Total Tayangan Halaman

Mengapa Surat Izin Ketidakhadiran Sering Dipalsukan Alasannya?

by - Desember 03, 2017

Sebelum menulis surat, pastikan menuliskan alasan sebenarnya


Punya anak duduk di bangku sekolah, bisa dipastikan setiap orangtua pernah mengirimkan surat izin kepada wali kelas. Baik itu izin untuk tidak masuk karena anak sedang sakit atau ketika ada keperluan lainnya. Keperluan lain juga bisa dibagi lagi, keperluan sangat mendesak atau tidak penting sama sekali.

Keperluan sangat mendesak biasanya karena ada keluarga maupun kerabat yang meninggal dunia atau sedang sakit keras. Sedangkan keperluan tidak penting, bila anak dibawa orangtuanya untuk menghadiri suatu acara. Misalnya, menghadiri acara reuni orangtuanya, dalam hal ini kehadiran si anak tidak diharuskan, bukan? Tapi mungkin ada juga ya yang menganggap penting, mengenalkan anak pada teman-teman orangtuanya, bisa jadi...

Hari gini masih pakai surat-suratan? Widih enggak modern, kan ada SMS, WA, telepon dan lainnya? Nah itu dia, ternyata memang masih ada guru yang meminta surat keterangan  orangtua. Salah satunya di sekolah bungsuku, SMPN 7 Medan. Tapi tidak semua guru, karena ada yang melalui SMS atau telepon langsung juga. Bagi saya hal ini menyenangkan, meskipun sudah jarang sekali  menulis pakai tulisan tangan, khususnya untuk surat resmi. Paling banter menulis orat-oret untuk bikin tulisan.

Bicara mengenai surat izin, saya ingin berbagi pengalaman menggelikan. Kejadiannya sewaktu peringatan Hari Guru kemarin. Anak saya sejak malam hari mengatakan bahwa besok tidak akan masuk sekolah. Bukan karena sakit, alasannya, sesudah upacara diadakan kegiatan semacam pentas seni bernyanyi diiringi organ tunggal. Anak saya tidak ikut terlibat mengisi acara. Dia tidak suka melihat orang nyanyi-nyanyi diiringi organ tunggal. Surat akan saya tulis keesokan harinya. Sekolah tidak mempermasalahkan hal ini meskipun surat keterangan menyusul. Yang penting ada surat keterangan mengapa tidak hadir.  

“Ma, tolong buatkan surat keteranganlah,” anak saya baru mengingatkan kembali pagi-pagi sebelum sarapan.  Duh bayangankan saja, pagi-pagi adalah waktu yang sangat sibuk buat seluruh emak di dunia, bukan? Sempat juga saya menawar sedikit, sebaiknya terima saja kalau kena panggil guru BK, kan memang nggak masuk. Emak mau ngeles, padahal si bocah sudah minta tolong sejak kemarin. Dia menolak, ngotot harus bawa sepucuk surat izin tidak masuk dari saya.

                                            Jangan berdusta...😀

“Jadi dibuat alasan apa, nih?” tanya saya tergopoh-gopoh, pada menit-menit terakhir sebelum keberangkatannya.

“Terserah mamalah,” ia pun tampak pasrah dan wajahnya sedikit kesal.

“Mama tulis apa ya, masa Mama bilang gak suka organ tunggal?” terus terang saya juga bingung mau buat alasan apa. Tapi saya juga tidak mau berdusta. Apalagi mambuat alasan anak saya  tidak enak badan, ada urusan keluarga, sakit perut dan alasan standard berbohong lainnya. Untuk urusan surat izin ketidakhadiran ini, bahkan ada yang sanggup memalsukan surat keterangan sakit dari pihak medis. Pernahkah Anda juga menemui kejadian seperti ini?

Menunggu surat selesai, ia duduk di teras dengan kondisi harap-harap cemas. Takut surat tidak selesai, sementara waktunya sudah mepet untuk segera berangkat ke sekolah. Surat berhasil saya tulis dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai dua menit. Surat izin itu saya serahkan padanya dalam kondisi tertutup rapat.  Tanpa bertanya alasan suratnya apa, bungsu saya itu mencium tangan dan berangkat sekolah. Pada saat yang sama juga, saya merasa lega bukan main.

