Total Tayangan Halaman

Anak- Anak Kecanduan Gadget? Jangan-Jangan Kita yang Mengajarkannya

by - Januari 25, 2018



                                                                   nakita.grid.id


Saya benar-benar prihatin membaca berita dua remaja yang terpaksa harus direhabilitasi karena kecanduan gadget. Seperti orangtua lainnya, saya juga menilai bahwa gadget tidak akan membuat manusia kecanduan, sebagaimana layaknya mengonsumsi zat phsikotropika.

“Ah, masa iya bisa membuat seseorang jadi tidak tidur semalaman? Masa iya bisa menyebabkan seseorang tidak bisa jauh-jah dari benda yang terhubung dengan internet tersebut? Kalau jaringan ngadat bagaimana? Kalau listrik padam bagaimana? Apa iya orang tersebut akan uring-uringan seperti sedang kesakitan?” Tapi ternyata kejadian itu benar adanya.

Di Indonesia sendiri, penggunaan ponsel baru dikenal sekitar dua puluh tahunan yang lalu. Diawali dari ponsel dengan fitur sederhana, layarnya juga belum berwarna, fungsinya untuk menelpon dan sms. Yang namanya teknologi memang progressnya terlalu cepat. Setiap tahun terus berinovasi, ponsel semakin canggih. Kian hari segalanya bisa diakses lewat benda selebar telapak tangan, tetapi jangkauannya hingga seluruh belahan dunia.

Dengan kecanggihan ponsel pintar tersebut, televisi sudah mulai ditinggalkan. Contohnya di rumah saya sendiri, dalam sehari, televisi nyala tidak sampai satu jam lamanya. Itu pun cuma untuk menonton acara live sepakbola, kalau kebetulan ada siaran. Ingin membaca berita dan hiburan, kami lebih memilih membukanya di situs terpercaya, diakses lewat internet, melalui ponsel pintar. Untungnya buku dan koran masih dibeli ofline, seandainya beli ebook atau berlangganan koran digital? Berarti lengkaplah sudah, seluruhnya terakses secara mobile.

Melihat kenyataan yang ada, rasanya mustahil kita tidak mengakses internet. Bagaimana pun kita harus mengakui, internet memudahkan untuk menjangkau sesuatu yang semula membutuhkan waktu atau biaya besar. Lalu sebenarnya, siapakah yang paling membutuhkan internet?

Yup, orang dewasa, jawabannya. Orang dewasa atau orangtualah yang paling memanfaatkan semua kemudahan itu. Otomatis ponsel selalu berada di dekat mereka, kita menggunakannya untuk segala macam keperluan. Menelepon rekan kerja, berkomunikasi dengan teman atau sahabat, belanja online, mencari hiburan, pesan makanan dan lain sebagainya.

Mungkinkah hal tersebut tidak diawasi oleh anak-anak?

Saya berani menyatakan tidak. Anak-anak paling gemar meniru orang-orang di sekitarnya. Mereka mengamati setiap gerak-gerik orang-orang terdekatnya. Lambat laun mereka jadi ingin mencobanya. Apalagi jika di layar ponsel muncul gambar-gambar menarik, mereka tentu ingin bisa menggunakannya sebebas orang dewasa.

Bukan pemandangan aneh, ada anak bayi yang bertingkah lucu menirukan orang dewasa  ketika menggunakan ponsel. Awalnya kita senang melihatnya, tertawa-tawa, meminjamkannya dengan senang hati, lalu memberikan apresiasi bahwa bayi tersebut menggemaskan. Maka jangan heran, seiring bertambahnya usia, bayi tersebut akan menangis bila ponsel tidak diberikan.

Anak kecil senjatanya menangis, lalu tantrum di depan orang banyak. Orangtua demi kenyamanannya, juga agar tidak malu karena dinilai kejam atau pelit, terpaksa memberikannya. Lalu anak akan senang karena senjatanya telah berhasil membuat orangtuanya menuruti kemauannya. Tanpa disadari sebenarnya orangtualah yang telah menyebabkan ketergantungan tersebut.

Mungkinkah anak-anak dilarang menggunakan gadget?  

Hare gene? Anak Anda tidak mengenal gadget? Hellow, Anda dari planet mana? Selaku orangtua harus memberikan batasan dan aturan kepada anak-anak. Tujuannya agar gadget tidak menjadi racun bagi mereka melainkan sarana untuk mencari berita positif.

