Total Tayangan Halaman

Dukung Pedagang Kecil di Sekitar Kita

by - Desember 17, 2017

Sesederhana ini mainan itu...


Ditengah gempuran persaingan bisnis berbasis online, tentu kita tidak bisa menutup mata terhadap keberadaan pedagang kecil di sekeliling kita. Mereka pedagang yang menjajakan dagangannya di sekolah-sekolah, atau keliling kampung. Sasaran pasarnya cuma anak-anak. Uang yang terkumpul hanya dalam bentuk nominal terkecil dari nilai mata uang kita, seribu, dua ribu rupiah. Namun, mereka mencoba tetap bertahan mengadu untung. Sebuah perjuangan berat di tengah hiruk pikuk kecanggihan berbagai kemajuan cara berdagang dan berbelanja.

Suatu pagi menjelang siang, saya pernah melewati seorang lelaki tua bersepeda menjajakan dagangannya. Sepanjang jalan saya perpikir, di mana menariknya dagangan yang beliau tawarkan ini? Dari warnanya saja sama sekali tidak menarik minat anak-anak. Karena benda-benda itu terbuat dari kertas-kertas bekas. Salah satunya kertas bekas buku tulis dan sampul buku. Mungkin memanfaatkan barang bekas. Perkiraan saya sendiri untuk menjawab rasa penasaran.

Maksudnya daur ulang bahan bekaskah?🤔



Kalau saya menamainya kitiran. Bentuknya seperti bunga, ditancapkan pada sebuah batang pisang. Ditaruh di bagian depan sepeda, jadi kalau sepedanya dikayuh maka kitiran tersebut akan berputar. Mungkin cara kerjanya menyerupai kincir angin, ya?

Saya melambatkan laju motor agar tidak terlalu jauh jaraknya dengan si kakek. Beliau melewati saya lagi. Leluasa saya memperhatikan apa yang dijual oleh kakek tersebut. Kemudian saya meminta beliau berhenti, tujuannya untuk membeli dagangannya.

Trenyuh, itu kesan pertama sesudah melihat pada jarak dekat. Saya berpikir, apa ada yang mau membelinya? Benda itu dijual dengan harga seribu rupiah. Sepertinya hasil kerja tangan kakek itu sendiri, pengerjaannya pun kasar. Bunga kertas itu dikaitkan dengan kawat halus ke batang lidi yang sudah dilapisi kertas. Duh, seribu rupiah untuk mainan seperti itu? Tentu saja orangtua lebih memilih membelikan anaknya makanan ketimbang mainan.

Sungguh saya bingung ketika memandangi wajah tuanya. Apa ya yang terlintas di pikiran si kakek? Dagangannya untuk hiasan atau mainan? Untuk hiasan tentu tidak menarik, kalau untuk mainan sangat sulit menggunakannya. Karena ternyata bunga berbentuk kitiran itu sebagian tidak bisa berputar ketika ditiup angin. Saya jadi teringat masa kecil, zaman dulu sudah dijual mainan seperti ini, tapi warna-warnanya sangat menarik, cerah, menyerupai warna-warna pelangi. Kita tidak perlu meniupnya kencang-kencang, karena dibawa berjalan sedikit cepat bunganya akan berputar.


Gambar atas bisa berputar, gambar bawah tidak...


Saya membeli dua tangkai. Bukan untuk siapa-siapa tentunya, tujuan saya hanya membeli. Saya juga bingung mau diapakan dua tangkai bunga tersebut. Yang terpikir oleh saya hanya mengapresiasi usahanya. Terlepas dari menarik atau tidak dalam penilaian orang lain, yang penting kakek tersebut sudah melakukan suatu usaha sesuai kemampuannya. Terlintas juga sedikit sesal, mengapa hanya membeli dua tangkai?  

Pada mereka yang masih mau berlelah-lelah berusaha, tentu layak kita memberi dukungan. Mereka tidak peduli dengan merek, penampilan, trending, branding maupun teknik selling. Tapi mereka ada di sekitar kita, menjadi bagian dari masyarakt luas kota besar. Rasanya tidak mengapa jika kita membeli dagangan mereka. Mungkin kita tidak membutuhkannya, tapi mereka sangat memerlukan biaya untuk melanjutkan hidup.

Karena di luar sana, masih banyak orang sehat yang masih bisa bekerja, justru memilih menjadi pengemis. Atau melakukan perbuatan tidak terpuji demi menghasilkan uang dengan cepat. Bukankah lebih baik kita membeli dagangan mereka meskipun kita tidak membutuhkannya? Saya kira bukan hal mubazir, karena mereka tentu akan terhina jika kita memberi mereka uang tapi tidak membeli dagangannya.

Mengapa hanya membeli dua tangkai, hemm...?🤔







You May Also Like

10 komentar

  1. Saya ikut sedih bacanya, Bun. Saya itu termasuk orang yang baper soal beginian. Terkadang saya juga beli bukan karena saya butuh. Tetapi hanya ingin membantu

    BalasHapus
  2. Saya juga begitu, suka gak tegaan, tudak perlu pun dibeli. Suami juga berpesan untukembeli pedagang kecil. Kalau masih ada di abang-abang keliling tidak boleh beli di swalayan...

    BalasHapus
  3. Semoga si kakek diberi kesehatan dan dagangannya laku. Kalau pedagang kecil begitu suka bikin kita kesentil, dengan kondisinya masih mau berusaha. Sementara kadang anak-anak muda ada yang gitaran dan hahahihi di pengkolan, kadang minta-minta jatah sama pedagang..hhhh!

    BalasHapus
  4. Nah tabiat minta-minta itu yang gak bener banget. Kelakuan preman ��

    BalasHapus
  5. Hiks, mrebes mili baca kisah si kakek. Semoga beliau senantiasa diberi kecukupan rezeki dariNya ya, Aamiin :)

    BalasHapus
  6. Pada mereka yang masih mau berlelah-lelah berusaha, tentu layak kita memberi dukungan. Setuju banget mba sama ini.

    BalasHapus
  7. Di usia segitu masih mau berkeliling berjualan dg apapun yang beliau bisa, memang luar biasa ya. Iya lebih baik beli aja dagangannya, ketimbang cuma ngasih uang aja. Karena dg begitu, beliau akan lebih dihargai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maka apa tidak malu kalau yang muda justru jadi pengemis?

      Hapus