Total Tayangan Halaman

Peran Mak Comblang dari Sebuah Perjodohan

by - Februari 22, 2018

Masa iya ada yang belum tahu istilah mak comblang? Nggak yakin saya...πŸ˜‚

Mak comblang versi saya, seseorang yang menjadi perantara dua orang berlainan jenis  yang berniat untuk membina hubungan rumah tangga. Bukan melalui cara pacaran, mak comblang itulah yang menengahi pemberian data bagi kedua belah pihak. Nyaris-nyaris samalah dengan proses ta’aruf.

Anda pernah dicomblangi, nggak?
Kalau saya nggak pernah. Masa hidup di zaman jahiliyah dulu, semua saya urusin sendiri. Karena saya lebih suka mengenal kepribadian seseorang terlebih dahulu, baru witing tresno jalaran soko kulino. Maksudnya, saya lebih suka kalau jatuh cinta pada seseorang yang semula hanya teman biasa. Jadi terus terang, saya itu bukan penganut paham “Love at the first sight”.

Bukan falling in love at the first sight πŸ˜‚πŸ˜‚


Pernahkah Anda memiliki pengalaman menyomblangi orang?
Saya pernah, lebih dari dua kali malah. Mengapa mereka bisa saya comblangi? Kebetulan saja kayaknya, entah dari mana jalannya bisa melakukan itu, yang pasti karena digerakkan Allah. Bahagia loh rasanya kalau bisa menjodohkan seseorang, lalu mereka berjodoh, dan rumah tangganya bahagia.

Padahal resikonya besar, karena bisa saja seseorang yang semula berkarakter baik, di tengah jalan mendapatkan banyak masalah dalam rumah tangganya. Mungkin saja toh, namanya juga hidup di dunia, tentu saja melewati berbagai ujian agar bisa naik kelas.

Jika hal itu terjadi, apakah mak comblang bisa dipersalahkan karena menjodohkan dengan orang tersebut?
Saya tidak setuju kalau dikatakan salah mak comblangnya. Mak comblang bukan seseorang yang maha tahu, bukan? Wong yang dijodohkan itu dua manusia dewasa kok. Masa iya orang dewasa sikapnya meski dikontrolin terus? Mak comblang kan bukan emaknya? Emaknya saja tidak dibenarkan jika terlalu mengatur rumah tangga anak-anaknya. Iya, kan?πŸ˜‚

Mencari pasangan hidup, kalau bagi saya bukan perkara mudah. Karena harus ditelusuri rekam jejak dari calon yang diinginkan. Bukan perkara materi, bagi saya loh ya, karena materi bisa dicari, asalkan keduanya punya komitmen untuk menata kehidupan mereka. Yang nomor satu kriteria saya dari akhlaknya.

Kalau seseorang berakhlak baik, tentu akan menjaga perasaan pasangannya, bertanggung jawab semampunya dan tidak menyia-nyiakan kepercayaan.

Anak SD juga tahu, kalau bisa cari pasangan hidup yang memiliki nilai unggul dalam segala bidang. Dia rupawan, kaya raya, baik budi pekertinya dan setia. Hem..adakah seseorang yang sesempurna itu di dunia ini? Terus nanti ada yang bilang, jadi mau dikasi makan apa kalau nggak kaya?

Yang dicari ini pasangan hidup, untuk membina rumah tangga yang damai, bukan cari seorang  penyandang dana. Kalau yang dicari penyandang dana, tiba-tiba bangkrut, lantas ditinggalkan? Memangnya  klub sepak bola?

Dan maaf nih loh ya, yang tajir melintir itu ada, tetapi mereka memiliki pasangan, dan mereka memulainya dari nol dengan pasangannya. Lalu Anda tiba-tiba mau nyalip di tengah, nggak kasihan apa sama pasangan sejatinya? Punya hati nggak? Yang berprinsip demikian mungkin ada, cari pasangan tajir, yang kekayaannya tujuh turunan nggak bakalan habis. Ya terserah saja, bebas, namanya juga prinsip, toh? Resiko tanggung sendiri.

