Total Tayangan Halaman

Ibu-Ibu Ngegang? Kenapa Tidak? Asalkan...

by - Januari 15, 2018

Travellingnya ibu-ibu tanpa suami dan anak-anak

Saya jadi kepikiran tentang masa lalu, zaman dimana ibu-ibu kita menjadi seorang ibu muda. Ya mungkin tidak muda-muda amat, tapi masih dikategorikan usia produktiflah. Masa itu, apakah mereka juga punya geng-gengan ya?

Paling banter mungkin kelompok perwiridan ya? Perkumpulan yang mengedepankan silaturahmi. Seminggu sekali berkumpul dengan ibu-ibu sekampung untuk baca tahtim, tahlil dan yasinan. Jadi sembari bersilaturahmi mendapatkan pahala.

Sampai sekarang kelompok-kelompok perwiridan itu pun masih ada. Saya termasuk menjadi anggota salah satu perwiridan itu. Belakangan, kelompok perwiridan itu tidak semata membaca seperti yang tersebut di atas, ditambah  mengundang penceramah. Kadang ada yang mengundang demo memasak. Intinya menambah pengetahuan bagi para anggotanya.

              Bersama ibu-ibu perwiridan 

Fenomena sekarang ini, yang saya amati dari kaca mata emak-emak cupu, ibu-ibu mudanya punya geng juga. Seperti anak sekolahan saja kan? Atau jangan-jangan mereka tetap solid, sejak duduk di bangku sekolah hingga menjadi ibu rumah tangga tetap ngegang?

Kalau ya, wuih..janji keanggotaannya pasti sangat mengikat, hanya maut yang mampu memisahkan, hehehe... Serem ya, seperti perjanjian pranikah saja.

Dan janji keanggotaan itu bisa menurun ke anak mereka yang berjenis kelamin sama. Memangnya ada geng seperti itu? Mungkin saja, atau cuma hiperbola saya menggambarkan kesolidan mereka? Hehehe...iya kali.


                     Bersama para sahabat


Ibu-ibu zaman sekarang banyak yang menggandrungi komunitas sepantas. Mengapa saya sebut komunitas sepantas? Ya karena mereka berkumpul membentuk grup semacam geng-gengan begitu dengan landasan kepantasan pakaian, kepantasan aksesoris, kepantasan tas tentengan, dan nilai kepantasan lainnya.

Geng-gengan ibu-ibu ini kadang ada yang berawal dari keadaan senasib. Sebagai  pengantar jeput anak. Istilahnya macan ternak, mama cantik anter anak.

Ketika para ibu merasa ngobrolnya nyambung, seleranya sama, lalu mereka  sering nongkrong bareng. Maka terbetiklah ide untuk buat grup lucu-lucuan.


Tersenyumlah, agar bahagianya menular...😊😊

Ada grup ibu-ibu yang gemar memasak, mereka biasanya berburu resep dan praktek masak bareng. Ada grup ibu-ibu yang gemar menjahit, mereka biasanya berburu bahan pakaian murah tapi mutunya tetap bagus. Lalu praktek bikin baju atau mendesain model yang sedang trend agar bisa dipakai kompakan. Ada juga yang cuma ngumpul untuk membentuk grup arisan.

Grup arisan juga bisa bergeser menjadi ajang berbisnis. Khususnya bagi ibu-ibu yang berbakat bisnis. Bisnisnya bisa bermacam, mulai peralatan dapur sampai pakaian. Mulai aksesoris yang berharga ratusan hingga jutaan. Tergantung kelas sosial ekonomi para anggotanya.

Namun belakangan, dengan maraknya belanja online, apalagi mutu barangnya bagus (onlineshop  yang terpercaya tentunya) dan diskonnya cukup bersaing, para ibu mulai beralih kebiasaan. Mereka tidak lagi pilih-pilih barang dagangan yang dibawa teman, tetapi sibuk menggeser-geserkan jemari di ponsel pintarnya.

Jadilah arisannya cuma nabung uang atau arisan barang mahal yang lebih ringan kalau dicicil. Misalnya berlian dan barang-barang bermerek yang bisa dijual kembali.

