Total Tayangan Halaman

Mencegah Kecanduan Televisi pada Anak-Anak

by - Februari 01, 2018




Loh memangnya bayi-bayi zaman now masih ngejogrog di depan televisi? Bukankah televisi menjadi idola di kalangan anak-anak sekitar empat puluhan tahun yang lalu? Bukannya gadget yang jadi idola anak-anak zaman sekarang?

Tapi memang segala sesuatu itu ada masanya. Setiap zaman memiliki trendnya tersendiri. Semuanya berlangsung tanpa bisa kita hentikan. Namun yang harus menjadi catatan bagi kita, para orangtua, adalah mengajarkan mengendalikan diri.

Menghentikan perubahan zaman adalah hal yang mustahil. Tetapi kita bisa menyikapi segala bentuk kemajuan itu sebagai sesuatu yang digunakan sebagai alat untuk mempermudah mendapatkan kebaikan. Bukan malah sebaliknya, kita jadi terikut hancur karena tidak memiliki sikap yang tegas dalam menghadapi perkembangan zaman.

Zaman saya masih anak-anak, televisi merupakan benda mewah, tidak semua keluarga memilikinya. Jika di rumah memiliki televisi hitam putih berarti keluarga tersebut sudah dianggap mampu. Terlebih lagi bila televisinya sudah berwarna, wadduh, orang-orang sudah menganggap keluarga tersebut kaya raya. Ck..ck..ck..segitunya ya? Kemampuan ekonomi bisa diukur dari kepemilikan televisinya. Karena televisi berwarna masih dianggap barang mewah pada masanya.

Ketika zamannya saya sudah memiliki anak, televisi berwarna sudah menjadi barang biasa. Walaupun beli buku paket tiap tahun ajaran baru bikin naik darah, tetapi nonton televisi merupakan  suatu keharusan. Kalau tidak mampu beli cash ya dicicil. Yang penting hasrat nonton sinetron, film India dan lain sebagainya tetap terpenuhi.

Maka jangan heran, pada jam-jam seharusnya anak-anak belajar, justru formasi lengkap sebuah keluarga berada di depan televisi. Tidak berbilang waktu yang dibutuhkan, bahkan hingga tertidur di depan televisi saking tidak mampunya meninggalkan acara sedetik pun.

Saya termasuk dalam generasi penikmat acara televisi. Sampai-sampai segala macam pekerjaan terabaikan, hanya karena mengikuti jalan cerita sinetron atau telenovela.  Bahkkan jalan ceritanya sudah menyerupai kehidupan nyata dari tokohnya. Kalau tertinggal satu babak, merasa rugi luar biasa. Sampai-sampai dilakukan pembahasan serius ketika bertemu dengan teman yang juga menggemari acara tersebut. Gila!!

Saya ingat dulu, ketika kelas 1 SMA, almarhum bapak sampai pernah mengancam memecahkan televisinya kalau tidak segera menyelesaikan pekerjaan rumah. Lah bagaimana bapak nggak marah? Saya menyapu lantai berhenti bermenit-menit di depan televisi. Sudah barang tentu debunya terbang kembali ke mana-mana kan? Wajarlah jika bapak marah, karena bukan pekerjaan menyapu saja yang lalai, yang lain-lainnya juga sering terabaikan.

Ketika sudah menjadi orangtua saya tidak ingin mewariskan hobi tersebut kepada anak-anak. Awal pernikahan masih sering nonton, dan puncaknya ketika berebut remot dengan anak bayi yang belum mengerti apa-apa itu. Si bayi suka pencet-pencet tombol, si emak panikan karena terganggu konsentrasinya. Dan akhirnya keluarlah sindiran manis dari suami. Sekian deh...insyaf, wkwkwk...

Baca juga: Orangtua Kompak Peraturan Tegak

Waktu itu saya jadi berpikir, masa iya anak-anak kami kelak hobi nongkrongin semua acara televisi? Semua acara  diikuti, dibahas, dan tidak bisa melewatkannya satu episode pun. Pastinya diawali dengan kartun-kartun. Dulu bahkan sebuah stasiun televisi swasta program acaranya kartun melulu. Meskipun mengusung jargon stasiun televisi yang ramah anak, saya kira tidak tepat bila anak-anak sudah dicekoki untuk candu televisi. Bayangkan seandainya mereka lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi? Padahal anak-anak seharusnya bermain melatih motorik kasarnya.

