Total Tayangan Halaman

Ketika Merpati Tak Sebebas Merpati (Reuni)

by - Desember 05, 2017


                                                                Kelen woii....

Desember, bulan yang saya anggap istimewa kedatangannya sejak satu tahun belakangan ini. Bukan berkaitan dengan hari kelahiran atau perayaan sesuatu, tapi moment kecil untuk bisa berkumpul dengan teman masa anak-anak. Mereka teman-teman masa SMP. Bukan keseluruhan, hanya beberapa gelintir saja, tidak sampai separuh dari jumlah angkatan kami.

Mereka akan pulang menghabiskan liburan akhir tahun. Bersamaan dengan liburan anak-anak sekolah tentunya. Dan kami yang masih berada di daerah asal sebagai juru kunci sekaligus penjaga gawang, menanti dengan segunung kerinduan.

Kami sudah dewasa, tapi tidak pernah menjadi dewasa bila bercanda di grup WA. Entah berada di belahan bumi yang mana mereka, tapi kami bisa terhubung seolah demikian dekat jaraknya. Ketika berbincang, kami benar-benar menjadi diri sendiri, sesantainya, sesukanya. Tapi yang paling membahagiakan, kami tidak pernah memperdebatkan sesuatu yang bisa memicu hawa panas. Dilarang berbincang politik, meskipun di dalamnya ada beberapa pengurus partai yang sedang merangkak naik karirnya. Dilarang berbicara SARA, karena kami terdiri dari tiga agama, berbagai suku dengan berbagai macam adatnya. Dilarang memosting dan bicara pornografi, karena kami punya anak-anak yang dibebaskan melihat ponsel orangtuanya.

Kata sebagian orang, reuni, WAG, dan akun sosial media lainnya bisa menyebabkan keretakan dalam hubungan rumah tangga. Saya meyakini hal itu ada benarnya, tetapi tentu saja bagi orang-orang yang kurang bijak memanfaatkan teknologi. Karena buat saya pribadi, teknologi bisa dimanfaatkan menjadi media menambah ilmu dan wawasan sekaligus silaturahmi. Maka dengan kemunculan berbagai aplikasi chatting, silaturahmi antara teman-teman yang jarang bertemu bisa terjalin kembali.  

Selama ini hanya ngobrol di aplikasi, maka sesekali kami ingin bertatap muka kembali. Namun, karena sudah menjadi manusia-manusia dewasa yang memiliki banyak tanggungan dan tanggung jawab, seringkali keinginan itu menemui kendala. Meskipun jauh-jauh hari sudah direncanakan, namun tidak semudah menuliskan barisan kalimat ketika chattingan.

                                        Duh...sampe pesta durian kalian, panjangnya waktu...

Beberapa kendala yang menyebabkan batal bersilaturahmi, antara lain:

Izin dari pasangan

Tidak semua orang memiliki pasangan yang ‘asyik’ untuk diajak kongkow bareng teman-teman kita. Beruntunglah bagi pasangan yang berasal dari sekolah dan angkatan yang sama. Biasanya mereka tidak memiliki masalah kalau bernostalgia bersama teman satu sekolahan. Tapi bagi pasangan yang beda usia, beda sekolah, beda sifat, ujung-ujungnya sulit untuk dipertemukan dalam sebuah obrolan.

Pernah saya menemui teman yang datang membawa pasangannya, beliaunya sebenarnya bersedia ikut ngobrol, tapi tetap saja suasana kaku itu tidak bisa dihindari. Pada saat itu saya berpikir ada benarnya juga tidak bawa pasangan, soalnya jadi mati gaya. Ikutan nimbrung nggak nyambung, melihat pasangan bercanda lepas dengan temannya juga sebal karena merasa dicuekin. Duh...Anda bingung nggak sih kalau dalam situasi ini?

Kebijakan akhir biasanya memilih tidak bawa pasangan, pun karena pasangannya tidak mau jadi kambing congek. Tapi apakah semua pasangan memberikan izin dengan lapang dada? Apa tidak ada yang merasa sedikit terabaikan atau cemburu? Banyak yang diberi izin, tapi waktunya dibatasi. Biasanya hal ini terjadi pada kaum hawa. Izin didapat, tapi bolak-balik disms, ditelepon, ditanya-tanya pulang jam berapa, mau dijeput atau gimana? Wadduh...kalau sudah begini, nyaman tidak sih ngobrol dengan teman?

