Mengapa Pesawat Jet Eksekutif Dianggap Sebagai Kebutuhan?

by - November 06, 2017

                                              foto dari pixabay.com

Jadwal penerbangan regular Indonesia sering tidak menentu. Belum bisa diharapkan untuk fleksibel, baik dari segi waktu maupun rutenya. Belum lagi kerepotan suasana di bandara yang bisa memakan waktu.  Bagi seorang pebisnis ataupun pejabat penting, waktu 24 jam seolah tidak cukup untuk melakukan semua kegiatannya. Dalam satu hari mereka bisa melakukan perjalanan berkali-kali. Menghadiri rapat, mengecek bisnis, atau bertemu orang penting. Seolah waktu berlalu begitu cepat dan semuanya harus dilakukan dengan terburu-buru.

Maka, bukan hal yang aneh bila mereka sebentar-sebentar melirik jam tangan, melihat jadwal. Benar-benar waktu mereka  sangat berharga. Dengan  kegiatan yang sangat padat itu, apakah mungkin mereka melakukan penerbangan biasa seperti orang-orang pada umumnya? Mereka tidak mungkin minta didahulukan atau diperlakukan istimewa, bukan? Sedangkan hak setiap penumpang adalah sama, menunggu giliran sesuai antrian dan fasilitas yang dibayarkan.

Berbagai ketidak-efisienan tersebut membuat para pelaku bisnis berskala besar mulai melirik penggunaan pesawat jet eksekutif. Pesawat jet eksekutif tersebut bisa digunakan dengan cara mencarter (menyewa) untuk keperluan pribadi. Beberapa diantara mereka bahkan membelinya. Dengan pesawat  pribadi tersebut, mereka bebas melakukan perjalanan bisnis ke mana saja. Waktunya bisa sesuaikan dengan keperluan mereka.

Pengalaman dari Capt Manfred Baudzus, Senior Sales Director Embraer Executive Jets Asia Pasifik, bahwa mereka, para pebisnis, memanfaatkan waktu perjalannya untuk istirahat. Biasanya mereka berangkat pada malam hari, seusai jam kantor, kira-kira pukul 23.00. Untuk perjalanan ke Jepang, misalnya, mereka pagi hari sudah sampai di tempat, pakai jas, langsung bekerja kembali.

Saya jadi ingin mengulas tentang Syahrini. Artis cantik yang satu ini sempat menghebohkan jagad sosial media dengan postingan-postingan ketika ia berada di atas pesawat jet ekseklusif. Sudah pada tahu juga kan, apa saja bisnis yang dijalani oleh artis yang dikenal dengan maju mundur cantiknya itu? Juga jangan merasa aneh bila penampilannya selalu cetar membahana begitu, soalnya dirinya dijadikan brand atas bisnisnya itu sendiri. Apa yang ia kenakan malah menghasilkan uang bagi dirinya. Bahkan namanya sering dicatut tanpa konfirmasi untuk nama alat kosmetik dan busana dengan label namanya.

Kalau saya menilai Syahrini ini sangat berbakat di bidang bisnis ketimbang tarik suara. Tapi beruntungnya ia, suara yang pas-pasan itu cukup melambungkan namanya terlebih dahulu. Dan beruntungnya lagi, setiap apa-apa yang ia lontarkan dan kenakan bisa menjadi branding atas dirinya sendiri. Belakangan ia malah hampir dikenal sebagai seorang artis pebisnis yang sukses karena ia memproduksi sendiri berbagai macam kebutuhan perempuan untuk tampil cantik.
                                                 Syahrini, artis yang juga menggeluti dunia bisnis

Dengan seabreg kesibukannya itu, sangat tidak efisien bila Syahrini menggunakan pesawat regular biasa, meski kelas bisnis sekali pun. Berapa banyak kerugian dan kerepotan yang ia timbulkan bila Syahrini terjebak dalam penerbangan delay? Sekarang enggak perlu heran dan menilai si Inces gaya hidupnya teramat glamour deh ya. Sudah paham kan, kenapa Syahrini suka menggunakan pesawat jet eksekutif untuk memperlancar mobilitasnya? Iya, dia itu sangat sibuk, selain penyanyi yang diundang untuk mengisi acara dari satu panggung ke panggung yang lain, Inces juga seorang perempuan pebisnis.

