Total Tayangan Halaman

Cegah Anak Anda Menjadi Korban Bullying Berikutnya

by - Januari 23, 2018



Saya maklum sekali kalau ibu-ibu muda zaman now pada rada-rada paranoid terhadap pergaulan anak-anaknya. Karena saya juga masih deg-degan, meskipun kedua anak saya sudah berusia di atas remaja.

Lima belas tahun yang lalu, penggunaan sosial media belum sebebas sekarang. Saya masih ingat masa itu tontonan anak-anak cuma berputar-putar pada Teletubbies yang kala itu jadi idola. Grup musik dari Malaysia, Reihan juga sedang menguasai tangga lagu-lagu di Asia. Kalau ingin bervariasi ya putar kaset sendiri, kita bisa memilih beragam tontonan yang sudah diyakini cukup baik buat anak-anak. Selaku ibu muda pada masa itu berarti saya sangat beruntung.

Meski begitu, saya tetap mendampingi anak-anak ketika menonton ataupun bermain, tetapi jaraknya tidak terlalu dekat, yang penting bisa saya awasi sembari melakukan aktifitas lainnya. Bukan apa-apa, anak-anak juga perlu diawasi ketika berkumpul dengan temannya. Kita jadi tahu apa saja yang mereka bicarakan dan lakukan.

Anak-anak hanya meniru segala tingkah laku orang-orang di sekitarnya. Mereka juga tidak paham seandainya yang mereka tiru ternyata tindakan negatif.

Seiring bertambahnya usia dan pola asuh dari orangtua maupun lingkungan, sikap anak mulai terbentuk. Ada anak yang pemberani, pemalu, penakut, pemarah, suka menolong, cuek, dan lain sebagainya.

Anak-anak adalah manusia lemah terkait dengan ukuran tubuhnya. Mereka belum memiliki kekuatan untuk membela dirinya terhadap gangguan dari orang lain. Baik itu gangguan fisik maupun psikis. Karena kondisi tersebut orang dewasa yang berada di lingkungan terdekat anak wajib melindungi mereka.

Akan tetapi, sering sekali kita temui justru orang dewasa banyak yang berbuat semena-mena (pelecehan) terhadap anak kecil. Bukan hanya orang di luar keluarga intinya, orang terdekatnya sendiri kerap gagal menjadi pelindung mereka. Tindakan semena-mena (pelecehan) lebih dikenal dengan istilah bullying.  

Yang dimaksud dengan bullying adalah tindakan pelecehan atau penindasan yang dilakukan oleh suatu kelompok atau individu terhadap pihak yang dinilai lebih lemah. Tindakan yang dilakukan didasari unsur kesengajaan.

Beberapa cara mengatasi tindakan bullying terhadap anak-anak bisa jadi rekomendasi kita, berikut diantaranya:

Biasakan bertukar cerita bersama anak

Untuk melatih anak agar mau bercerita sebaiknya kita mengawalinya terlebih dahulu. Saya suka berbagi cerita kepada kedua anak kami. Apapun itu, tetapi disesuaikan dengan usia mereka. Sampai sekarang kebiasaan itu masih saya lakukan.

Untuk memasukkan topik pembicaraan yang saya tuju biasanya diawali dengan sebuah kisah tentang suatu kejadian. Misalnya kasus seseorang yang tidak berani berterus terang kepada kedua orangtuanya karena takut diancam.

Saya akan menuturkan dampak negatif dari peristiwa tersebut. Jadi seandainya mereka mendapatkan kejadian yang nyaris sama, mereka dengan ringan menceritakannya kepada kami.

Ajarkan kepada anak untuk berani bersikap tegas

Seandainya anak mendapatkan cemoohan dalam bentuk verbal, ajarkan pada mereka untuk tetap menghadapinya dengan sikap yang tegar. Jangan mudah menangis atau memperlihatkan pada pembully bahwa ia sedih atau malu.

Biasakan menanggapinya dengan tenang. Lebih baik meninggalkannya tidak meladeni dan menjauhi orang atau kelompok tersebut.

Ajarkan mereka untuk melindungi tubuhnya

Kasus pelecehan seksual pada anak-anak kerap terjadi karena mereka tidak mengerti apa yang telah dilakukan oleh orang lain terhadap tubuhnya. Ajarkan pada mereka untuk tidak memperlihatkan anggota tubuh yang dianggap vital. Mintalah mereka untuk menutup rapat bagian tubuh yang tidak semestinya dilihat orang.

Saya sangat prihatin kalau melihat anak-anak dibiarkan bermain di luar rumah dalam kondisi hanya mengenakan celana dalam dan singlet saja. Jangankan bermain di luar rumah, di dalam rumah sendiri mereka harus diajarkan berpakaian sopan.

Jika ada orang lain yang memegang bagian tubuh mereka, ajarkan mereka untuk berani menceritakan kepada kedua orangtua. Jadi perlu diingat juga, bahwa satu peristiwa kadang terjadi karena adanya kesempatan (kelengahan) dari korbannya.

Ajarkan anak untuk mengembangkan kegemarannya menjadi sebuah prestasi

Apabila anak merasa rendah diri karena pernah mengalami bullying, latihlah mereka agar lebih focus pada kemampuan dirinya. Galilah potensi yang dimiliki anak agar membangun kepercayaan dirinya. Jika minatnya terhadap suatu kegiatan positif terus diasah, bukan hal mustahil akan melahirkan sebuah prestasi.

Prestasi yang diraih oleh anak lambat laun akan membangun kepercayaan dirinya. Hal itu sekaligus membuktikan kepada orang lain bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk berprestasi.

Bullying sudah ada sejak sejak dulu, bentuknya bermacam-macam. Semakin diperparah dengan penyalahgunaan teknologi. Sosial media termasuk memegang peranan yang cukup signifikan.

Sudah banyak kejadian negatif terjadi yang awalnya cuma berasal dari status di sosial media. Perang komentar, saling ancam lewat kalimat yang menyudutkan, bahkan foto hasil rekayasa sangat mudah disebarkan.

Bagi orang yang tidak memiliki pertahanan kuat dalam mengelola emosinya, bullying lewat kalimat juga akan mempengaruhi kesehatan mental seseorang.

Jadi ajarkan mereka untuk sebaik mungkin memanfaatkan perkembangan teknologi pada hal-hal yang positif saja. Ambil manfaat sebesar-besarnya dari teknologi, dan jauhi hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri.

Selamat berjuang para orangtua...
Tetap semangat menghadapi tantangan zaman ya...💪💪













   


  

You May Also Like

0 komentar