Agar tidak terjadi ketergantungan terhadap gadget, mungkin tips-tips yang berhasil saya rangkum dari berbagai sumber bacaan ini bisa jadi rekomendasi para orangtua:

-          Memperhatikan usia anak
Anak usia kurang dari 2 tahun belum perlu menggunakan gadget. Anak usia ini lebih membutuhkan bermain peran dan kontak langsung dengan berbagai media bermain lainnya. Pada usia ini anak-anak sedang belajar berjalan dan berbicara. Jangan sampai kehadiran gadget membuat si kecil terus tertunduk dan malas bergerak.

Usia 2-4 tahun masih sebatas memperkenalkan, waktunya tidak lebih dari satu jam dalam sehari. Dalam hal ini perlu ketegasan dari orangtua mengenai waktu. Dampingi mereka pada saat  menggunakan gadget, jangan sampai tangisan mereka untuk memperpanjang waktu membuat Anda memberikan kelonggaran.


usia di bawah 2 tahun belum tepat jika dikenalkan gadget (cantikanggun.com)



-          Ajak anak membuat jadwal menggunakan gadget
Buatlah kesepakatan waktu, ajaklah mereka berdiskusi dan membuat kesepakatan. Perkenalkan punishman dan reward kepada mereka. Ketika mereka melanggar kesepakatan, ada hukuman disiplin yang akan mereka terima. Demikian pula jika mereka mematuhi aturan, berikan semacam penghargaan ataupun pujian. Tidak melulu sebentuk benda, pelukan dan ciuman hangat akan membuat mereka merasa dihargai.

-          Gunakan ruang terbuka keluarga  
Biasakan memiliki waktu berkumpul dengan memanfaatkan ruang keluarga. Anda bisa bercengkrama, ngobrol dan belajar bersama. Kesempatan ini juga bisa dipakai untuk sama-sama berselancar di internet dengan membaca berita maupun bermain game. Selain memupuk kedekatan dan keterbukaan, penggunaan internet dapat kita awasi tanpa mereka sadari. Tujuannya untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak agar tidak mengakses situs yang berbahaya.

 mendampingi anak-anak mengakses internet di ruang keluarga (health.liputan6.com)


-          Keinginan anak tidak selamanya harus dituruti
Meskipun anak tantrum karena keinginannya tidak dikabulkan, orangtua harus menguatkan hati untuk menegakkan aturan. Sikapilah dengan sabar, bujuk dan berikan pengertian yang baik. Bila waktu bermain gadget sudah selesai, jangan pernah membiarkan anak mengulur-ulur waktu kembali.

-          Orangtua harus memberikan contoh terbaik
Namun, seberapa besar usaha untuk membuat peraturan, akan menjadi sia-sia jika tidak diiringi dengan tauladan. Orangtua adalah role model bagi anak-anaknya. Hendaknya orangtua tidak menghabiskan waktunya untuk mengotak-atik gadget ketika bersama anak-anak.

Tidak hanya gadget saya kira, media apapun akan menjadi masalah jika kita salah memanfaatkannya. Semua kebiasaan harus memiliki batasan dan aturan yang tegas. Jika anak-anak sudah dibiasakan disiplin sejak dini, semua fasilitas yang kita berikan akan digunakan sebatas untuk kebutuhan. Mereka akan menggunakannya sesuai dengan fungsi dan manfaatnya.

Yuk damping anak-anak, jangan sampai media yang seharusnya memudahkan justru membinasakan.










  

You May Also Like

6 komentar

  1. Setuju Mbak..Jangan-jangan mereka mencontoh orang tuanya sehingga enggak bisa lepas dari gadgetnya..hiks!
    Terima kasih sudah mengingatkan yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih kembali dek, setelah dipikir kita orang pertama yang menggoresi lembar diri mereka, kan?��

      Hapus
  2. Judulnya menohok banget. Sayangnya itu benar. Aku pernah negur suami yang tak mau lepas dari hpnya, justru karena anak-anak komplain karena ngerasa 'kehilangan'sang ayah. Alhamdulillah, sekarang udah nggak lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah..
      Kadang kita tidak menyadari kalau anak-anak memperhatikan seluruh kegiatan kita ya? Sadarnya ketika mereka bertingkah yang nyaris sama dengan kita...��

      Hapus
  3. Benar banget mbak. Kadang harus ngalah naruh gadget biar bisa ngasih contoh ke anak tidak sekedar menyuruh saja. Masalah gadget harus tegas ke anak. Aku sendiri tetep membatasi. Weekend aja anak bebas mengakses gadgetnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika sudah terbiasa pakai aturan, mereka nyaman saja kok tanpa gadget. Tapi usaha kerasnya sejak anak-anak. Hasilnya nanti ketuka remaja dst...

      Hapus