Kalau saya, tidak masalah suami reuni atau bertemu dengan teman-teman lamanya. Bahkan saya dukung agar persahabatan mereka tetap terjalin, siapa tahu suatu hari jalinan pertemanan itu bermanfaat untuk masa depan. Tapi terus terang, masih ada terselip rasa cemburu juga. Khawatir kalau beliau berbincang intens dengan teman lawan jenisnya, manusiawi bukan? Namanya juga cinta. Tapi bukan cemburu buta, hal itu semacam bentuk perhatian dari saya dan penghargaan atas hubungan kami. Bahwa rumah tangga yang kami bina masih tetap indah meski sudah berusia puluhan tahun.

Biaya

Semenggebu-gebu apapun keinginan kita untuk bertemu teman-teman lama, kadang terkendala pada masalah biaya. Terutama bagi yang berada di luar kota. Jangankan untuk sekedar bertemu teman, biaya mudik setiap tahun belum tentu bisa disisihkan. Hal ini sangat wajar, mengingat kebutuhan hidup zaman sekarang memang sangat besar.

Kesempatan

Izin dari pasangan sudah, biaya nggak masalah, tiket sudah dikantongi, tapi semua tidak bisa terlepas dari kesempatan. Kalau dalam bahasa agama Islam disebut Qadarullah. Boleh saja manusia berusaha sekuat tenaga, merencanakan sematang-matangnya, menyiapkan ini-itu. Namun, semuanya tidak akan terjadi jika kesempatan itu bukan berada di pihak kita. Semuanya ada yang menentukan, Dia-lah yang maha mengetahui dan maha pemberi waktu.

Sejauh ini kita hanya bisa berencana, maka jangan pernah lupa meniatkan agar diberikan kesempatan oleh Allah. Karena bisa saja kita mengalami suatu halangan di tengah perjalanan, bisa saja karena kecelakaan, sakit, bahkan kematian.

Artikel ini saya buat untuk mengenang satu tahun kesedihan saya karena tidak bisa berkumpul dengan teman-teman SMP. Jauh-jauh hari sudah dibayangkan keseruan bersama mereka, ketika tiba hari H saya tidak bisa hadir di sana.

Desember itu bulannya libur anak-anak sekolah. Biasanya kami bepergian untuk sekedar melepaskan diri dari rutinitas harian. Bersamaan dengan itu, jauh hari yang lalu kami sudah merencanakan untuk bertemu teman-teman SMP. Beberapa teman yang berdomisili di luar kota pulang ke Medan, kesempatan itu kami manfaatkan untuk reuni darat. Biasanya selalu berbincang di aplikaksi, sesekali ingin bersilaturahmi di dunia nyata.

Ketika hari H tiba, paginya kami melakukan perjalanan pulang. Tapi liburan bersama rombongan beberapa keluarga tentu memakan waktu lama. Anak-anak sedang ingin bermain, terpangkas waktu makan dan sholat, serta  macet di perjalanan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Walhasil saya batal hadir bertemu teman-teman. Kesalnya jangan ditanya, ingin marah sebenarnya, tapi tidak ada yang bisa dilakukan selain menahan kekesalan dalam hati. Dua hari mood baru bisa pulih kembali, uugh..

Desember ini berencana lagi. Teman-teman pulang kampung lagi. Bisakah bertemu kembali? Semoga saja, insya Allah...
  
                                          Formasi akan bertambah tahun ini, insya Allah...

You May Also Like

4 komentar

  1. wah senang sekali bisa berkumpul dengan teman-teman. Kalau rumah dah diluar kota itu yang pusing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Pak, banyak sekali pertimbangan, cuti pekerjaan juga termasuk yang bikin pusing ��

      Hapus
  2. Aku nih mbak. Gagal Mulu kalau mau ikut reuni. Ada aja urusan dadakan.... Huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedih, tapi mau gimana, yakan? Semoga masih diberi kesempatan ya?

      Hapus