Total Tayangan Halaman

Marelan dan Gaya Hidup Masyarakatnya

by - Januari 13, 2018

Nongkrong sehat ala anak muda, ngebandrek

Saya tinggal di suatu tempat yang sedang menata diri untuk menjadi sebuah kota. Agaknya. Keramaiannya nyaris tidak terputus selama 24 jam. Bisa dikatakan pasar (pajak) Pasar 5, yang menjadi pusat berbelanja bahan kebutuhan sehari-hari “On” terus dari pagi ke pagi lagi.

Itu baru satu pasar ya. Ada beberapa pasar lain yang terletak di hampir setiap wilayah kelurahan. Jadi bisa dibayangkan, betapa padatnya jumlah penduduk kecamatan Medan Marelan ini.

Dulu orang merasa asing dengan nama Marelan. Rata-rata mengernyitkan alis kemudian bertanya letaknya. Masa saya sekolah dulu, jika ditanya alamat rumah suka bête duluan. Karena yang sudah-sudah selalu ditertawakan bila sudah kusebutkan namanya.

“Di mana, Marelan? Ada di peta, Sri? Tempat jin buang anak itu, kan?”

Susah payah menerangkan pun mereka akan bercanda nyaris sama. Kelihatannya teman-teman malas pusing membayangkan letaknya yang hanya bisa ditempuh dengan satu angkot. Bisa juga dengan becak, tapi anak-anak tentu jarang yang mau. Selain ongkosnya berlipat dari bayaran angkot, sepertinya becak sudah dipakemkan untuk penumpang dewasa, alias ibu-ibu, hahaha...

Tapi itu dulu ya, sekarang Marelan adalah tempat manusia buang duit!

Masyarakat yang tinggal di sepanjang jalan kecamatan Medan Marelan, sebahagian besar warganya hidup sebagai pedagang. Jalan Marelan Raya dihiasi dengan bangunan ruko tiga lantai. Jangankan yang berjualan makanan, outlet pakaian, toko handphone, mini market, toko bahan bangunan, dan masih banyak lagi, ada di sepanjang jalan ini.

Di Marelan juga sudah ada sebuah plaza. Plaza inilah yang menyebabkan warga Marelan enggan menuju pusat kota Medan lagi sekarang ini. Karena, meskipun hanya tiga lantai, sudah dilengkapi bioskop XXI. Jangan tanya banyaknya kendaraan, jika hari libur Marelan macet bermeter-meter. Oh iya, kolam renang saja jumlahnya sudah beberapa di sini.

Satu-satunya plaza yang terdapat di Marelan (sumutpos.co)

Bagaimana dengan tingkat keamanan dan kriminalitas? Hem...tiap kelurahan punya cerita tersendiri perihal masalah ini. Curanmornya hampir sama seringnya seperti di daerah lain di Indonesia. Peredaran narkoba? Juga sama beritanya dengan daerah lainnya di Indonesia. Jadi warga Marelan tidak lagi asing dengan segala macam berita yang menjadi resiko kota besar.

Cieh kota besar...

Iya cita-citanya begitu. Marelan menjadi daerah metropolis, ya setidaknya semi metropolislah. Tapi yang masih membuat miris, kemajuan itu belum disertai kesadaran warganya untuk menjadi warga yang bersikap maju. Bayangkan, saat pemerintah menyediakan dua trafight light di simpang empat yang ramai, masyarakat tidak menghiraukan keberadaan dan kegunaan rambu lalu lintas tersebut. Gagal total! Jangankan berhenti saat lampu merah, pengguna jalan yang berhenti malah dianggap aneh.

Sampahnya bagaimana? Ups, masih bikin pusing juga boo...

Tapi ada satu gaya hidup asyik dan sehat yang bisa saya nilai positif dari sebagian sikap anak-anak mudanya. Yaitu nongkrong di gerai minuman bandrek. Jika ngopi sudah dianggap kekinian, bandrek di Marelan sudah nyaris ramai pengunjungnya dengan tempat nongkrong lainnya. Padahal Marelan itu bukan daerah yang bersuhu dingin. Sedingin-dinginnya Marelan, masih belum membuat warganya berjaket tebal atau krukupan sarung sepanjang hari.

Apakah karena minuman bandrek jauh lebih murah harganya dari secangkir kopi? Mungkin juga ya? Tapi kalau menurut saya sih karena bandrek itu menyehatkan dan sesudah meminumnya tubuh menjadi hangat.

Yang saya lihat, anak-anak muda maupun pengunjung lainnya menjadikan tempat minum bandrek itu sebagai ajang bertemu dengan komunitas maupun teman. Mereka tidak sekedar minum tetapi ngobrol berlama-lama. Karena bandreknya diminum lambat-lambat, perkiraan saya malah sudah sedingin cuaca Desember ini. Kalau saya dan suami minum dalam kondisi bandrek sedang hangat-hangatnya, langsung cess di tenggorokan. Paling lama nongkrong di situ 20 menitan. Ketahuan kalau generasi old ya, hahaha...

Bagi saya dan suami minum bandrek karena mengambil manfaat dari tanaman jahe. Jadi bukan sekedar jadi gaya hidup. Lumayan sering juga minum bandrek, dan lebih sering beli, nggak pernah buat sendiri.

