Total Tayangan Halaman

Tingkah Konyol Emak-Emak Ketika menggunakan Jasa Driver Online

by - Januari 16, 2018



Saya bukan pengguna jasa driver online aktif. Bila terpaksa pergi sendiri, kebetulan jaraknya jauh saya menggunakan angkot untuk mencapai tempat tujuan. Kadang untuk menghindari macet, apalagi jaraknya dekat, saya mengendarai sepeda motor (orang Medan menyebutnya kreta). Aplikasinya saja baru belakangan ini saya unduh.

Pernah juga sendirian sewaktu pulang dari Jogja. Terpaksalah saya menggunakan kendaraan berbasis aplikasi ini ke bandara. Karena rikuh juga kalau bawa-bawa koper dan printilannya menggunakan kendaraan lain.

Beberapa kali menggunakan jasa driver online ini, nyaris semuanya punya pengalaman yang mengesankan. Bagi saya tentu saja, karena kalau Anda membaca tulisan ini mungkin menilainya biasa saja. Atau malah mengernyitkan alis,mengesankannya di mana? Kalimat itu mungkin yang akan terbersit.

Ponsel ketinggalan di mobil tapi bisa ketemu lagi

Kejadiannya sudah berbulan yang lalu, sewaktu pulang dari kegiatan dharma wanita. Waktu itu saya juga belum mengunduh aplikasinya, masih minta tolong teman untuk memesankan.

Ketika mobil menjeput, saya berdua dengan teman langsung masuk, tapi kondisi kami repot sekali. Bayangkan saja, teman membawa beberapa balon ke dalam mobil. Belum lagi bawaan lainnya. Ada kotak berisi kue-kue dan tas jinjing. Tas ini yang menurut saya sangat merepotkan.

Balon-balon yang memberikan pengalaman seru di hari itu...😂😂


Saya tipe seorang perempuan yang tidak suka bawa tas jinjing. Padahal saya ini kan emak-emak ya? Paling suka tas berbentuk ransel, jadi bisa disandang tanpa bolak-balik saya letakkan. Seminimal-minimalnya tas itu mesti pakai tali, jadi bisa diselempangkan. Diselempangkan ya, bukan dicangklong. Saya juga tidak suka menyangklong tas hahaha....

Di dalam mobil kami lebih banyak mendengarkan pak sopir yang bercerita. Pak sopir sangat ramah, ngobrolnya sudah seperti kenal lama. Apakah keramahan sopir termasuk dalam SOP untuk menjadi seorang driver online? Mungkin saja...

Tiba di rumah terasa penat, langsung ingin tidur siang. Tapi teringan batre ponsel belum discharge. Tarraa...Baru sadar kalau ponsel tidak ada dalam tas, saya cari-cari sampai lelah juga tidak ada. Saya minta tolong teman untuk menghubungi teman yang tadi memesankan mobil.

Oleh si mbak yang tadi memesankan mobil, langsung dilaporkan nomor polisi dan nama supirnya. Nggak tanggung-tanggung, kebetulan teman saya bersama dua orang teman lainnya, juga ikut melaporkan. Jadi yang melapor sudah tiga orang. Rayyan juga saya minta melaporkan. Total ada empat orang yang melaporkannya.

Tidak menunggu lama, mobil yang tadi kami tumpangi datang lagi. Saya berdua dengan teman tadi menceritakan kronologis kejadian. Kami menduga ponsel saya tertinggal di mobil, karena di rumah sudah dicari ke segenap penjuru tidak ada.

Menurut pak sopir tadi, sesudah menurunkan kami, ada dua orang penmpang lagi yang dia angkut. Duh saya jadi bingung, bagaimana cara menduga ditemukan oleh siapa? Pak sopirnya menduga ponsel saya ditemukan oleh sepasang suami istri yang naik persis sesudah kami. Tapi saya tidak berani mengiyakan, karena bisa saja justru penumpang ke tiga yang menemukannya, bukan?

Pak sopir bersikukuh penumpang kedua yang menemukan. Karena ia menangkap gelagat mencurigakan yang diperlihatkan oleh istri dari penumpang kedua tadi. Mereka adalah sepasang suami istri warga Tionghoa. Suaminya menggunakan penyangga untuk jalan karena menderita stroke.

