan menafkahi.

Tidak ada yang salah dengan niatan menuju keluarga samawa. Namun, jika menuntut pasangan sesempurna yang dia pelajari dari watak para istri nabi yang sempurna, rasanya butuh proses yang cukup lama. Toh dia juga harus menyadari kalau belum sebaik nabi.

Berumahtangga tidak semulus yang dikhayalkan ketika kasmaran. Proses pengenalan pribadi terus-menerus, dan penyesuaian tiada batas waktu. Kedua belah pihak harus saling tenggang rasa karena menyatukan dua pribadi dengan satu tujuan itu terkadang sangatlah rumit.

Banyak sekali yang terkejut dengan sikap pasangannya setelah tinggal satu atap. Ternyata si istri tidak selemah lembut ketika sebelum menikah. Atau si suami ternyata mudah marah, dan ingin dilayani seperti seorang raja.

Perlu disadari, tidak semua keluarga benar-benar menerapkan ilmu parenting sesuai fitrahnya. Ada faktor lingkungan juga dalam membentuk perangai seseorang. Tetapi ketika dua orang berbeda tersebut memiliki tujuan yang sama, hendaklah saling mengalah dan mengubah sikap menuju pada kebaikan.

Tahun-tahun awal pernikahan adalah masa yang penuh dengan kejutan. Banyak hal-hal tak terduga dari pasangan, baru kita ketahui setelah hidup bersama. Jangankan yang baru kenal, yang sudah lama saling kenal, misal, menikah dengan teman sendiri, pasti mengalami semacam shock therapy. Eh ternyata dia malas mandi. Duh ternyata dia berantakan sekali orangnya...dan lain sebagainya.

Hal-hal kecil terkadang bisa menimbulkan perasaan tertekan pada pasangan. Kadang ada yang marah besar jika diingatkan  kebiasaan buruknya. Karena mengubah perangai yang sudah bertahun-tahun tidaklah mudah. Apalagi dalam hitungan bulan...

Berapa banyak yang gagal melewati tahun-tahun awal pernikahan, bukan? Merasa putus asa padahal perjuangan baru saja dimulai. Bagi yang mampu melewatinya dengan sabar,  pernikahan akan langgeng, hanya dipisahkan oleh ajal yang menjeput.

Lalu apa kabar pasangan yang saya temui tadi? Awalnya cekcok mulut lama-lama main fisik. Tidak tahan, istrinya akhirnya minta diceraikan.

Jangan salahkan ta'arufnya karena alasan dijodohkan. Akui saja bahwa tidak ada niat berubah dari kedua belah pihak yang menjalaninya. Miris memang, hubungan yang diawali dengan niat yang baik harus berakhir karena keduanya tidak ingin mengubah prilaku. Si suami tidak mampu mengendalikan emosi, si istri tidak sanggup mengalah lebih lama lagi.

Seharusnya, Ilmu agama diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Caranya juga harus benar, tidak dengan kekerasan, harus penuh kesabaran. Suami sebagai pemimpin harus sabar mendidik. Istri sebagai makmum juga wajib patuh, asalkan tidak bertentangan dengan hukum agama.

Apakah hal ini ya yang melandasi orangtua zaman dahulu menjodohkan anaknya dengan kerabat yang sudah dikenal baik? Wallahu 'alam...

Dan saya setuju kalau menikah dengan teman sendiri loh. Tidak susah mencari tahu perangai calon pasangan, lah wong sudah saling kenal sejak lama, bukan?

Hayoo...siapa teman yang kira-kira bisa menjadi jodoh anak atau diri Anda sendiri?





















You May Also Like

2 komentar

  1. Tim sukses atau mak comblang juga harus jujur mengatakan siapa orang yang akan dikenalkan, tidak boleh ada yang ditutupi. Bagaimanapun juga mak comblang haruslah orang yang benar-benar bisa dipercaya.

    Dan yang tidak kalah penting adalah minta petunjuk Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar. Dan tentu saja butuh waktu yang tidak sebentar. Mak comblang punya peranan penting...��

      Hapus