Total Tayangan Halaman

Benarkah Ada Anak yang Terlahir Nakal?

by - Maret 04, 2018


Tega benar orangtua yang menggelari anak-anaknya dengan sebutan nakal . Mungkin sebutan tersebut ekspresi dari perasaan kesal yang ditujukan orangtua kepada anaknya. Bisa jadi orangtua tidak serius mengatakannya. Tetapi secara tidak langsung, orangtua sedang melepaskan tanggung jawabnya dengan membebankan kepada anak. Bahwa anak yang bersalah bukan orangtuanya. Benarkah ada anak yang terlahir nakal?

Benarkah wajah polos tanpa dosa tersebut sudah memiliki sifat buruk yang kita sematkan? Coba perhatikan lagi foto mereka semasa bayi , adakah terlihat jejak tersebut? Benarkan, mereka sangat lucu, polos dan menggemaskan? Mereka bukan bandel, tetapi hanya sedang meminta diperhatikan lebih.

Sedih rasanya melihat anak-anak usia batita diteriaki, dibentak-bentak dan diperlakukan dengan kasar. Padahal bocah sekecil itu sedang lucu-lucunya, kemampuan menirunya juga tumbuh pesat. Mereka memasuki usia emas, dimana otak mereka sedang mengalami masa pertumbuhan yang sangat penting.

                                                                     wajibbaca.com

Padahal, bentakan, pukulan dan cubitan bisa memusnahkan milyaran sel otak anak. Coba bayangkan, betapa  ruginya kita, seharusnya sel otak tersebut bisa tumbuh dengan sempurna. Hanya karena ketidakmampuan kita mengendalikan emosi hilang kesempatan mereka menjadi anak yang cerdas.

Sebenarnya, seberapa menjengkelkankah sikap anak-anak itu? Sampai-sampai orangtua sering khilaf, ringan tangan dan dengan mudahnya menghardik. Padahal mereka adalah manusia lemah, semuanya bergantung pada orang di sekitarnya. Pantaskah bila anak-anak diperlakukan selayaknya orang dewasa?

Masa iya anak-anak dituntut kalem, selalu bersih dan tidak banyak tanya-tanya? Anak-anak dengan ciri di atas mungkin ada, tapi biasanya sedang menderita penyakit. Sudah kodratnya anak-anak bergerak ke sana kemari, tidak bisa diam, mereka sedang bereksplorasi.

Anak-anak memasuki fase ‘the golden age’ (usia emas) ketika berusia 2-3 hingga 5 tahun. Mereka serba mau tahu, banyak bicara, mengawasi serta meniru tingkah orang-orang di sekelilingnya. Anak-anak bukan bandel, melainkan ingin diperhatikan. Anak-anak sebenarnya ingin diberi pujian atas segala tingkah lakunya. Mereka cuma belum tahu membedakan, mana perbuatan yang salah dan benar. Tugas orangtualah untuk memberikan pendidikan.

Apakah penyebab anak selalu mencari perhatian orangtuanya?
Menurut beberapa sumber yang saya baca, anak-anak mencari perhatian karena kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi.  Kebutuhan dasar tersebut berupa pengakuan sebagai manusia tidak diakui, ia kurang pujian, merasa tidak disayangi dan tidak diberikan kepercayaan.

Ketika anak menyadari bahwa dengan melakukan kenakalan ia jadi diperhatikan, maka anak akan mengumbar perbuatan yang tidak disenangi tersebut. Berbagai cara mereka lakukan, seperti tidak mau makan, berteriak-teriak, sengaja buang air, hingga membenturkan kepala.

Ketika anak mulai mencari perhatian, ajaklah mereka berdiskusi mengenai keinginannya. Dengan mengajak mereka berbicara kita dapat menjauhkan anak dari cara mencari perhatian negatif. Bantulah anak untuk mengungkapkan keinginannya. Jika anak masih menunjukkan protesnya, orangtua sebaiknya tetap tenang. Diamkan saja dahulu segala tingkah lakunya ketika berguling-guling atau menangis. Ketika mereda berikanlah pelukan agar anak tenang. 

Anak-anak yang mencari perhatian bukan dikarenakan kedua orangtuanya sibuk bekerja di luar rumah. Yang selalu berada di rumah pun bisa kekurangan perhatian. Karena bisa saja kedua orangtuanya disibukkan dengan pekerjaannya sendiri, punya adik baru atau mengurus bisnis onlinenya.   