Pak sopir mengajak kami menelusuri alamat tempat ia menurunkan penumpang kedua. Sebelumnya kami sudah mendatangi tempat pak sopir menjeput sepasang suami istri tersebut, tapi rumahnya sudah gelap. Tidak ada yang bisa dimintai keterangan. Terlebih lagi daerah tempat tinggalnya sunyi sekali.

Kami bertanya pada satpam komplek, tentang suami istri dengan ciri di atas. Kebetulan satpam bisa menunjukkan alamat orang dengan ciri-ciri tersebut. Kami bertanya pada anak remaja laki-laki yang sedang duduk di teras mengenai ciri-ciri di atas. Anak itu membenarkan bahwa orang tersebut berada di dalam rumahnya.

Saya dan teman tidak turun dari mobil. Terus terang berat bagi saya bertanya perihal ponsel itu, kesannya menuduh, bukan? Tetapi feeling pak sopir kuat sekali. Ternyata suami istri itu adalah tamu dari orangtua anak remaja tadi. Si tamu dipanggil oleh ibu anak itu, pak sopr bertanya baik-baik dan sopan. Tidak ada kalimat menuduh tapi minta bantuan untuk bekerja sama.

Tapi tamu tadi bersikukuh tidak mengetahuinya. Pak sopir dengan lunglai masuk mobil dan merasa sedih. Akunnya sudah diblokir. Jika tidak ada laporan pembebasan dari pelanggan yang dikecewakan, maka ia tidak bisa bekerja di situ lagi. Ia memikirkan cicilan mobil, memikirkan kejujuran dan nama baiknya. Karena foto dan identitasnya sudah tersebar ke pengemudi mobil online lainnya.

Saya menawarkan menelpon ke pusat untuk mengatakan bahwa pak sopir tidak bersalah. Tapi menurut pak sopir hal itu juga termasuk kesalahannya karena tidak melakukan pemeriksaan sesudah menurunkan penumpang.

“Nggak bisa kak, dikiranya nanti kita kerjasama, karena baru dilaporkan kok langsung bilang masalahnya selesai,” keluhnya lemas.  

Terpaksa kami balik badan untuk pulang, Saya benar-benar ikhlas kehilangan ponsel tersebut, karena memang bukan kesalahannya. Saya yang tidak hati-hati menjaga barang karena salah meletakkan.

Tapi sebelum mobil menjauh, kami dihadang oleh ibu dari anak remaja tadi. Subhanallah, saya terkejut karena perempuan itu membawa ponsel saya. Benar-benar takjub. Kami mengucapkan terima kasih tak terhingga, apalagi pak sopir, ia sangat lega karena usahanya membuahkan hasil. Menurut ibu anak remaja tadi, ia sudah curiga pada kelakuan tamunya. Kami segera pamitan, saya tidak ingin memperpanjang persoalan. Saya bersyukur tidak ada kericuhan pada saat kami bertanya tadi.

Segera pak sopir menelpon pusat agar akunnya dibuka kembali. Pak sopir bilang, proses pencarian sesore itu membuat ia kelelahan secara mental. Ia memutuskan pulang dan beristirahat, padahal biasanya masih menerima penumpang lagi.

           Lebih suka pakai ransel..😁😁


Salah mengetikkan alamat

Emak-emak kadang kurang fokus, terlalu banyak yang dipikirkan sepertinya. Nah kejadian nyebelin saya alami ketika memesan salah satu angkutan online ini. Kejadiannya beberapa hari yang lalu, bersama salah seorang sahabat ketika akan menjenguk kerabat yang sakit.

Saat selesai bertransaksi pada penggunaan sebelumnya rupanya saya tidak memberikan bintang. Walhasil alamat tujuan lama masih tertera di aplikasi. Karena terburu-buru takut kesorean, padahal alamat lama belum terhapus, langsung ketik alamat tujuan yang baru. Rupanya alamat baru tidak tertulis.  Tanpa cek langsung klik pesan.

Begitu girang sewaktu melihat ongkosnya sangat murah, padahal tujuannya dua kali lipat jaraknya. Apalagi  bukan promo, saya juga pakai bayar cash, tidak punya deposit. Tapi ketika sopir menanyakan ulang tujuan saya, barulah terkejut bukan main, karena alamat yang disebutkan bukanlah tujuan hari ini. Duh...terpaksalah minta maaf berulangkali, minta izin untuk membatalkan. Syukurnya pada waktu itu sopirnya sedang berada di mesjid yang tidak jauh dari rumah saya.
Selesaikah? Belum, masih ada kejadian konyol selanjutnya, wkwkwk...

