Total Tayangan Halaman

Orangtua Kompak Peraturan Tegak

by - Januari 30, 2018

                                                                        pixabay.com

Zaman jadi Mahmud dan si sulung usianya masih hitungan bulan, pernah dinasihati suami, karena menurut beliau kalimat yang saya lontarkan tidak benar. Saya tidak menyadarinya, karena kalimat itu memang lazim terdengar di kalangan ibu-ibu ketika menimang bayinya. Kalimat itu antara lain,”Ini anak Papa, ni..” atau yang ini,”Ini anak Mama, ni..”

“Jangan posisikan anak untuk cendrung berpihak pada salah satu orangtuanya. Ini anak kita berdua, kita yang mengasuh, kita yang bertanggung jawab terhadap hasil pengasuhan. Kasihan dia kalau disuruh memilih.” begitu lanjut beliau.

Mak jleb! Ini si Akang kenapa seriusan amat ya?Pikir saya waktu itu. Kan cuma ngudang? Lips servicelah istilahnya. Tapi saya renung-renungkan memang benar adanya. Dan sejak itu, saya tidak pernah mengatakan kalimat di atas. Selalu cari kalimat baru, lebih bervariasi, wkwkwk...

Suami sejak dulu jarang-jarang mengomentari sikap saya, tetapi bila ada yang perlu dikoreksi, beliau langsung diskusikan. Ada semacam adu argument tentu saja, ya namanya saya manusia tentu punya pendapat, bukan? Tetapi selanjutnya, diskusi harus mengerucut pada suatu kesimpulan. Tidak mungkin dibiarkan bertele-tele. Beliau bukan tipe lelaki yang egois memaksakan kehendak, namun saya juga berprinsip ikut keputusan pemimpin.

Satu lagi peristiwa yang sampai sekarang tetap saya ingat. Beliau tidak suka telenovela atau serial drama apapun. Zaman itu masih ingat kan telenovela dari Amerika Latin? Juga drakor Meteor Garden? Ya ampun, saya tergila-gila banget masa itu. Rasanya gelo kalau sehati ketinggalan.

Awalnya sih suami nggak terganggu, tapi sekali waktu si sulung juga sibuk menukar channel. Suasana kan jadi kisruh. Mahmud yang belum siap move on ini juga heboh menukar channel, sisa keegoisan zaman gadis masih melekat jelas. Saat itulah suami menegur.
"Kita mau jadikan anak-anak artis ya? Kalau ya, memang harus nonton tipi sepanjang waktulah!" sindirnya.

Waduh, meskipun kesalnya minta ampun saat ditegur begitu, tapi ya nggaklah kalau mengajarkan mereka nonton televisi seharian. 

Mengasuh anak tentu bukan pekerjaan istri melulu, suami juga harus berperan dalam membentuk karakter anak. Ikut membantu pekerjaan juga. Adalah hal biasa bila seorang ayah mengganti popok, menggendong, menemani anak belajar dan lainnya bila sedang berada di rumah.

Bila suami istri kompak dalam mengasuh anak, bisa terlihat dari kedekatan anak-anak kepada kedua orangtuanya. Suatu hari teman suami yang sedang belajar di fakultas psikologi mengatakan, bahwa diantara kami berdua sama-sama dominan mempengaruhi karakter si sulung. Ia mengatakan hal tersebut ketika melihat hasil gambar dan cara sulung mewarnai. Benar tidaknya kami tidak tahu.

                          Soulmate 😂

Tapi memang sudah menjadi kesepakatan kami untuk membuat peraturan tidak tertulis yang sejalan. Jika kami akan menerapkan aturan, sebelumnya harus berdiskusi. Khususnya bagi saya, jika suami tidak setuju pada suatu hal, saya akan mematuhinya meskipun tanpa sepengatuan beliau bisa saja dilakukan.

Agar peraturan di rumah dapat sejalan, ada beberapa usaha yang bisa dilakukan oleh pasangan suami istri:
1.       Satu kesepakatan dalam aturan, jika ayah mengatakan tidak, maka ibu tidak boleh mengatakan iya. Anak akan menjadi bingung dan biasanya anak-anak memilih pada hal yang disukai mereka.

2.       Menjaga nama baik pasangan di depan anak-anak, jika anak tidak setuju pada sikap salah satu pasangan terkait peraturan, maka dilarang memberikan dukungan di hadapan anak. Bicarakanlah hal tersebut dengan pasangan tanpa sepengetahuan mereka.


3.       Jangan berdebat di depan anak-anak, hal ini bisa menyebabkan mereka bingung karena Anda dan pasangan adalah orang-orang yang mereka kasihi.

4.       Jika salah satu menegur kesalahan anak, yang lain diam.  Tidak baik melakukan pembelaan di hadapan anak. Karena dapat  menyebabkan pelanggaran pada aturan yang sudah dibuat.



Masih banyak trik-trik kekompakan yang bisa dilakukan oleh tiap-tiap pasangan. Tujuannya untuk membuat satu kesepakatan dalam mengasuh anak-anak. Orangtua yang tidak kompak atau salah satu tidak menunjukkan dukungan, akan menimbulkan komunikasi yang tidak sehat.

Ancaman lainnya, anak-anak akan terbiasa berbohong. Di hadapan salah satu orang tuanya mereka pura-pura patuh, sementara di belakang  melakukan hal yang dilarang. Anak-anak juga kurang menghormati kedua orangtuanya.  

Kedua orangtua memang harus seia-sekata. Tidak hanya sebuah janji ketika di hadapan KUA tetapi seia sekata dalam mengasuh dan mendidik anak-anak agar menjadi generasi yang benar. Tetap semangat ya ibu, bapak...

Salam kompak!!







  





You May Also Like

6 komentar

  1. Empat tipsnya itu bener banget. Saya ngerasain susahnya ngendalikan anak karena ketidakkompakan kami. Walaupun pada akhirnya mereka nurut aturan saya, tapi itu dengan sedikit 'mengorbankan' nama baik sang ayah, hiks. *curcol deh. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih bisa dibenerin lagi. Jika ngobrol dengan anak-anak, bicarakan sebab akibat kenapa ayah pernah begini atau begitu. Semakin mereka besar, kemampuan menganalisa masalah akan mengembalikan nama baik ayah. Semangat....

      Hapus
  2. Setuju Mbak...tipsnya kece oke nih..Kalau kompak aturan pun tegak..anak jadi enggak bingung sendiri mana yang mau diikuti:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...makasih dek, sudah dipraktekkin soalnya.

      Hapus
  3. Kalau ayah ibunya kompak, pasti terasa koq ke anak-anak.
    Setuju Bun. Jangan berdebat di depan anak-anak.

    Btw salam kompak :)

    BalasHapus