Total Tayangan Halaman

Seorang Ayah Jangan Kehilangan Masa Kanak-Kanak Anaknya

by - Desember 12, 2017

Ayah tempat bertanya yang paling asyik
                                                              

Seorang ayah terlalu sibuk mencari nafkah. Ia sangat lelah, sehingga ketika tiba di rumah ia butuh istirahat. Benar, tidak bisa ditampik, tapi itu tugas dan kewajiban seorang pemimpin rumah tangga. Namun, yang tidak kalah penting, masa kanak-kanak dari buah hati kita adalah suatu keadaan yang tidak akan terulang.

Sedihnya lagi, agar ayah bisa bobok nyenyak tanpa gangguan suara anak-anak, ibu berusaha keras agar mereka tidak menimbulkan suara berisik. Ayah terbangun berarti kemarahan. Suasana rumah mencekam, horror. Lalu kenangan apalagi yang akan ditinggalkan agar mereka mengenang sosok seorang ayah sebagaimana mestinya?

Seorang sopir go car yang saya tumpangi berkisah tentang hari tuanya. Ia sering ditinggal anak dan istrinya bersenang-senang. Anak-anak kerap membawa sang ibu berlibur. Suatu keadaan yang sama sekali tidak ia bayangankan akan dialaminya. Kalau saja waktu bisa ditarik mundur, agaknya sopir go car itu ingin mengulangi masa mudanya.

Salah siapa jika anak-anak lebih dekat dengan ibunya? Salah siapa jika keberadaan sang ayah tidak begitu berpengaruh pada mereka? Sang ayah lebih sibuk di luar rumah. Bekerja membanting tulang guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Tapi anak-anak tidaklah paham soal persaingan hidup di luar sana demi mencari uang. Yang mereka ketahui, saat bangun pagi sang ayah sudah berangkat bekerja. Padahal malam harinya mereka tertidur sebelum sempat bertemu sang ayah.

Lelaki itu sejak dulu berprofesi sebagai seorang sopir. Hingga kini juga masih menghabiskan separuh waktunya di jalanan. Kalau dulu ia beralasan mencari nafkah, maka sekarang waktunya untuk membunuh sepi.

Katanya, ia sekarang selalu merindukan istrinya. Padahal ia dulu kerap meninggalkannya sendiri merawat anak-anak. Ia tidak tahu anaknya bersekolah di mana dan kelas berapa. bahkan ia tidak tahu keberhasilan tahap demi tahap masa kanak-kanak anaknya.

“Berapa anak Bapak?” tanyaku.

“Empat orang,”

“Kondisi begitu bisa juga sampai empat anaknya, ya?” godaku iseng. Tawanya pecah, mungkin ia juga merasa aneh. Bahkan ia berujar,”Itulah, mungkin aku juga tidak sadar waktu itu.” Dan yang lebih mengherankan lagi dengan pernyataannya, bahwa ia terbiasa tidak hafal nama anak-anaknya.Mungkin karena ia terlalu jarang bersama anak-anaknya, hingga ikatan batin mereka tidak terjalin. Jika pantas saja disebut seolah tak berayah, maka sebutan itu wajar saja disematkan.

Tapi bukan hal aneh bagi saya jika mendengar seorang ayah tidak punya kedekatan dengan anak-anaknya. Bahkan seorang ayah yang normal jam kerjanya pun, ada yang tidak dekat dengan anak-anaknya.

Saya pernah bertemu dengan seorang ayah, ketika mendaftarkan sekolah ia bingung menyebut nama anaknya. Ia sama sekali tidak ingat nama bocah kecil anak kandungnya sendiri. Padahal ia sendiri yang memberikan nama itu ketika sang anak masih bayi. Ahirnya terpaksa saat itu juga ia memberi nama baru bagi sang anak agar bisa didaftarkan. Sebuah nama baru. Nama yang sangat asing bagi sang anak. Mendapati kejadian ini, sang ayah meminta kertas dan bolpoin pada pihak sekolah, untuk mencatat nama baru anaknya, agar tidak lupa lagi.

Zaman dulu, seorang ayah banyak yang tidak mengenal karakter dari anak-anaknya. Hal ini disebabkan oleh pengasuhan anak mutlak dikerjakan oleh ibu. Ayah demikian agung tak tersentuh. Jangankan untuk bermanja, anak-anaknya tidak ada yang berani menegur. Jika ayah berada di rumah berarti suasana harus senyap agar ia dapat beristirahat dengan tenang.
Ayah oh ayah...
Zaman semodern sekarang, mungkin masih ada yang berlaku begitu di keluarganya. Ayah yang model begini mungkin belum pernah membaca ilmu parenting. Malas belajar dan enggan mengamati orang-orang yang sukses menjalin hubungan indah dengan anak-anaknya. Sedangkan dalam agama Islam saja, tarbiyatul aulat itu ada tuntunannya. Merujuk pada sikap para nabi yang sangat menyayangi anak-anak.