Pemesanan yang kedua lancar jaya sih, tapi lupa mengingat nomor polisi kendaraannya. Biasanya saya screenshoot, tapi kok ya lupa lagi, huhuhu...dasar emak rempong. Ketika sopirnya menelpon, saya dan sahabat langsung keluar rumah, terlihatlah sebuah mobil avanza putih sedang parkir di ujung gang. Kami bergerak menuju mobil tersebut, tapi betapa terkejutnya karena mobil meninggalkan kami dan membelok ke sebuah rumah. Looh...kami melongo, saya masih berusaha meneriaki mobil itu. Siapa tahu sopirnya hanya berusaha memutar arah.

Tapi kemudian ponsel saya berdering, nomor pemilik mobil yang kami pesan menghubungi.
“Bu, ini saya di mobil warna merah!” suara sopirnya memberitahukan.

Hapa..?! Sungguh tidak kami duga kalau mobil itu yang dipesan. Dan dengan polosnya sahabat saya curcol tentang betapa mobil itu sangat mewah, kenapa dipakai narik penumpang? Terus dari jok belakang saya juga melihat pakaian yang dikenakan baju bermerek, ponselnya berlogo apel sudah digigit, iseng mungkin ya masih narik sewa? Wkwkwk..

Sopirnya senyum-senyum malu. Kebetulan orangnya kalem, suaranya lembut, seorang ayah muda. Kok tahu? Iya, karena kami menginterogasinya, hahaha...Sahabat saya ini lucu, kali ini terbalik, bukan sopirnya yang ramah, tapi penumpangnya yang cerewet, tanya-tanya melulu.

Kami ngobrol ramah, tanya-tanya alamat, rupanya masih tetangga saya juga. Dia juga punya pekerjaan lain, sebagai seorang pemborong (istilah Medannya, apa sih sebutan yang sebenarnya?). Sampai di alamat yang tertera di Google Map, kami celingukan, tidak segera turun, karena itu bukan rumah yang kami tuju.

Ya salaaamm...apa lagi nih ulah emak-emak?

Rupanya alamat yang tertulis di  aplikasi Jalan Pendidikan 2, sedangkan alamat seharusnya Jalan Pendidikan II (angka Romawi). Kami minta maaf lagi, campur malulah pastinya. Tadi sewaktu pesan, sahabat saya yang membacakan alamatnya, sedangkan saya yang mengetikkan alamatnya. Dia tidak sebutkan angka dua harus ditulis apa, dan saya juga tidak koreksi lagi. Kloplah...

Apakah sopirnya marah?

Tidak sodara-sodara, dengan sabar dia melapor ke pusat, untuk mengubah alamat. SOP-nya memang begitu rupanya, tidak boleh asal antar ke alamat yang jadi tujuan penumpang semaunya.

Akhirnya kami tiba di alamat tujuan. Dengan cengengesan kami minta maaf dan merasa jengkel dengan kecerobohan sendiri. Dan ternyata, ongkosnya tidak bertambah dari harga semula. Demi menebus rasa bersalah kami menambahi ongkosnya. Berapa? Ah rahasialah, tapi nggak banyak sih...*pelit

                             Fokuuussss...😨😨

Jadi Buibu, biasakanlah fokus pada suatu permasalahan terlebih dahulu. Jangan memikirkan banyak hal bersamaan karena bisa mengganggu konsentrasi. Dua kejadian di atas menjadi pelajaran berharga bagi saya. Semoga pengalaman yang saya alami tidak terjadi pada ibu-ibu yang lain.

Be focus, ladies...


You May Also Like

25 komentar

  1. Untung ya Mbak sopir-sopirnya pada sabaran dari cerita di atas. Pernah ada juga sih yang kesel sama penumpang yang suka membatalkan pesanan karena bagi mereka ngojek gitu kerjaan yang bener-bener mempertaruhkan semuanya demi keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya saya minta maaf berulangkali. Terus terang nggak enak hati. Untungnya mobilnya belum bergerak menjeput, dan letaknya msih di mesjid dekat rumah ��

      Hapus
  2. Alhamdulillah ya mbak, dapat sopir yang baik terus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Alhamdulillah, betapa beruntungnya saya. Tapi ke depan tidak akan saya lakukan lagi. Kesel sama diri sendiri, loh...

