Total Tayangan Halaman

Damainya Pagi di Pulau Poncan Sibolga

by - Januari 09, 2018



    

                       Sepagi ini kami sudah menelusuri tepian pantai berpasir putih


Pulang liburannya sih sudah sejak tanggal 2 Januari 2018 yang lalu. Tapi mood menulisnya baru kesampaian hari ini. Padahal kata orang-orang, berada di sebuah pulau terpencil dengan deburan ombak dan semilir angin itu bisa menambah inspirasi menulis.

Dan karena pameo itu saya sempat bawa-bawa laptop ke sana. Hihihi...jangankan bisa menulis dengan khusuk, duduk manis menyendiri saja rasanya rugi. Mana mungkin menyendiri, datang liburan ke sana beramai-ramai bersama rombongan, lima keluarga loh. Rencananya malah enam, tapi satu keluarga lagi  menyusul ke kota Sibolga saja. Sesudah kami pulang dari Pulau Poncan.

Berlibur ke Pulau Poncan sudah lama kami rencanakan. Beberapa liburan terlewati, dialihkan ke tempat lain. Selain medannya yang dinilai masih buruk, jarak tempuhnya juga belasan jam dari kota Medan. Tapi yang paling membuat ketar-ketir ya memang jalan menuju ke kota Sibolga itu. Masih sangat mendebarkan bagi yang belum terbiasa menempuhnya. Kondisi jalan yang membuat kami menunda-nunda petualangan, cieehhh gayanya...

Formasi anak-anak yang tidak lengkap, sebenarnya lebih banyak kalau ikut semua rombongan 


Ini perjalanan kedua kami mengendarai mobil dengan jarak tempuh berbelas jam. Yang pertama ketika menuju Pulau Sabang. Kenapa mengendarai mobil? Ya karena menjajal kemampuan para bapak nyetir jarak jauh, hehehe...

Nggak deng, memang sudah direncanakan, karena pergi ramai-ramai seperti konvoi itu seru. Singgah-singgahnya juga bikin ngangeni. Pasti capeklah, terutama bagi yang nyetir, tapi istirahat beberapa jenak guna meregangkan otot adalah moment yang paling mengesankan. Banyak suasana yang bisa jadi kenangan tersendiri. Karena pastinya, banyak peristiwa lucu yang terjadi.

Perjalanan kami kali ini meninggalkan kesan yang berbeda dengan perjalanan-perjalanan terdahulu. Kok perjalanan-perjalanan? Ya memang sudah berbelas kali kami liburan bareng begini, sejak Rayyan dalam kandungan malah. Nah sekarang Rayyan berusia 14 tahun, nyaris tiap semester liburan bersama. Belum lagi yang pergi di luar liburan semester, karena kami sering juga ngaji keluarga ke puncak, sekedar penyegaran, tadabbur alam istilahnya.

Kesannya begini, dua keluarga berencana berangkat terlebih dahulu. Dua orang bapak ada yang kurang nyaman kalau berkendara malam hari. Start pagi-pagi sekali, sekitar pukul 06.30. Rencananya sudah manis disusun, tapi ditakdirkan berbarengan juga sampainya ke Pulau Poncan.  Karena, ketika belum seberapa jauh meninggalkan kota Siantar, mobil salah satu sahabat menabrak sebuah mobil van mini. Mobil itu baru, gres keluar dari showroom, joknya juga masih berbungkus plastik.

                                                         Never forgetlah, little insident

Tabrakannya tidak terlau keras, malah mobil sahabat kami yang sedikit penyok. Bukan penyok parah sih, kap bagian depan saja yang agak terangkat. Sedang mobil yang ditabrak hanya menggores bagian lampu belakang sebelah kiri. Tapi ganti rugi yang diminta sebesar 4,5 juta rupiah boo...Karena katanya lampu itu harganya mahal. Terlebih lagi karena itu mobil baru.

Ya sudahlah, kita jangan fokus ke mobil yah. Kok saya jadi mau mengulas dalam sekali masalah kecelakaan kecil ini sih? Padahal mau cerita tentang perjalanan ke Poncan, kan? Tapi sebenarnya asli bikin geregetan sikap pemilik mobilnya loh.