Manfaat dari tanaman jahe lumayan banyak. Saya kira sudah tidak asing lagi bagi semua orang. Tapi tidak mengapa kalau saya tulis lagi di sini, sebagai pengingat bagi diri sendiri. Manfaatnya adalah sebagai berikut:

Sebagai anti oksidan. Karena mengandung banyak vitamin dan mineral sifat oksidannya mampu memperlancar aliran darah di tubuh. Selain itu, anti oksidan yang yang terdapat pada tanaman jahe bermanfaat bagi kesehatan jantung karena membantu mencegah terjadinya penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri.

Menjaga kadar kolesterol tubuh . Dengan rutin meminum air jahe, kadar kolesterol jahat (LDL) dapat diatur. Karena jika kadar kolesterol jahat dalam tubuh jumlahnya terus meningkat dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh arteri. Yang lebih dikenal dengan penyakit kardiovaskuler (penyakit jantung). Perlu jadi catatan bagi saya untuk lebih rutin mengonsumsi jahe nih. Nggak mesti bandrek, bisa saya buat sendiri jika kebetulan malas malam-malam keluar rumah.

Memperbaiki sistem pencernaan. Jahe mengandung kadar serat yang cukup tinggi sehingga mampu meningkatkan kerja usus. Usus dapat bekerja lebih baik dalam menyerap nutrisi makanan yang terdapat di dalam tubuh.

Mengurangi rasa nyeri yang diderita oleh tubuh. Pada usia  40-an ke atas biasanya banyak mengalami rasa sakit pada tulang dan sendi otot. Mengonsumsi jahe bisa mengurangi rasa sakit. Dan masih banyak lagi manfaat lainnya.



Loh...kenapa jadi membahas jahe sih? Hahaha...

Warga Marelan terdiri dari berbagai suku, kalau dulu dominan suku Jawa keturunan, sekarang hampir setiap suku sama banyak jumlahnya. Masyarakatnya hidup damai berdampingan. Sejauh yang saya ketahui belum pernah terjadi tawuran antar warga.

Adakah pembaca di sini yang bisa menambahi kebiasaan-kebiasaan warga Marelan lainnya?  










    

You May Also Like

17 komentar

  1. Yang aku sering dengar, Marelan itu maceeet. Terus kacau lalu lintasnya dibanding Medan sisi lain. Kami belum pernah kesana. Paling banter kalo arah sana itu ke Pancing, Cemara, Krakatau sama Percut aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener, macet. Saking majunyakah?
      Mungkin karena Marelan sudah lengkap , mereka jadi bergerombol di daerah sendiri..����

      Hapus
  2. Pas baca soal bandrek, yang ada di otak juga pertanyaan : Emang Medan dingin? Hehe...

    Tentang traffic light, prihatin ya? Tapi ayolah optimistis. Semoga kesadaran masyarakat segera terbangun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walah, traffic lightnya sudah padam. Bandrek di sepanjang jalan Marelan itu banyak, padahal gak dingin. Ya memang begitu, sdg tren, saya suka, berarti banyak yg suka sehat..��

      Hapus
  3. Deuuh ..sayang sekali ya..pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah tidak mendapat dukungan dari masyarakatnya. Rambu lalu lintas padahal penting banget ya... semoga ke depannya lalu lintas di sana bisa lebih tertib ya, Kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiinn...
      Dan saya membayangkan seperti di Jawa, di luar kotanya pun orang-orang tetap patuh berlalu lintas. Padahal sepi, tapi kalau lampu merah ya tetap berhenti..��

      Hapus
  4. Pas baca bagian lalu lintasnya terutama traffic lightnya , saya malah serem sendiri. Mungkin karena nggak biasa ya .
    Tapi seru juga dengan kebiasaan bandreknya


    Diah
    www.diahestika.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, masalah berlalu lintas di sini masih sangat memprihatinkan. Sampai sekarang traffic lightnya terabaikan..

      Hapus
  5. Enak mlm2 gini minum bandrek, tp saya lbh suka bajigur

    BalasHapus
  6. ada bandrek juga ya di sana , dikirain di sini saja adanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada, padahal Medan gak dingin, kan? Banyak penggemarnya malah

      Hapus
    2. Ya ada, padahal Medan gak dingin kan? Sebagai tempat nongkrong baru, banyak penggemarnya, kalangan anak muda malah..

      Hapus
  7. Wkwkwk.... Maaf, baru tau klo ada nama Daerah Marelan di Medan.
    Taunya daerah yang dekat pelabuhan doang, belawan dsk.
    Makasih kak, jadi nambah ilmu geografi nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu lagi ngehits loh di Medan wkwkwk...

      Hapus
  8. Saya baru dengar nama Marelan, Mbak :D bandrek minuman jahe ya? Saya sukaa banget minuman dari jahe walaupun di sini juga tidak dingin-dingin banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Marelan itu ramailah pokoknya ��
      Iya, bandrekj dari jahe, kalau diminum tubuh jadi hangat. Cocok diminum pada cuaca dingin.

      Hapus