Total Tayangan Halaman

Tips Mengatasi Kerinduan Pada Anak yang Sedang Merantau

by - Januari 11, 2018

Kelas 5 SD, suka narik-narik jilbab instannya


Ketika merindukan anak yang berada di perantauan, kadang saya makan makanan yang paling disukainya. Tapi kadang justru menghindari makanan atau kegiatan apapun yang membuat rindu padanya semakin parah.

Kalau saya tanya pada semua orangtua di dunia ini, tidak ada satu hari pun yang kita lewatkan tanpa mengingat anak-anak sendiri. Terlebih bila mereka berada jauh dari kita, bukan?

Dulu saja, sewaktu Syafira masih duduk di bangku SD, setelah keberangkatannya ke sekolah naik angkot, saya didera perasaan bersalah. “Kok aku enak-enakan tidur siang di rumah? Sedang anakku naik angkot di siang bolong begini? Sendirian lagi?”

Padahal anaknya asyik-asyik saja pergi ke sekolah dengan senang hati. Padahal lagi, anaknya senang bertemu dengan teman-temannya di sekolah setiap hari. Buktinya, setiap pulang sekolah selalu saja ada celoteh riang menceritakan pengalamannya.

“Memangnya anak mau dikekepin terus, apa?” begitu kata suami kalau tiba-tiba saya mengeluh rindu. Saya yakin beliau juga rindu, tapi laki-laki selalu sanggup menyembunyikan perasaan melownya.

Kelas 1 SMP, giginya masih berantakan, wkwkwk....


Apakah emak selalu melow, ya?

Ini daftar kemelow-an saya, yang kadang-kadang dianggap lebay oleh suami dan kedua anak kami.

-       Dengerin lagu Fix You-nya Coldplay jadi sendu, dulu sering dinyanyikan bareng Rayyan sambil gitaran di kamar. Rayyan nggak bisa main gitar sambil nyanyi. Jadi kalau ada lagu yang dia bisa dimainkan musiknya, si Kakak yang disuruh nyanyi. Suara kakaknya cukup indah untuk konsumsi kamar. Selebihnya saya yakin dia nggak tahan dengan nada tinggi, hahaha...

-          Dengerin lagu Kisah Klasik-nya Sheila On 7 jadi sedih. Syafira sedih juga kalau dengerin lagu ini, teringat sahabatnya di SMA. Nah ini, saya ikutan terbawa perasaan dengan bait-bait lagunya. Semacam cambukan berat untuk berpisah meninggalkan masa remaja dan bersiap menjeput masa depan. Kalau musim liburan, saya sering merasa, nih bocah-bocah pada ngumpul mengenang persahabatan mereka. Tapi karena beda kampus dan jurusan, bisa ngumpulnya hanya saat libur lebaran.

-          Kalau lihat buah jambu air yang rasanya asem-tawar (jambu air kampung) jadi teringat Syafira. Dia paling suka makan jambu air pakai garam. Jadi kalau lihat jambu jenis ini kadang saya membelinya beberapa buah. Kadang malah menghindarinya sama sekali.

-          Masak teri nasi pakai  rajang cabe ijo sudah pasti teringat Syafira. Ini salah satu masakan saya yang paling ia gemari. Kalau makan sampai bersih, teri dan cabenya tidak tersisa. Meski kepedesan, tapi semangat ngemilin cabenya tidak berhenti , walau mukanya sampai merah padam. Nggak ada Syafira, selalu teri sambal cabe ijo itu tersisa sampai esok hari. Kalau ingat ini jadi nelangsa. Dulu jika saya masak menu ini, kalau mau makan dia nunggu yang lain sudah selesai duluan. Karena sambel ini akan dihabiskan olehnya. Sedihnya, karena dulu sering kuingatkan agar menyisakan adiknya, jangan dihabiskan. Padahal adiknya makannya cuma seuprit, dan dia sering gemes karena selera makannya sudah tercegah. Disisakan malah nggak habis. Duh kaaaan...saya jadi merasa bersalah, hiks...
 Makan jambu air pakai garam, adalah kesukaan Syafira


Tidak ada orangtua yang ingin berjauhan dari anak-anaknya. Jika bukan karena keterpaksaan, pasti semua memilih tetap berdekatan hingga ajal menjeput. Tapi mereka punya hak untuk meraih cita-citanya. Khususnya bagi yang merantau karena belajar. Kenapa tidak memilih perguruan tinggi yang satu kota saja sih?