Kriteria di atas tersebut yang selalu jadi patokan bagi saya ketika menyomblangi seseorang. Pertama sekali yang saya sampaikan adalah mereka seiman, selanjutnya yang saya katakan,"Dia tidak rupawan, tetapi insya Allah sejauh yang saya tahu akhlaknya baik. Pun demikian dengan keluarganya."

Bukan maksudnya menghina fisik seseorang, tetapi lebih baik saya katakan urusan penglihatan mata pertama sekali. Karena tidak bisa dipungkiri, penglihatan ini kerap menilai hal luarnya. Jika secara mental sudah saya siapkan dulu, ketika pertama kali ditemukan, tentu beda lagi penilaian mereka terhadap calon tersebut. Nyatanya menurut mereka tidak seperti yang saya katakan di awal, masalah tampangnya, maksudnya..😁

Rupawan itu kan relatif, ya? Menurut kita tidak indah, eh ternyata menurut seseorang menyenangkan kalau dipandang. Mungkin itu namanya jodoh. Cara pandangnya sudah melibatkan ketakwaan seseorang.

Pernah suatu hari, ada yang berkomentar tentang wajah istri dari seseorang yang saya comblangi,"Ih siapa sih yang ngejodohin, suaminya ganteng, istrinya kok lugu begitu?"
Tapi ternyata, seiring berjalannya waktu, istrinya tersebut sabar dan takwa sekali. Sabar menghadapi naik turunnya masalah hidup bersama suaminya. Yang kalau menurut penilaian kami, orang-orang yang mengenal mereka, sulit untuk sanggup bertahan. Mungkin karena kaminya yang belum takwa ya...πŸ™πŸ˜₯

Tapi ngomong-ngomong, pernahkah ada yang tidak cocok?
Ya adalah...beberapa ada yang tidak sreg. Ya santai saja, jangan dipaksa, jangan juga dibebani. Namanya juga usaha, perkara hasil mari kita bertawakkal kepada Allah.

Tulisan ini bukan bermaksud endorse ya? Jangan salah loh, cuma berbagi pengalaman seru saja. Serius...✌✌πŸ˜‚

Mereka anugrah terindah dari Allah buat kami 😍😍

























You May Also Like

4 komentar

  1. Hehehe semoga jasa jadi makcomblangnya dibalas dengan pahala yang berlipat ganda Amin.. Saya salah satu orang yg sering di comblangin sama teman. Mulai dari teman kuliah, teman kantor, sampe tetangga. Tetapi entah kenapa blm ada yg sreg dgn hati saya.. Pdhal saya bukan terlalu pemilih, tetapi cuma gak klop saja di hati. Ato mgkin sy yg blm siap untuk berumah tangga, mkx blm ketemu yg cocok heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga segera menemukan jodohnya ya Mbak. Bukan orang jauh-jauh, sudah kenal begitu...��

      Hapus
  2. Jarang nyomblangin saya , Mbak..Sekalinya nyomblangin eh kena batunya. Jadi adik ipar-perempuan sampai lebih tiga puluh tahun belum nikah juga. Semua berusaha nyomblangin. Saya ada teman kuliah saya kenalin lah mereka. Ingat saya si cowok ini baik, -dulunya. Eh ternyata waktu mereka pendekatan, ternyata ketauan dari segi finansial agak enggak beres cowok itu. Dia udah pinjam-pinjam uang sama adik. Akhirnya adik batalin saja pedekate nya. Terus akhirnya nikah sama yang dicomblangin temannya.

    Nah, sampai sekarang Ibu Mertua kadang sering ngungkit soal cowok itu..katanya saya enggak mikir apa waktu itu..kwkwkwk. Lha, meneketehe kalau orang pas sudah dewasa berubah ya. Dulunya kalem, eh sekarang beda lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wadduhh...syukurnya gak jadian ya...
      Baguslah ketauan di awal perubahannya. Kalau gak, ruepotlah

      Hapus