Ada geng arisan yang sedang menjadi role model di kalangan ibu-ibu muda, Girl Squad namanya. Geng arisan itu tidak hanya beranggotakan beberapa artis, ada juga dari kalangan sosialita juga. Yang jelas mereka adalah kumpulan orang-orang cantik, seksi dan berkantong tebal. Uangnya seolah nggak bakalan habis, buat pemotretan saja baju yang dipakai berharga jutaan rupiah. Wiih...

          Girls Squad (beritakoe.com)


Nongkrongnya di restaurant berkelas internasional. Satu orang punya satu tukang make up sendiri. Penampilan mereka terlihat serasi, ada nuansa senada pada pakaian maupun benda yang dikenakan. Melihatnya asyik ya, seru gitu. Mereka selalu segar dan terlihat cantik setiap waktu. Segala yang dikenakan bisa menjadi trending topik.

Hubungan mereka juga terlihat sangat akrab dan saling support. Tidak ada saling sindir antar sesama anggota geng. Melihat mereka seolah sedang bertemu dengan bidadari baik hati. Selalu tersenyum dan optimis sepanjang hari. Bolehlah kekompakannya dijadikan contoh. Namun jangan dipaksakan bergaya kelas atas seperti mereka kalau tidak mampu, ya Buibu...😂😂

Dan gaya hidup dari sosialita kota besar tersebut sering diikutip oleh ibu-ibu kekinian yang tinggal di kota kecil maupun perkampungan. Mereka juga membentuk komunitas yang gayanya nyaris sama. Selalu cantik, nongkrong di tempat keren dan suka pemotretan. Meskipun pemotretannya masih kamera hape, belum sewa fotografer, hehehe...

Benang merah dari sosialita papan atas dan ibu-ibu macan ternak maupun ibu-ibu  kekinian  itu hanya satu, yaitu,  “Perempuan ingin selalu terlihat cantik”.

Apapun masalah yang sedang dihadapi oleh masing-masing individu, para ibu harus tetap terlihat optimis dan bahagia.  Bukankah sikap optimis bisa menular ke sesama perempuan lainnya? Dan  perempuan optimis akan mengeluarkan aura cantiknya, benar kan, Bu?

Masing-masing orang punya cara untuk membahagiakan dirinya. Cara apapun bisa dilakukan asalkan tetap berada pada nilai-nilai positif dan kesopanan. Tidak boleh saling sindir, apalagi mencemooh pada pilihan orang lain.

Misalnya, pada saat perempuan menggunakan kemahirannya sebagai pengamat mode. Kebiasaan memperhatikan gaya seseorang mulai dari kepala sampai ujung kaki kadang suka bikin keqi. Padahal tahu tidak? Orang lain ada yang merasa sangat terganggu   dengan tatapan mata aneh itu. Merasa sangat risih. Seolah ia berasal dari planet lain. 

Kadang perlakuan demikian membuat perempuan yang tidak mengikuti mode jadi menjauh, enggan ikut dalam komunitas.

Bukankah kita bisa berada pada komunitas yang sama tanpa menilai penampilan? Asalkan kita bisa saling membangun dan bekerjasama, saya rasa modal itu sudah lebih dari cukup. Syarat-syarat lain yang tidak penting semisal harus stylish, kaya dan cantik sudah selayaknya disingkirkan.

Perempuan tidak boleh bersaing untuk saling menyingkirkan. Tetapi bersinergi untuk saling menguatkan.

Be happy ladies....









   





You May Also Like

2 komentar

  1. Aku ga punya squad2 seperti ini , walopun ada bbrp temen deket yg slama ini rutin traveling bareng.. Tp kita ga mau dibilang nge genk :D.

    Zaman sekokah sih ada mba. Kita kasih nama, trus pake baju samaan, tas walo model beda, tp wrna sama hahahah.. Diinget2 malu sendiri aku :p.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emak-emak biasa sih gak dikasi nama gengnya, tapi kemana-mana selalu kompakan..:D
      Asal gak nyinyiran is oke waelah...

      Hapus