Total Tayangan Halaman

Haruskah Perempuan Hancur Gara-Gara Pelakor?

by - Januari 31, 2018



Sebenarnya saya tidak suka ikutan trend membahas pelakor pada blog ini. Untuk dijadikan status pun saya malas menuliskannya. Saya lebih suka menceritakan sosok perempuan kuat dan tangguh yang sedang tersakiti.

Karena saya berpikir, pelakor itu juga perempuan. Tidak nyaman saya menjelek-jelekkan sesama perempuan. Takut jika aib yang sama akan menimpa saya.

Bukan berarti saya mendukung tingkah laku para pelakor, terus terang geramnya bukan main. Tapi memberikan dukungan semangat pada yang sedang mengalami ujian perasaan, jauh lebih bermanfaat. Urusan pelakornya biarkan Allah yang akan memberikan balasan.

Saya percaya, entah kapan dan di mana kejadiannya, perbuatan jahat akan kembali pada pelakunya sendiri. Ketika seseorang menyakiti orang lain, maka berarti dia sudah siap untuk disakiti pada suatu hari nanti. Dan ini bukan saja untuk kasus pelakor, juga berlaku pada perbuatan jahat lainnya.

Ini tentang sahabat saya. Ia sedang menata hidupnya kembali, menuju episode yang baru. Saya mau berbagi kisah kearifannya menghadapi masalah rumah tangganya.

Saya mengenalnya sudah cukup lama, bisa dikatakan kami bersahabat baik. Tapi semenjak kegiatan macan ternak selesai saya tekuni, kami sudah jarang bertemu. Paling banter chatting via WA. Itupun sudah jarang sekali.

Kabar terbaru darinya juga baru tadi malam saya ketahui. Sama sekali tidak tahu perkembangan dirinya, wong status di WA-nya juga jarang diperbarui. Dia bukan pengguna medsos akut seperti saya, facebook saja dianggurin semenjak dibuat. Nol status...

Tadi malam saya meneleponnya. Entah dorongan dari mana, saya ingat dia. Saya hanya bertanya kabar anak-anak. Tapi selanjutnya dia menceritakan masalahnya.

Duh, rasanya tidak tega memutus telepon. Tapi suami sudah mengajak pergi, sebelumnya saya menjanjikan akan bersilaturahmi. Saya akan mendengarkan dia curhat, mungkin tidak memberi solusi. Tapi menjadi pendengar sesaat akan melegakan hatinya. Harapan saya begitu...

Bila melihat dirinya, kesan yang paling  melekat adalah "kuat dan tangguh". Kuat dalam arti sebenarnya, karena posturnya untuk ukuran perempuan memang cukup setronglah.

Tangguh, karena segala macam pekerjaan bisa dan dengan santai ia kerjakan. Jiwa bisnisnya tinggi. Apa saja yang bisa dijadikan bisnis halal akan ia jalankan.

Ia memiliki suami yang trendy, penyuka barang-barang mahal. Gayanya seperti anak muda, dipandang dari jauh cukup stylist, tapi kalau dilihat dari jarak dekat mukanya bikin nyesal karena tidak sengaja terpandang. Kesannya sombong, entah dibuat-buat atau sok jaim.

Walaupun bersahabat  sekian lama, dan Rayyan sering ke rumahnya, bahkan tidak pernah ditegur. Bayangkan saja, anak-anak sahabatan dengan anaknya pun belum pernah disapa.

Rayyan sendiri pernah bertanya kenapa ada bapak-bapak nggak suka sama anak-anak? Ya nggak perlulah bertanya macam-macam, senyum sedikit pun kata Rayyan nggak pernah.

Tapi bagaimana dengan penampilan sahabat saya ini? Ia saya kira cukup berusaha untuk mengimbangi, cuma memang penampilannya kurang pas kalau berjalan bersisian.

Namun, saya yakin, dulu sahabat saya ini cukup menawan. Masih ada sisa mata coklatnya yang indah. Kedua anaknya juga cantik dan keren. Warisan kecantikan mamanya cukup bisa dikenali pada wajah kedua anaknya.

Katanya mereka sudah tidak tinggal serumah dengan suaminya. Sudah sebulan. Belum bercerai, dia sedang menunggu ketegasan suaminya.

Sang suami rupanya sudah menikah lagi, selama dua tahun belakangan, tanpa sepengetahuannya. Dia tahu juga dari orang lain. Sahabat saya ini tidak pernah melihat gejala perubahan sikap. Sebab suaminya memang biasa cuek, biasa pulang larut, dan sejak pernikahan komunikasi memang selalu dingin.

Tapi sahabat saya selalu menerima kondisi suaminya yang irit bicara itu. Semua urusan rumah tangga ia yang mengatasi. Mulai dari bisnis keluarga hingga antar jeput anak. Ibaratnya, sepenuhnya si istrilah yang berperan besar terhadap anak-anak. Suaminya cuma urus bisnis di luar, olahraga, kotak-katik moge. Tapi yang paling marah kalau melihat nilai raport anaknya jelek.

Duh, saya dulu sering membatin, kenapa marah nilai anaknya jelek? Pernah peduli nggak? Tapi urung terucap, sebab sahabat saya enjoy saja. Sekedar cerita, bukan mengeluh ingin suaminya berubah.

Jadi ketika tadi dia bercerita, sedalam-dalamnya saya berusaha menyelami matanya. Membaca mimik mukanya. Ada getir memang, tapi sedikit. Matanya tidak berair, atau mungkin sudah mengering? Tapi yang kutangkap dia ikhlas.

"Sejak dulu hubungan kalian dingin, tapi kau terpukul juga ya dengan masalah ini?" selidikku sembari menatapnya tajam. Karena sejak dulu saya penasaran, ada cinta nggak sih di hati mereka? Kok bisa ya rumah tangga sedingin es begini?