Menurut riset, seorang anak yang dekat dengan ayahnya akan memiliki kecerdasan yang baik. Mereka juga berani dalam bersikap dan bertanggung jawab. Anak-anak yang memiliki hubungan manis dengan ayahnya terlihat lebih ceria dan bahagia.

Agar seorang ayah bisa memiliki hubungan yang mesra dengan anak-anaknya, mungkin beberapa sikap di bawah ini bisa jadi rujukan:

          Membantu pasangan mengasuh anak
Jika ayah berada di rumah, bantulah istri mengasuh anak-anak. Menyuapi mereka makan atau sekedar membuatkan susu akan membuat mereka bahagia dan merasa disayangi. Pekerjaan kecil ini akan membuat anak dan istri Anda bahagia.


          Berikan perhatian 
Di saat anak merasa sedih, murung bahkan bahagia, seorang ayah hendaknya memiliki respon terhadap sikap anaknya. Jangan biarkan anak-anak menangis, berilah perhatian dengan menanyakan masalah yang sedang terjadi. Pelukan maupun usapan lembut di kepala cukup membuatnya tenang. Jika dilakukan semenjak anak-anak masih kecil, mereka akan menjadikan orangtuanya tempat curhat yang utama. 



          Sisihkan waktu bercengkrama dengan keluarga
Dari 24 jam waktu yang dimiliki seorang ayah, berikanlah kesempatan bagi anak-anak bercengkrama bersama Anda. Menemani bermain meskipun sebentar merupakan saat yang paling berharga. Akan menjadi kenangan manis sepanjang masa, karena bermain bagi anak-anak adalah saat yang paling menyenangkan.

Bercandalah

          Jalin komunikasi
Tanyakan hal-hal kecil semisal sudah makan, lauknya apa, apa yang mereka kerjakan di sekolah dan pertanyaan ringan lainnya. Jika perhatian ini dibiasakan sejak kecil, maka mereka akan terbiasa bercerita mengenai hal apapun dengan ayahnya.


          Memberikan Oleh-Oleh
Jika ayah bepergian agak lama, jangan pelit untuk membawakan buah tangan atau oleh-oleh bagi anak-anaknya. Dijamin kedatangan ayah menjadi saat yang paling dinantikan. Sambutan mereka akan menghadirkan suasana bahagia di hati Anda. Bagi yang kerap membawakan sesuatu bagi anaknya sesudah bepergian, rata-rata merasa bahagia dengan sambutan mereka dan lelah seolah lenyap seketika.
          Menjadi tauladan yang baik
Anak-anak selalu meniru kebiasaan orangtuanya. Maka sangat penting sekali agar menjaga sikap di depan anak-anak. Maka orangtua zaman dahulu membuat pribahasa seperti ini,”Guru kencing berdiri murid kencing berlari.” Tak pelak lagi, hal ini dimaksudkan bila orangtua memberi contoh buruk maka anak akan meniru keburukannya lebih besar lagi.
          Jangan pelit pujian dan dukungan
Berikan pujian pada hal apapun yang telah dicapai anak. Sebaliknya jangan mengejek atau mencela jika ia mengalami suatu kegagalan. Berikanlah dukungan yang sebaik-baiknya ketika anak merasa kecewa dan sedih.
          Jangan memarahi istri di depan anak
Ibu adalah sosok yang paling dekat dan sangat berharga bagi anak-anaknya. Seorang ibu juga kerap melakukan kesalahan yang tidak ia sadari. Apapun masalahnya, seorang ayah tidak dibenarkan memarahinya di depan anak-anak. Jika hal itu dilakukan, bukan tidak mungkin seorang anak akan membenci ayahnya.

Menjadi seorang ayah adalah pilihan. Tanggung jawab kepengasuhan bukan hanya berada di tangan ibunya. Nikmatilah kesempatan bersama buah hati sejak di masa kanak-kanaknya. Ketika mereka dewasa waktu serasa begitu cepat berlalu. Sepanjang sisa usia akan kita habiskan untuk mengenang anak-anak dengan tingkah lucunya.

Apalagi yang bisa diingat, jika masa kecil mereka terlewati tanpa kenangan manis yang ayah ciptakan? Jika hal itu terjadi, maka sepanjang usia, ayah akan dikenang sebagai seseorang yang diakui tapi tidak dirindukan.