Dulu saya juga berpikir begitu. Sempat menawar agar Syafira mempertimbangkan untuk kuliah di Medan saja. Selain beberapa alasan, merantau akan memberikan pelatihan bagi dirinya agar mampu hidup mandiri jika dewasa kelak.

Saya pernah ditanya oleh seorang teman, ”Kok diperbolehkan sih anaknya merantau di lain kota? Perempuan lagi...” Memperoleh pendidikan tidak mengenal genre kan, ya? Itu alasan kuatnya.

Namun, sebelum Anda memutuskan mengizinkan anak merantau untuk sekolah, sebaiknya kenali dahulu pribadi mereka. Jangan sampai mereka bertambah rusak kehidupannya tersebab anak justru memanfaatkan jauh dari orangtua untuk hidup bebas.

Saya pernah mendapati seorang anak sejak tinggal dengan orangtua saja sudah gemar bermain judi. Walhasil, uang kiriman dijadikan untuk modal main judi dan kuliahnya tidak pernah selesai. Padahal keluarganya sangat membanggakan anak laki-lakinya yang anak kuliahan.

Jika anak-anak sejak tinggal bersama sudah menunjukkan sikap yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, maka jangan pernah kecewakan mereka. Ibarat kata, berhutang demi membiayai pendidikan mereka pun perlu kita lakukan!

Lalu apa usaha saya untuk menghibur hati bila rasa rindu pada Syafira sangat mendesak? Saya sering menangis diam-diam bila merindukannya. Apalagi bila mengingat masa-masa kecilnya, rasanya waktu cepat sekali berputar. Baru beberapa saat yang lalu melihat gadis kecil dengan jilbab imutnya, yang sebentar-sebentar ditarik ke belakang karena hampir menutupi keningnya.

Saya akan berpikir ulang pada kodrat kami sebagai orangtua. Kita hanya diamanahi mendidik dengan benar, membekali mereka dengan ilmu yang bermanfaat. Anak bukan milik kita, ada yang lebih berkuasa dalam menentukan takdir mereka.

                         Dia sudah dewasa...

Dengan berpikir hal itu, saya akan terhibur, kembali merasa lega dan tenang. Tapi sebagai seorang ibu tetap saja pikiran rusuh hinggap kembali, yaitu rindu.
Apakah anak tidak merindukan orangtuanya? Hehehe..sering saya tanya pada Syafira,”Kak, Kakak gak rindu ya sama Mama?”

Ia menjawab,”Ya rindulah, Ma. Tapi kalau Kakak mewek nanti Mama bingung, lebih mewek lagi, trus tangis-tangisan,” Hahaha...iya, memang saya begitu. Saya tidak bisa melihat orang menangis. Kalau nonton film atau baca cerita sedih, saya menangis sampai mata bengkak-bengkak.

Untuk urusan tangis-tangisan ini, sahabat saya sampai geli dan heran. Pernah sewaktu keluar bioskop mata saya bengkak dan kelopaknya kemerahan karena menangisi alur cerita film. Padahal yang ditonton film Critical Eleven, Possesif, Dear Nathan, coba bayangkan halusnya perasaan ini, wkwkwk...

Jadi, apakah Anda siap merelakan anak-anak menuntut ilmu di luar kota/negeri? Mungkin yang anaknya masih kecil masih  berpikir,”Jangan ah, nanti rindu, makannya bagaimana, tidurnya, apalagi kalau mereka sakit?”

Sekarang mudah berpikir begitu, tapi kelak jika mereka sudah besar kita harus merelakan. Bersiaplah menjadi orangtua yang ikhlas. Karena mereka punya pilihan, tugas kita hanya melaksanakan kewajiban, mengasuh dan membiayai hingga mereka menjadi mandiri.

                     Usaha meraih cita-cita

Selamat merindu, Sri...


#SatuHariSatuKarya


You May Also Like

0 komentar