Beberapa cara yang kami lakukan agar menonton televisi tidak menjadi kebutuhan:

-          Menemani anak bermain dan melakukan aktifitas yang disukai anak-anak
Menemani anak-anak bermain, menyusun puzzle dan membacakan buku adalah kegiatan yang sangat disukai anak-anak. Pada kenyataannya, anak-anak sangat suka apabila orangtuanya ikut bermain. Salah satunya adalah bermain peran. Misalnya permainan antara pedagang dan pembeli. Biasanya balita amat menikmati permainan ini. Selain bermanfaat, kegiatan ini juga salah satu cara untuk mengalihkan perhatian anak-anak pada kegemaran menonton televisi.

-          Memisahkan ruangan
Masa si sulung usia balita, mamak saya masih hidup dan tinggal bersama kami. Demi agar Syafira tidak ikut menonton acara yang ditonton mamak, terpaksa si mbah nonton televisinya di kamar. Pintunya ditutup rapat, dan saya menemaninya bermain apa saja yang ia inginkan.



-          Tetapkan acara yang boleh ditonton oleh anak-anak
Apakah televisi sama sekali tidak boleh ditonton oleh anak-anak kami? Tentu saja boleh, tetapi saya yang memilihkan acaranya dan menemani sepanjang acara berlangsung. Kami buat kesepakatan acara yang disukai. Sesudah acara selesai, televisi dimatikan lagi dan beralih pada kegiatan lainnya. Untuk malam hari, hanya di waktu hari libur televisi boleh menyala. Meskipun malam libur adalah waktu senggang bagi kami untuk menonton televisi, tetap saja acara yang kami pilih harus bisa ditonton bersama.

-          Orangtua memberikan tauladan yang baik
Agar peraturan dapat berjalan dengan baik, seharusnya orangtua juga tidak menonton televisi. Hindari acara-acara yang tidak memiliki manfaat bagi pendidikan anak.

Bagi saya pribadi, memutuskan untuk tidak mengikuti acara-acara yang sudah digemari pada mulanya sangat mengganggu pikiran. Sebentar-sebentar melihat jam, menunggu waktu acara disiarkan seperti biasanya. Terlebih lagi apabila ada yang ngobrolin kronologi kelanjutan ceritanya, tak urung saya menyimaknya diam-diam.

Tapi bila mengingat anak-anak bisa terikut kecanduan acara sinetron dan acara lainnya, saya memilih menghindari televisi. Jika selesai menemani anak bermain saya lebih memilih tidur dan menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya.
Karena tidak ada yang lebih berharga selain masa depan anak-anak.

foto diambil dari pixabay.com

  

  










You May Also Like

2 komentar

  1. Huuuaaa, klo weekend atau lg di rumah si Kakak sekarang saya alihkan dari nonton gadget ke TV ajah, biar Mamak ini tetap bisa waras sambil jaga Adek dan nyambi beres2 rumah, kerjain ini itu perintilan lainnya pun. Biar quota aman jg sih sebenarnya, secara doi udh mulai gak suka klo nonton offline, bosan kali jadi ngeyutubnya harus online, hikks. Padahal pengennya sih klo di rumah bisa sambil main dengan anak2 sih, tapi apa daya main bersama itu masih jd cita2 ajah, hikks. 24jam sehari aja kayaknya masih kurang klo lagi di rumah, padahal waktu bisa full brsama itu cuma di weekend. Secara weekdays ya kerja dan anak2 dititipin, huhuhuh. TV oh TV
    *maaf Mbak, jd curhat ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keresahan ibu muda, wajar kok...
      Saya punya ART yang ngerjain bebersih rumah dan setrika. Kata suami fokus urus anak dl karena waktunya gak lama menemani mereka bermain dan belajar. Kalau sudah sekolah, lebih banyak waktu luang. Benar saja...

      Hapus