Bagi orang super sibuk, duduk berjam-jam di pesawat merasa sudah membuang banyak waktu. Lah kalau kita, berada di pesawat adalah sebuah kesempatan sangat spesial  karena saking jarangnya. Mereka naik pesawat puluhan kali dalam seminggu, sedangkan kita ada yang seumur hidup cuma naik pesawat sekali saja. Itupun ketika naik haji. Miris? Ya enggaklah, biasa saja, kan kebutuhan tiap-tiap individu berbeda?

Tetapi bukan hanya pebisnis dan pejabat saja yang menggunakan jasa pesawat jet eksekutif tersebut, siapa pun bisa menyewanya. Tarif yang dikenakan untuk penggunaannya dihitung per jam. Secara umum dikategorikan ke dalam 3 ukuran yang berbeda, jet kecil, jet menengah dan jet ukuran besar (khusus penerbangan jarak jauh). Dirilis dari data di tahun 2015 harga sewa pesawat ini  sebagai berikut, pesawat kecil: Rp. 21,59 juta-Rp. 43,70 juta. Pesawat menengah: Rp. 58,47 juta-Rp. 101,45 juta. Pesawat besar: Rp. 103,78-Rp. 124,48 juta.

Makin besarnya skala bisnis di Indonesia dengan ribuan pulaunya, negara ini menjadi industri potensial pemasaran pesawat jet eksekutif tersebut. Kebanyakan di Indonesia pesawat-pesawat itu dibeli oleh korporasi. Untuk sistem pengoperasian dan pengelolaan pesawat di Indonesia diserahkan pada Premiair. Menurut Tony Hadi, Presdir Premiair, sistem itu adalah yang paling lazim dilakukan oleh pemilik pesawat jet eksekutif. Karena para pemilik tidak lagi direpotkan dengan urusan pengoperasian dan perawatan pesawat. Semua dikerjakan oleh Premiair.

Ada 50 pesawat jet eksekutif yang berhomebase di Indonesia. 15 diantaranya dimiliki oleh warga Indonesia. Dengan jumlah itu, Indonesia menduduki peringkat ke tiga di kawasan Asia Pasifik. Kita hanya kalah dibandingkan China 29 pesawat dan India 22 pesawat. Sayangnya pesawat tersebut bukan buatan negeri sendiri. Melainkan dibeli dari produsen pesawat jet Embraer dari Brasil. Kelak, mampukah kita memprodusinya sendiri?

Indonesia berpotensi besar untuk penerbangan bisnis, karena negara kita memiliki 17.000 pulau. Sedangkan jarak dari ujung pulau Indonesia Timur ke ujung Indonesia Barat lebih jauh dari daratan utama Amerika Serikat. Indonesia, sejak dulu memang selalu menarik di mata dunia. Berbisnis apa pun sepertinya selalu berpeluang sukses di negeri ini.     



Tulisan ini diikutsertakan dalam Collaborating Blog Challenge yang diadakan oleh Kumpulan Emak Blogger. 

    

You May Also Like

8 komentar

  1. Benr ya mba.. Syahrini Makai jet bukan karna lebay tpi karena kebutuhan... Makin menarik jeng syahrini, jadi galfok saya mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selama ini kita sudah salah menafsirkan gaya hidup Syahrini ya? Padahal dia melakukan itu mungkin karena waktunya sangat terbatas.

      Hapus
  2. Waw ya Mba. Saya juga pernah baca juga bahwa sekarang pembisnis itu ga pke transportasi umum tpi pesawat ekslusif. Memang wkt sngat berharga bgi mereka ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka seperti dikejar waktu. Istirahat pun kalau bisa dimanfaatkan untuk kerja. Jadi sembari terbang tetap bekerja...

      Hapus
  3. Wow harga sewa yang fantastis!
    Tapi kalau memang dibutuhkan untuk efisiensi pekerjaan ya sah-sah saja...
    Toh, fasilitas disediakan karena orang membutuhkan..seperti jet pribadi ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fantastis memang. Tapi sudah pasti masih untunglah kalau dihitung secara ekonomi. Biaya perjalanan kan include dalam kontrak, wkwkwk....

      Hapus
  4. Terkadang kesibukan dan kebutuhan untuk berada di beberapa tempat dalam waktu yang berdekatan, memerlukan alat transportasi yang memungkinkan. Moda transportasi yang bebas dari kemacetan menjadi solusi yang terbaik.
    Tentu saja tetap diperhitungkan dengan budget yang dimiliki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya tentu saja. Tapi semua pasti sudah dimasukkan dalam modal bisnis. Jangan sampai merugi, alih-alih untung, tifak ngutang aja sydah syukur. Eh ini mah pembicaraan kita bisnis skala kecil ya? Wkwkwkw

      Hapus