Rencana tiba ke destinasi lebih awal jadinya batal. Kami singgah ke kota Parapat untuk menginap. Padahal rombongan awal ini tidak merencanakan menginap di Parapat saat perginya, mau langsung ke kota Sibolga. Tapi urusan mobil yang harus masuk bengkel untuk ganti aki tersebut sudah memangkas 5 jam waktu yang kami miliki.

Kok sampai selama itu? Iya, cari-cari bengkel resmi di kota Siantar masih sulit, ternyata. Syukurnya ada yang masih buka meskipun hari sudah menjelang pukul tiga sore. Alhamdulillah, Allah maha baik, kami masih bisa meneruskan perjalanan dengan aki yang cuss...(pemilik salah hitung jadwal ganti aki, selain itu kejadian saat tabrakan karena mengerem tiba-tiba sempat membuat aki ngedrop). Tadinya ada wacana balik Medan kalau nggak bertemu bengkel untuk memeriksakan kondisi mobil. Bayangkan saja, nggak mungkin rasanya di tengah perjalanan harus mendorong mobil yang mogok tiba-tiba. Ih...serem. 

Diputuskan untuk menginap di kota Parapat. Keputusannya juga bisa dibilang dadakan, seusai sholat maghrib. Syukurnya sekarang zamannya oneline, bisa buka aplikasi untuk mengecek hotel yang masih memiliki kamar kosong. Wih bener-bener deg-degan juga, takut kalau tidak kebagian. Soalnya musim liburan akhir tahun. Tapi untuk meneruskan perjalanan ke Sibolga bukan suatu pilihan.  Seandainya tidak kebagian kamar, mungkin tidur di masjid jadi pilihan akhir, hahaha...

Alhamdulillah, masih ada penginapan sederhana yang letaknya juga tidak jauh dari kota Parapat. Sederhana sekali tetapi bersih. Seharusnya kami butuh empat kamar, tetapi hanya tersisa dua kamar. Ya weslah, langsung order, syukurnya masih ada kasur tambahan. Sebagian tidur di atas tempat tidur, sebagiannya lagi di bawah. Bapak-bapaknya tidur dengan para anak lelaki. Sedang para ibunya tidur dengan anak perempuan.

Eh, tunggu, di kota Parapat itu ternyata ada sebuah cefe lucu yang berkonsep Kantor Pos loh. Banyak sekali pengunjungnya. Tidak hanya kalangan anak muda, banyak keluarga yang datang silih berganti ke sana. Lumayan instagramable juga untuk ukuran daerah sana. Kebanyakan tempat makan di sana nuansanya seperti rumah makan biasa. Tempat nongkrong kekinian sepertinya masih jarang.


                                        Yey, disempetin futu-futu, kalau liburan boleh alay...

Desainnya unik, mereka memajang satu mobil model VW zadul yang di dalamnya memuat satu set meja dan kursi bersantap. Letaknya bukan berbaris, melainkan saling berhadapan. Ada juga motor vesva yang sudah dimodifikasi dengan cat genjreng warna-warni. Dinding-dinding cafe penuh dengan pajangan tulisan yang berhubungan dengan filateli dan surat-menyurat.

Duh... Saya malu untuk fotoin sudut itu satu per satu. Soalnya pengunjung yang ke sana sepertiya datang dengan perut lapar. Jadi makannya cukup serius, nggak pakai foto-foto cantik gitu. Mungkin mereka sudah biasa dan penduduk tetap daerah Parapat ya. Kalau saya kan masih norak, baru lihat cafe itu pertama kali sih...

Besoknya, pagi-pagi sekali kami sudah melanjutkan perjalanan menuju Pulau Poncan. Tiga keluarga yang berangkat sore hari dan menginap di Siantar, sudah tiba. Lima mobil berderet-deret melanjutkan perjalanan. Pada saat ini, kondisi jalan menuju ke Sibolga dan seterusnya sedang dalam pembangunan. Jalan yang kami lintasi sudah mulus, tetapi ada sebagian yang masih digarap. Melintasinya harus hati-hati, bila berselisihan laju kendaraan mesti dilambatkan. Selain jalanan yang berkelok-kelok, luas badan jalan juga tidak terlalu lebar. Yang paling bikin sport jantung bila berpapasan dengan truk-truk besar.