 





  

You May Also Like

20 komentar

  1. Mantap nih ulasannya Mbak Sri..
    Waktu cepat berlalu, sayang jika seorang ayah tak memanfaatkan saat berharga untuk membersamai masa kanak-kanak anaknya. Karena tanggung jawab pengasuhan seharusnya memang diemban berdua oleh ayah dan ibu.

    BalasHapus
  2. Ya begitulah, kadang kasihan kalau melihat hubungan ayah-anak bagaikan seorang karyawan dengan bossnya ��

    BalasHapus
  3. Bener banget bun. Makanya pak suami selelah apa pun pulang dari tempat kerja. Mesti sempetin main-main dulu ama Erysha sebelum Eryshanya tidur malam ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kelak Ersya akan dekat dengan kedua orangtuanya. Hanya percaya pada ayah dan ibu untuk teman berbagi cerita..

      Hapus
  4. syukurnya suami saya bukan tipe seperti itu mbak, anak perempuan saya malah sangat dekat dengan papihnya, sejak bayi beliau mau membantu memandikan atau menggantikan popoknya bila saya sedang sibuk. Mungkin itu yang bikin anak saya dekat dengan papihnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sungguh beruntung, ortu zaman now, modern, yang memahami bagaimana cara benar bergaul dengan anak dan istri ��

      Hapus
  5. Saya LDR 7 tahun. Sedih melihat anak-anak hanya bisa bertemu ayahnya sebulan sekali. Alhamdulillah sekarang sudah bisa berkumpul setiap hari..lho jadi curhat saya😊. Sosok ayah memang mutlak dibutuhkan, tidak hanya nafkahnya saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah saya ikut senang, akhirnya formasinya lengkap. Kadang kita memang harus sedikit bersabar agar bisa berkumpul ya?

      Hapus
  6. setuju banget mba... wajib dibaca semua suami nih biar belajar sama-sama y mba hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, biar balanc kepengasuhannya kan? Namanya juga anak berdua, sama-sama diasuh dong. ��

      Hapus
  7. iya ... tapi berusaha mendekatkan anak dengan sang ayah pun tidak mudah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayahnya dong yang memulai... ��

      Hapus
  8. Tulisan yang bikin aku kangen Papa. Walaupun aku sekarang sudah menikah, menemui Papa yang baru pulang dari luar kota, atau ketika diantar Papa kemana-mana, jadi moment yang membuat saya berani jadi diri saya sendiri.


    Semoga banyak Ayah di luar sana yang sadar dan mau jadi sebenar-benarnya ayah bagi anak-anaknya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayah adalah laki-laki pertama yang memperkenalkan arti bangga menjadi seorang perempuan

      Hapus
  9. kebanyakan para ayah begitu kak, apalagi orang minang yg jarang sekali dekat dengan anak-anak mereka karena pola asuh secara alaminya telah di ambil alih oleh istri dari pekerjaan rumah maupun pengasuhan anak.

    itu yg saya rasakan oleh ayah saya, ayah jarang sekali mengajak kami bercengkrama. jam makan pun karena kami keluarga pekerja, makan ambil sendiri-sendiri.. hingga setelah dewasa, televisi ada di kamar masing-masing dan anak -anak pun lebih betah berlama - lama di kamar ..hikss jadi curhatt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adat kadang menuntut perlakuan yang bertentangan dengan hati nurani. Entahlah... kadang saya juga heran

      Hapus
  10. Iya, betul sekali mba. Sedih kalau ayah yg gak peduli soal pengasuhan anaknya. Padahal masa kanak-kanak itu tak akan lama, dan masa yang sebentar itu tak akan pernah kembali.

    BalasHapus
  11. hiks, begitulah mba, jadi ingat waktu ngintip kehidupan malam dan subuh jakarta. Jadi kepikiran orang-orang itu tiba di rumah jam berapa. Apa anaknya masih setia menahan kantuk demi ketemu orang tuanya? Pas pulang anak sudah tidur, pas berangkat anak masih tidur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ketika masih anak-anak, kayaknya mereka tidak banyak protes Hasilnya ketika dewasa, mereka juga tidak menganggap perlu kehadiran ayahnya ��

      Hapus
  12. Alhamdulillah kalau suami zaman now kyknya dah banyak yang gak malu membantu pengasuhan anak dan mbantu ngerjain kerjaan RT ya mbak. Ini anak2ku alhamdulillah deket ma ayahnya jg :D

    BalasHapus