      Hapus
  3. Mudah2an sopir yang nganterin mba sampai ketemu ponsel mba dibuka terus rezekinya..hebat jujur dan mau mengantar2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiinn...iya bener, saya juga mengharapkan yang demikian. Apalagi orangnya gak tinggal ibadah. Setengah hari bersamanya tak lupa sholat ke mesjid

      Hapus
  4. Ahhh, ada-ada saja ya, Mbak.Saya juga bersyukur selalu dapat sopir yang baik. Semoga dengan semakin ketatnya rekrutmen driver membuahkan keamanan dan kenyamanan bagi penumpang terutama emak2 seperti kita. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
    2. Terus terang, berbasis internet ini memudahkan. Asal untuk tujuan positif sungguh sangat baik peruntukkannya

      Hapus
  5. Masya Allah itu HP masih bisa ketemu yaaak...Masih rejeki berarti. Syukurlah dapat sopir yang baik hati...Jadi pelajaran ya Mbak, biar nanti-nanti lebih hati-hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Catatan penting buat saya pribadi tuh dek. Kudu fokus, gak grusah-grusuh..

      Hapus
  6. Bayangin pas cari hape. Pasti sopirnya sedih dan down secara mental. Jd bsk2 harus teliti banget. Apalagi kl bawaan banyak atau bawa bocah ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener dek, emak-emak kalau bepergian jarang tanpa tentengan. Apalagi yang masih punya anak balita, wihh...harus ekstra care lah..��

      Hapus
  7. walahhh saya juga punya pengalaman serupa tapi kebetulan pas lagi naik taksi bluebird dari bandara kerumah. ketinggalan hp nya karena sdh capek setelah menempuh perjalanan jauh.. untungnya hp tidak saya silent dan saat saya hubungi pak supirnya langsung berbalik mengantarkan kerumah. Memang kalau rejeki itu gak kemana ya mbak. yang pasti mah harus lebih hati2 sama semua barang pribadi yang kita bawa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya memang, kalau rezeki gak kemana. Saya gak duga hape saya bisa kembali loh...

      Hapus
  8. wahahaha, bacanya jadi ketawa :D saya juga pernah dapet hal mengesankan kalau naik ojek online. Yang salah alamat, lupa plat nomer, double pesen, masih banyak lagi mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...begitulah emak-emak, rempongnya minta ampun. Mikir ini mikir itu, semua dipikirin

      Hapus
  9. Deg2 ser baca cerita yg pertama, untungnya beres ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...
      Saya sudah ikhlas kalaupun ilang..��

      Hapus
  10. Alhamdulillah ya Mbak, deg degan juga pas bacanya. Insting Pak sopir benar ya, dan mengapa si ibu penemu enggak langsung jujur mengatakan ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena memang niat awal dia gak mau ngembaliin. Mungkin didesak atau apalah oleh yg punya rumah baru diserahkan. Alhamdulillah masih rezeki saya :)

      Hapus
  11. Yg bpk nyari2 handphone, seneeeng pas tau akhirnya selesai. Ga tega kalo dgr ada drivel online yg akunnya kena suspend krn masalah sesuatu yg sbnrnya bukan salah dia.. Selama ini aku jg dpt supir yg baik2 mba.. Blm prnh sih yg nakal ato ga sopan. Seumur2 baru sekali aja aku ksh rating 2 ke driver, itupun krn dia ga bisa anterin aku ke tujuan yg masih jaih krn keabisan bensin. Lah aku bayrnya pake gopay, ga bisa dicancel krn sdg on the way. Terpaksa dibikin komplit, tp saldoku kepotong. Ya sudah aku ksh 2 bintangnya. Kalo g ada moda transportasi online gini, ga kebayang sih repotnya gimana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepanjang mencari handphone itu saya justru berpikir bagaimana cara agar dia gak disuspend lagi. Kasihan banget kan?
      Saya sudah ikhlas masalah handphone itu. Tapi pekerjaannya kan menanggung keluarganya?

      Hapus
  12. Duh kalau kena suspend kasian bener supir pertama mba untungnya si ibu itu mau balikin tp hebat juga feeling pak supir klo pasangan itu yang ambil. semoga ga kejadian lagi y mba dan pelajaran jg buatku lebih hati2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mbak, makanya saya kesal pada diri sendiri. Sepanjang jalan melamun bukan mikirin hape, tapi fokus bagaimana cara agar akun pak sopir bisa aktif lagi..

      Hapus