Tiba di Sibolga sudah tengah hari. Sempat bersantap di sebuah rumah makan muslim yang letaknya berseberangan dengan Masjid Agung Sibolga. Saya suka warna cat mesjid itu, mengingatkan pada cake coklat yang lezat. Entahlah, ingatnya kok pada makanan terus. Liburan memang begini, erat badan tidak terpeduli.


           Benar kan, atau perasaanku saja, catnya mengingatkan pada kue coklat, bukan?


Ketika akan menyeberang ke Pulau Poncan, cuacanya hujan rintik-rintik. Anginnya lumayan kencang, menambah suasana dingin yang segar. Semua bersemangat menuju ke sana. Butuh waktu kira-kira 25 menit untuk sampai ke pulau tujuan. Kedatangan kami disambut hujan yang makin lama makin deras. Anak-anak bukannya berteduh, mereka malah nyebur mandi di pantai. Saya tidak berencana mandi sejak awal, langsung menuju ke kamar, mandi dan beristirahat.

                                                                    Hei...anak muda...


Saya dulu sering berkhayal berada di tepi pantai yang berpasir putih. Berjalan tanpa alas kaki, kemudian deburan ombak pecah di ujung-ujung jemari. Dan baru di usia lebih dari empat puluh tahun keinginan itu dikabulkan Allah.

Ada nggak yang masih ingat lagu “Kemesraan” milik Iwan Fals? Pada lagu itu terdengar deburan ombak dan cericit burung camar, kan? Nah saya kira itu bukan suara ombak sesungguhnya. Ternyata suara-suara alam itu memang benar adanya. Saya menyaksikannya sendiri di pulau ini. Duh, sampai sekarang masih terasa damainya suara-suara itu.

 
                                                  Foto bersama, mengakhiri petualangan


Yang paling terkenang ketika mengawali hari di sana. Udara pagi sangat sejuk, suasanaya hening. Orang-orang belum keluar dari kamarnya. Pulau itu masih sepi serasa milik pribadi. Sebelum tengah hari kami sudah meninggalkan pulau itu.

Hingga sekarang, saya menyimpan semua keindahan itu dalam ingatan.   



   
  


You May Also Like

6 komentar

  1. Pernah ke Sibolga sekitar 14 tahun yang lalu. Jalanannya memang seram ya Kak. Berkelok-kelok, dipinggirnya langsung jurang hahahaha.. Harus banyak-banyak doa biar sampai dengan selamat.

    Tapi makanan ikannya segar-segar. Mungkin karena dekat pantai.

    Semoga next time bisa kesana lagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanan dari menu ikannya memang segar-segar. Jalannya sekarang sudah bagus. Hanya kelokannya gak mungkin diluruskan wkwkwk

      Hapus
  2. Sayangnya saya belum sempat ke Sibolga selama dulu di Sumatera Utara...
    Keren banget itu pantainya, pulaunya..masih bersih, pantai di Jawa banyak yang sudah kusam ..
    Senangnya liburan rame-rame..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Liburan rame-rame, bisa menekan budget. Tapi yg paling penting keseruannya...����

      Hapus
  3. Kampungkuuuuu :D. Trakhir ke poncan 2016 lalu.. Stiap kali mudik ke sibolga sih, kita pasti ke poncan, bakar ikan mba.. Seruuu.. Ikan d sana seger2 bgt yaaa, di panggang pacak, coel pake sambel kecap, wiiihhh udh enaaak bgt..

    SUamiku yg orang solo, skr udh ahli nyupirin medan sibolga pp. Hahahhaa.. Awal2 dia jg seram ama medannya yg sempit apalagi di tarutung yg kiri tebing, kanan jurang wkwkwkw.. Tapi selalu seneng mba balik kesana. Ngelewatin batu lobang, takjub ngeliat terowongannya.. Gimanalah cara org dulu ngelobangi batu begitu yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aiiss...sekarang jalan dah bagus Mbak. Ya cuma di batu lobang itu yang masih gronjalan dikit..:D

      Hapus