Selain memusnahkan sel-sel otak anak, membentak dan memarahi mereka dapat mengakibatkan hal-hal sebagai berikut:

-          Jantung tidak normal
Apabila orangtua sering membentak, anak akan terpapar dengan nada tinggi. Akibatnya organ jantung anak akan berdetak lebih kencang. Jika hal tersebut terjadi terus-menerus, jantung akan mengalami kelelahan.

-          Menjadi pribadi emosional
Anak yang sering dibentak akan tumbuh menjadi pribadi yang emosional. Dalam kehidupan sehari-harinya anak akan cendrung mudah marah. Mereka sulit mengendalikan emosinya dan suka berteriak-teriak. Kekerasan verbal maupun non verbal berdampak buruk pada psikologi anak.

-          Mudah depresi
Anak-anak yang sering menerima perlakuan kasar lebih mudah mengalami depresi. Jangankan mengatasi masalah, membentak dan memarahi anak-anak justru membuat urusan semakin rumit. Hal ini karena anak merasa ketakutan dan tidak mampu bersikap dan berpikir dengan tenang.

-          Tidak berinisiatif
Anak yang sering dimarahi kurang mampu melakukan inisiatif karena mereka takut dianggap salah. Jika salah berarti kena marah. Akibatnya mereka lebih memilih tidak mengungkapkan pendapatnya dan berdiam diri agar merasa aman.

-          Tidak percaya pada orangtuanya
Karena sering dimarahi di depan orang lain, anak tidak memiliki kepercayaan kepada orangtuanya karena merasa malu. Mereka merasa tidak memiliki harga diri, dikarenakan orang yang seharusnya melindungi justru membuka aibnya di depan orang lain.

                                                          tipsanakbayi.com



Perilaku-perilaku di atas dapat dicegah sejak dini. Orangtua harus mampu bersikap yang benar ketika menghadapi anak-anak yang sedang mencari perhatian.

Banyak ibu yang bekerja di luar rumah mengeluhkan anaknya yang lebih agresif mencari perhatian ketika ibunya pulang ke rumah. Padahal jika ibunya tidak ada mereka lebih tenang dan tidak bertingkah macam-macam. Hal itu membuktikan bahwa Anda ibu yang berhasil. Karena anak-anak lebih percaya pada Anda untuk bermanja dan berbagi perhatian.

Sayangnya banyak ibu yang kurang paham mengenai sikap anaknya tersebut. Pulang dalam keadaan lelah, disambut rengekan kerap membuat ibu marah-marah dan membentak. Jangan biarkan keadaan tersebut terus berlarut. Dikhawatirkan anak menjadi lebih nyaman dengan orang lain dibanding orangtuanya sendiri.

Selelah apapun, cobalah untuk memberikan perhatian kepada anak-anak. Jangan tuntut mereka untuk bersikap selayaknya orang dewasa. Merugi sekali bukan, jika kita lelah bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak, tetapi  anak menjadi takut dan sungkan.

Sejatinya anak-anak hanya percaya kepada kedua orangtuanya. Mereka merasa nyaman, kepada kitalah anak-anak merasa terlindungi.  Tidak ada anak yang terlahir nakal, kita yang telah salah mengasuh mereka.



































You May Also Like

5 komentar

  1. mungkin bentuk cari perhatian juga ya mbak, aku juga punya anak asuh demikian hrs sabar banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya meyakininya demikian. Bayi siapapun asalnya belum punya sikap. Mereka hanya meniru dan ingin ditemani..

      Hapus
  2. Saya berusaha untuk tak pernah menyematkan kata nakal pada anak-anak. Bahkan kala orang tua saya berpesan pada anak-anak dengan kalimat "Jangan nakal ya..."
    saya pun segera mengingatkan orang tua untuk tak menggunakan kalimat itu lain kali.

    Namun kadang kata nakal ini malah diperoleh anak dari lingkungannya. Pernah anak saya pulang dari bermain, menangis dan mengadu karena ada tetangga yang mengatakannya sebagai anak nakal. Kalau sudah begini, saya cuma bisa menenangkan anak. Mau komplain ke tetangga, nggak enak juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya saya paham masalah begini. Dulu pun saya sering mengalami, orang lain sering beda pemikiran. Sebisanya saya jelaskan pada anak-anak saja kalau sudah begitu

      Hapus
  3. Saya miris liat banyak anak2 yang sering dikata2in bodoh, nakal, bandel, atau kata2 kasar lainnya sama orang tuanya sendiri. Di daerah2 tertentu, yg seperti itu masih banyak.

    BalasHapus