"Aku tidak mau dengar dari orang lain, kudatangi perempuan itu. Bukan pernikahan mereka yang membuat aku sakit, tapi sikap perempuan itu sama sekali tidak bersahabat. Benci melihatku, bukannya merasa malu atau bersalah. Anakku sampai emosi, padahal aku berusaha tenang," katanya.

"Andai suamiku ingin poligami, sepertinya aku mampu melamarkan perempuan mana yang dia maui. Tapi dengan cara baik-baik, bukan malah mau menyerangku begitu." Oh sungguh...saya belum setenang itu seabdainya menghadapi masalah serupa ini.

Setelah masalah ini terungkap, suaminya bilang ia sudah mengurus proses perceraian dengan perempuan keduanya itu. Surat panggilan dari pengadilan agama sudah datang ke rumah.

"Loh berarti mereka menikah secara sah menurut negara, buktinya sampai urus surat cerai?" tanyaku heran, kok bisa?

Menurut sahabat saya, disitulah baru disadarinya, bahwa suaminya telah lihai memalsukan surat menyurat. Namanya pebisnis, tanda tangan surat itu hal biasa dan jadi makanan sehari-hari.

Saking percayanya pada suami, sahabat saya belakangan tanda tangan tanpa membaca berita acara.Langsung oret-oret. Maklum, emak-emak nyambi segala-gala, katanya. Saya bisa bayangkan kerempongannya setiap hari. Dulu saya sering menggodanya, "Macam tak belakik, ko Mak. Nyuci mobil pun dilakoni malem-malem."

Sahabat saya juga heran mengapa bisa terjadi peristiwa itu. Entah dipalsukan tanda tangannya atau memang ia yang tidak teliti membaca surat-surat. Tapi yang jelas suaminya melenggang pakai surat izin.
"Ya ampun, Mak, dikau sendiri berarti yang menandatangani surat izin menikah lagi itu?" kepo saya heran.

Tapi tunggu punya tunggu, proses cerai tak kunjung usai. Sahabat saya menunggu kepastian. Suaminya jika diajak bicara selalu menghindar. Ia merasa dipermainkan dan harga dirinya serasa dilecehkan.



Terlebih bila mengingat tanda tangan palsu itu. Kalau dulu dia terlalu percaya tanpa kecurigaan sedikit pun, sekarang justru tidak percaya sama sekali.

Berulangkali ajakan bicara tidak dilayani, akhirnya ia meminta suaminya pergi meninggalkan rumah. Katanya ia tidak sanggup berada satu atap dengan seorang pengkhianat. Sembari menunggu keputusan suaminya, bila benar akan menceraikan perempuan itu, seperti yang dikatakan. Atau berpisah dengannya, sebagai pilihan kedua. Jadi ia menunggu kepastian status.

Dia tidak menyesali apa yang sudah dilakukan selama ini. Memang begitu cerita yang harus dijalani. Tapi mengingat keadaannya selama ini, bersuami tetapi melakukan semuanya sendiri, apalagi dikhianati, rasanya lebih baik fokus saja ke anak-anak.

Anak-anaknya menguatkan ibunya. Bahkan mengikhlaskan ayahnya keluar rumah. Mereka merasa cukup memiliki ibu yang sudah mengasuh selama ini.

Sahabat saya ini begitu legowo, padahal secara kasat mata, ia masih jauh dari label muslimah sholeha. Tapi cara berpikirnya melampaui orang-orang yang sehari-hari berpenampilan ahli ibadah. Saya sendiri buru-buru mengaca pada dirinya, ya ampun, jauuuhhh...

Keikhlasannya yang dibalas pengkhianatan membuat saya terenyuh. Tidak ada dendam, apalagi emosi berapi-api.
"Aku gak mau ngancurin diri sendiri. Aku harus kuat, lebih baik aku berpikir bagaimana bisa memenuhi kebutuhan anak-anak." begitu penjelasannya.

Pembicaraan kami berlangsung tenang, tanpa air mata. Saya teringat bagaimana sikapnya selama ini. Selalu optimis dan positif thinking bila membahas seseorang yang berlaku negatif. Dia selalu mencegah pembahasan melebar apalagi berujung gosip.

Saya pulang dengan perasaan tenang. Setenang sikapnya, sedewasa cara berpikirnya. Padahal semula saya  begitu khawatir dia akan rapuh.
"Hidup bukan untuk menangisi masa lalu, tapi menata masa depan," katanya.

Terima kasih untuk pelajaran hidup hari ini, sahabat.












You May Also Like

10 komentar

  1. Terima kasih sharingnyaa mbaak. . Hidup terus berjalan, masa lalu adalah pelajaran dan guru baik untuk menata masa depan. . Salam kenal mbaak ya :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir. Salam kenal kembali dari saya..:)

      Hapus
  2. Salut dengan ketegaran dan ketegasan sang sahabat. Kiranya Allah memberikan kekuatan dan kesabaran yang berlimpah untuknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga kagum pada ketegarannya. Semuanya sudah terjadi, harus dijalani. Diratapi juga tidak berguna, yakan?

      Hapus
  3. ah, aku kok jadi nangis sih,a duh aku ingin kupeluk ibu itu huuuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesama perempuan kita ikutan hancur kan ya? Tapi belajar dari ketegarannya kita bisa kuat.

      Hapus
  4. Sedih banget Masya Allah.. owlakor ini lagi marak dimana2 . Bahkan galakan dan lebih berani pelakor loh mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jadi semacam kebanggaan bisa mengalihkan perhatian suami orang ke dia :(

      Hapus
  5. Salut buat ketegasan sang sahabat. Semoga tetap kuat membesarkan anak-anaknya sendirian

    BalasHapus