Total Tayangan Halaman

Mengatasi Perseteruan Kakak Adik

by - Februari 02, 2018



Teman-teman saya sering bertanya, kedua anak kami tentu tidak pernah berseteru. Karena jarak usia mereka kan lumayan jauh, 5,5 tahun. Apalagi si sulung perempuan dan adiknya laki-laki. Karena biasanya, anak laki-lakilah yang kerap berseteru kalau sudah berkumpul di rumah.

Eh siapa bilang?

Karena jarak usia dan jenis kelamin tidak menjamin rumah sepi dari gontok-gontokkan anak-anak. Padahal mereka cuma berdua. Mungkin karena berdualah tidak ada yang menjadi penengahnya. Coba kalau ada tiga?*eh...

Keisengan si adik justru ketika sudah menjelang remaja. Kalau masih anak-anak dulu sangat jarang mereka berseteru. Mungkin karena si kakak perempuan ya, jadi lebih pandai menjaga adiknya. Soal rebutan mainan, jelas nggak, karena ketika saya melahirkan Rayyan kakaknya sudah di akhir TK-B. Mainan si kakak juga bukan karakter adiknya. Kakak mainannya masak-masak-an berlaku seperti ibu-ibu, si adik sering berperan jadi anaknya. Jadi klop. Baru berseteru kalau adiknya bosan diperlakukan seperti anak bayi, wkwkwk...

Beberapa teman saya ada yang anaknya laki-laki semua. Ada yang pas bersebelahan rumah malah. Ya memang seru, kadang saya senyum-senyum sendiri kalau mendengarkan mereka adu argumen. Lama-lama ada yang nangis. Baru kalau mereka dibiarkan tidak berhenti gontok-gontokkan, umminya akan turun tangan. Yang sedang berseteru dikeluarkan dari dalam rumah. Tidak menunggu lama, akan terdengar teriakan mereka minta maaf, tidak mengulanginya lagi dan macam-macam permohonan lainnya.

Lucu, saya jadi teringat pada anak-anak kami. Bahkan sampai sudah remaja pun, kalau kakaknya pulang, si adik masih sering menggoda. Mencari perhatian kakaknya, dirusuhin terus sampai si kakak uring-uringan. Kalau isengnya kambuh, apa yang diucapkan si kakak diikutin, dibantah-bantah. Pokoknya sampai kakaknya merasa kesal.  Syukurnya si kakak tidak mau main fisik, paling banternya, kalau geram dia teriakkan nama adiknya. Minta tolong sama mamanya untuk mengatasi keisengan itu.

Walaupun si kakak yang sulung, tapi sering terbalik, justru kakaknya yang manja sama adiknya. Si adik gaya dan ucapannya serasa dialah sang abang.



Anak-anak,jika berjauhan saling mencari, saling merindukan. Kalau berkumpul di rumah kruntelan, nyanyi bareng, tertawa-tawa, ngledekin mamanya yang katanya cupu, tapi kadang berdebat juga. Gendong-gendongan, menasihati, ledek-ledekkan, tapi kadang saling marahan untuk perkara sepele.

Sebenarnya ketika sedang berseteru, mereka sedang mempertahankan pendapat atau pilihannya. Sah-sah saja sebagai pelajaran untuk melatih sikap ketika berhadapan dengan orang lain. Asalkan tidak saling adu fisik dan menggunakan kata-kata yang tidak pantas, semuanya masih dalam batasan yang wajar.

Tidak mungkin manusia hidup tanpa masalah, bukan? Tetapi cara kita ketika menghadapi masalah menunjukkan kualitas diri. Agar perseteruan diantara kakak adik tidak berlebihan dan berujung saling menyakiti, ada baiknya kita memberikan pendidikan karakter seperti berikut ini:

-          Tauladan dari orangtua
Sikap orangtua ketika di rumah merupakan pendidikan yang langsung mereka lihat setiap hari. Lebih dari sekedar pendidikan teori. Oleh karena itu, sikap orangtua di rumah ketika berbeda pendapat dengan pasangan harus menyontohkan sikap yang tetap terkontrol. Jangan sesekali memukul dan melontarkan kata-kata yang tidak pantas.
Jauh lebih baik menghindari perdebatan di depan anak-anak.

-   Latihlah anak mengatasi masalahnya sendiri
 Yang dimaksud dengan mengatasi masalah sendiri adalah, jangan langsung menengahi mereka dengan mengambil kesimpulan. Biarkan kakak adik mengatasi masalah mereka sendiri. Dengarkan baik-baik apa yang mereka permasalahkan. Jika mereka mengalami kebuntuan, barulah orangtua boleh turun tangan. Tapi dengan syarat tidak memihak pada salah satunya, dudukkan masalahnya sesuai dengan keputusan yang benar.

-          Mengajarkan saling berbagi
Bukan hanya berbagi makanan, untuk mainan juga jangan memberikan dua benda yang sama dengan tujuan mereka tidak saling berebut. Dengan mainan yang berbeda mereka bisa diajarkan untuk meminjamkan dan berbagi dengan saudaranya. Dalam situasi ini mereka akan belajar cara menunggu, bersabar dan tidak menang sendiri.

-          Harus saling menghormati
Kakak dan adik harus saling menghormati satu sama lain. Tidak boleh saling memanggil dengan sebutan yang memalukan. Kakak harus member contoh yang baik dan adik harus menghormati sang kakak.

-          Mengadakan perjalanan keluarga
Biasanya ketika bepergian akan terjalin kedekatan yang berbeda dari kondisi biasanya. Dimana masing-masing anggota keluarga akan saling peduli, menjaga dan mengingatkan agar tidak ada yang tertinggal. Hal semacam ini belum tentu terjadi ketika berada di rumah sendiri. Selain itu, moment perjalanan akan memberikan suasana dan pengalaman baru bagi semua anggota keluarga. Mereka akan mengenangnya sebagai kenangan berharga.



Namun demikian, setiap keluarga punya gaya berbeda dalam kesehariannya. Ada yang suasana rumahnya selalu ramai dengan canda anak-anak. Ada pula sebuah keluarga yang selalu sunyi senyap, meskipun di rumah itu anggota keluarganya lengkap berkumpul.

Kedua orangtualah yang memiliki peranan penting dalam membina karakter anak-anaknya. Apakah kita pasangan yang terbuka, ataukah selalu kaku sikapnya?
Hemm...hanya keluarga kita yang tahu...😁






  

You May Also Like

3 komentar

  1. anak-anakku juga kadang suka ribut di rumah tapi abis ribut baikan lagi ga lama ribut lagi padahal jarak mereka agak jauh 5 tahun. di kakak (laki-laki) suka iseng sama adiknya heheheh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah jatak usia anak kita nyaris sama ya? Tapi kalau saya adiknya laki-laki yang iseng hehehe

      Hapus
  2. Beberapa waktu lalu di kelas kami membahas tentang sikap yang membangun dan mengurangi rasa persatuan di lingkungan keluarga dan sekolah.
    Nah, untuk lingkungan keluarga, paling banyak membahas tentang hubungan kakak-adik yang kerap gak aku.
    :-D

    BalasHapus