Total Tayangan Halaman

Soal Tawar Menawar Bagaimana Sebaiknya?

by - Maret 06, 2018

Perempuan, apalagi emak-emak, sepertinya jarang yang nggak iseng nawar kalau sedang berbelanja. Mungkin ingin berhemat salah satu alasannya mengapa harga ditawar. Tapi bisa saja hal tersebut karena kebiasaan. Perempuan belanja tanpa menawar? Ibarat makan sayur kurang garam.

Di pasar tradisional selalu terjadi tawar menawar harga


Soal tawar menawar memang perempuan lebih jago ketimbang para lelaki. Meskipun banyak laki-laki yang pandai juga menawar harga. Apalagi berbelanja pakaian, sedangkan kebutuhan pokok pun kadang berani juga ditawar. Kalau masalah yang terakhir ini saya nggak tega, terutama menawar  makanan.

Terus terang, untuk golongan perempuan, saya termasuk pada kategori yang tidak pandai menawar. Suka takut salah terus dimarahi oleh pedagangnya, hahaha...

Sahabat saya pernah memberikan tips menawar. Katanya, kalau menawar mintalah minimal separuh dari harga yang ditawarkan. Lalu coba mereka-reka kisaran harga sebuah barang yang sedang saya taksir. Ya ampun, mengetahui kisaran harganya saja saya keder duluan.

Saya jadi bingung mau ditawar berapa. Apalagi kalau baru nawar sebentar terus dikasi, berasa paling bodoh saat menawar tadi.

Masa iya langsung oke?
Berarti sudah untung banyak, coba lebih rendah lagi tadi?
Berarti saya yang tidak pandai menawar..
Berarti pedagangnya tadi menilai saya nggak pandai belanja..
Kayaknya pedagangnya itu menertawakan saya deh...
Duuh...bermacam pikiran aneh-aneh berputar-putar di kepala.

Pergunakan kalimat yang baik dan sopan saat menawar

Suami pernah menyarankan lebih baik berbelanja barang yang sudah tertera harganya. Jadi saya bisa menyesuaikan dengan isi kantong. Kalau tidak cukup ya nggak usah beli. Dari pada harus tawar menawar.

Atau kalau mau menawar, sebaiknya pakai prinsip bahwa harga yang disepakati memang sudah jadi rezeki kita. Jangan pakai mikir takut ditipu, apalagi ditertawakan dan dianggap tidak pandai menawar. Yang ada malah jadi tidak tenang sendiri. Lebih fatalnya lagi, kalau sudah jadi beli  masih ngecek ke toko sebelah. Tanya-tanya  berapa harga barang yang sama dengan yang kita beli.

Buat apa coba...?
Kalau ternyata lebih mahal jadi marah. Misuh-misuh, nandai si pedagang. Terus kalau ternyata berhasil membeli dengan harga lebih murah senengnya seperti menang undian. Dulu saya begitu seringnya.   Aneh kan? Kata suami itu pekerjaan iseng namanya.

Pernah saya menemui kejadian, segerombolan ibu-ibu berbelanja produk kerajinan tangan di sebuah acara bazar. Yang menunggui anak laki-laki muda. Ibu-ibu tersebut menawar dengan gencarnya. Si pedagang berusaha kekeuh tidak melepaskan harga yang ditawar. Saya geli mendengar mereka saling sahut-sahutan.

"Udahlah, Nak, kasikan aja kenapa harga segitu. Ini untuk nenek-nenek loh..." kata salah satu dari mereka. Diamini oleh teman-temannya.

"Iya, Bu, belom dapet. Memang segitu harganya.." si pedagang cengar-cengir.

"Iya, loo..anggap aja nenek sendiri yang beli.." salah satu dari para ibu tersebut menimpali.

Saya kasihan sekaligus ingin tertawa melihat wajah pedagangnya. Sepertinya dia cuma karyawan, mencoba bertahan pada harga dari pemiliknya. Kalau dikali-kalikan, seandainya semua jadi beli, perkiraan saya masih untung. Perkiraan saya loh ya...

Rombongan ibu-ibu tersebut akhirnya memenangkan perkara penawaran. Karena tidak berselang lama, seseorang datang dan melepaskan harga yang ditawar. Meskipun tidak dengan wajah yang ceria, terlihat  sangat datar. Ikhlas gak sih ya? Kok kaku begitu, tidak semurah senyum anak muda tadi?

Tapi kata seseorang yang jago menawar, kalau pedagang melepaskan harga yang diminta pembeli berarti sudah ada untungnya. Masa iya pedagang mau rugi? Mending nggak usah jualan.

Memang ada benarnya juga. Tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika hendak menawar suatu barang.

- Jangan menawar dengan harga yang tidak masuk di akal (terlalu jauh dari harga yang ditawarkan).
- Pergunakanlah bahasa yang baik dan sopan.
- Jangan menawar barang yang sedang ditawar orang lain dengan harga yang lebih tinggi. Tunggulah sampai transaksi selesai dan orang pertama tidak berada di tempat yang sama.
- Hindarilah membandingkan-bandingkan harga dengan tempat lain.

Ketika melakukan jual beli, asalkan kedua belah pihak setuju, maka transaksi tersebut sah adanya. Namun, sebagai makhluk sosial, hendaknya kita mengedepankan rasa saling "tepa selira".  Artinya kedua belah pihak ikhlas dan tidak merasa dirugikan.

Untuk makanan siap santap sebaiknya harganya jangan ditawar













You May Also Like

8 komentar

  1. Menawar sewajarnya, tapi kalau tidak bisa menawar (takut kemahalan), saya pilih beli di toko dengan harga pas saja.

    kalau beli sayuran, atau bahan makanan mentah, berapapun langsung dibayar. Pedagang, untungnya tidak banyak. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah sudah sama kita dalam hal ini yak? Setuju, pedagang kecil untungnya memang sedikit

      Hapus
  2. aku juga suka bingung kalau mau nawar pas belanja. biasanya aku nawar 60-70% sih dari harga yang ditawarin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduuh..hebat, berani bener nawar segitu yak? Kalo saya dah nderedeg..hahaha

      Hapus
  3. Saya jarang nawar Mbak..Sri, kasihan sama yang dagang.
    Pernah pergi ke pasar sama saudara, nawarnya sampai gilaaa! Padahal cuma tempe, sayur, bumbu dapur..hadehh...saya enggak enak ati sama penjualnya. Waktu di pulang saya tegur dia kekeuh kan namaya jualan ya hak pembeli menawar. Tapi kan enggak segitunya juga yaaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau bahan makanan apalagi makanan matang, saya gak mau nawar. Kasihan...

      Hapus
  4. Saya termasuk yang menggunakan cara separuh harga bahkan kurang. Tujuannya agar lebih leluasa bergerak naik turunin harga. Tapi tergantung jenis barangnya juga sih, jadinya nggak keterelaluan juga pas nawar

    BalasHapus
  5. Saya lebih parah, udah gak bisa nawar, gak pintar pakai bahasa Jawa pula.
    Jadi kalau ke oasar, hanya tunjuk sana tunjuk sini, kelar langsung tanya berapa, bayar lalu pergi.
    Sok kaya hahaha..

    Alhasil suami gak bolehin ke pasar, beliau yang gantiin belanja, saya ngekor saja.
    Lalu makin jadi gak familier ama tawar menawar deh saya :D

    BalasHapus