Siang harinya, sepulang sekolah, saya menanyakan keadaan anak-anak yang tidak ikut acara hari guru kemarin. Apakah diabsen dan dikumpulkan ke suatu ruangan seperti zaman kami dulu? Zaman anak 90-an kan kalau tidak datang upacara pada hari-hari istimewa kena absen. Kadang juga ditakut-takuti akan dilayangkan surat panggilan buat orangtuanya.

“Nggak ada apa-apa, tapi surat udah dikasikan ke guru BK. Mama buat alasan apa tadi?” rupanya dia penasaran juga mengenai isi surat yang saya buat tadi, hehehe...

“Mama buat alasannya gini Bang, ‘Rayyan tidak hadir ke sekolah hari ini, karena saya  menghadiri  takziah  orangtua teman yang meninggal dunia’,” saya menjawab pertanyaannya dengan senyum yang tertahan. Sementara ia terbengong menatapi saya.

“Lah apa hubungannya, Ma? Kan Mama yang pergi?” tanyanya bingung.

Alasan surat itu memang berbunyi demikian. Kebetulan hari itu, salah satu sahabat saya bapaknya meninggal dunia. Saya menghadiri takziah ke rumah duka. Jika karena alasan itu saya dimintai keterangan selanjutnya, jawaban itulah yang akan disampaikan. Kenyataannya memang pergi ke sana, dan si bungsu saya minta untuk jaga rumah. Saya menyetujui alasannya tidak hadir ke sekolah karena dia memang tidak suka acara sesudah upacara.

Anak saya tampak senyum-senyum mendengar penjelasan itu, wajahnya pun terlihat setuju dan siap menjawab jika diajukan pertanyaan seputar alasan surat itu. Beres...

Sejak dulu, tidak pernah sekali pun saya mengada-ada alasan dalam berkirim surat. Kalau izin untuk bepergian, ya saya nyatakan sesuai keadaanya, disertai keterangan tempat tujuan. Kalau menghadiri acara pesta, saya juga katakan apa adanya. Sampai hari ini, para guru tidak ada yang keberatan dengan alasan sebenarnya itu.

Selain karena tidak ingin mengajarkan anak untuk berdusta. Saya juga masih percaya, bahwa apa yang kita dustakan itu akan menjadi boomerang. Misalnya, buat alasan sakit padahal tidak sakit. Jika kebiasan itu terus-terusan dilakukan, suatu hari orang tidak akan percaya jika benar-benar sakit. Kelihatannya sepele, bukan masalah besar, padahal efek berdusta ini sangat berbahaya sekali. Anak-anak menyontoh perbuatan orangtuanya, karena kita orang terdekatnya.  

Tapi yang sejak dulu menjadi pertanyaan saya adalah, apakah guru hanya menerima alasan sakit agar anak diizinkan untuk tidak hadir ke sekolah?

              




You May Also Like

33 komentar

  1. Betul Mbak..kalau dari kecil diajarin bohong macam mana besarnya nanti..Hihihi tapi lucu juga alasannya..meski masuk akal juga yaaa:D

    Pernah bikin surat ijin, anak ikut pulang karena ada nikahan sepupunya ke luar kota. Saya minta ijin 2 hari. Eh ternyata, molor sehari pulangnya. Jadi nggak masuk 3 hari. Sama Bu Guru ditulis Alpa hari ketiganya...hahaha..bener deh gurunya, nggak bisa ditawar. Tapi saya juga salah sih, nggak info via :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu guru bener-bener konsisten, minta izin dua hari eh molor sampe tiga hari. Priiit...kena warning deh. Guru kece, saya senang sama yang model begitu. Bukan berarti saya bisa selalu konsisten, tapi kena hukuman karena kesalahan sendiri, misalnya, membuat kita tahu betapa sang guru memang benar dan menjalankan tugas..��

      Hapus
  2. Benar sekali mbak, terlebih kita merupakan panutan bagi anak2. Jangankan berbohong, dari cara duduk dan makan saja bisa diadaptasi plek..hehe. Terima kasih tulisannya mbak, mengingatkan sy supaya hati2 sebagai orang tua.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak-anak itu pengamat sejati yakan? Pernah kedapatan oleh mereka berbuat tidak sesuai dengan yang diajarkan, alamat kita dinilai berdusta....��

      Hapus
  3. Wah karena bunda bertanya begitu jadi penasaran juga saya dengan jawabannya. Kalau saya pernah mengajar di sekolah swasta. Disana siswa diijinkan tidak masuk sekolah selain sakit. Seperti ada keperluan yang mendesak atau penting

    BalasHapus
  4. Menjadi satu alasan klasik, tidak hadir ke sekolah identik dengan sakit. Apakah malas ribet ditanya-tanya, atau karena sakit baru boleh izin?

    BalasHapus
  5. Soal surat, saya juga terbiasa nulis "...anak saya tidak bisa hadir di sekolah... ", bukan "...anak saya tidak dapat mengikuti pelajaran... ",takut bumerang juga, hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu, jadi saya juga membiasakan menuliskan apa adanya. Soalnya susah kalau ditandai..��

      Hapus
  6. bener banget mba, bohong kecil tetap saja namanya bohong, justru dari kebohongan kecil itu lama2 jadi besar ya mbak :) TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari yang kecil atau sepele itulah lama-lama menjadi kebiasaan dan dianggap wajar, yakan?��

      Hapus
  7. Whuaa bagus mba, ternyata kita sepaham. jadi tanpa perlu berdusta semua bisa selesai dengan baik ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya memang demikian bukan?

      Hapus
  8. sampe bekerja hal-hal begini juga jadi bawaan. saa sendiri kerap berbohong karena kadang alasan yang jujur ternyata kurang bisa diterima. hehehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu, kita telah terbiasa membiasakan yang harusnya tidak boleh dibiasakan

      Hapus
  9. bener banget tuh mba, sekali anak belajar berbohong maka akan diikuti dengan kebohongan lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Melakukan hal yg salah terus-menerus akhirnya menganggap yang salah seolah wajar. Jangan sampai deh hal itu terjadi...

      Hapus
  10. masih ada surat ijin tulis tangan ya ? hihihi...saya dulu klo bolos ya bolos aja, gak pakai surat. dan ibu mengijinkan asal bolosnya di rumah dan gak keseringan. Biasanya bolos sehari pas habis ulangan dan gak ada pelajaran....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whahahaha... Emaknya asyik ya...

      Hapus
  11. Huaaa anak saya masih tiga tahun Kak sri. Kayaknya ntar pas SD mulai bikin surat ijin kalo pengen pulang kampung ke Jawa hahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoo... inget ya, pulang kampung alasannya hahaha...

      Hapus
  12. Sekarang memang zaman milenial. Tapi untuk sekolah anak saya yang sulung, ketidakhadiran harus disertai surat keterangan dari orangtua siswa. Alhamdulillah, saya gak pernah ngarang atau berbohong alasan anak gak masuk sekolah. Karena alasannya anak gak sekolah memang benar-benar penting.
    Memang, suka heran aja sama orangtua yang buat alasan palsu saat anaknya gak sekolah. Apalagi kalau pakai alasan sakit, takutnya malah beneran sakit, kan?
    Mending alasannya yang jujur aja, deh! Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Para orangtua yang sering memanipulasi alasan apa katena dulu pun biasa begitu ya? Kirain di Medan saja model begini, dimana-mana kok ada juga ya?

      Hapus
  13. Balasan
    1. Apaah??
      Buat surat sendiri yaaa.. Hahhaha...
      Masa SMA memang suka uji nyali, merasa ini gue dah gede....

      Hapus
  14. wkwkwkwkwk, mama nya Te O pe dah, alasanya masuk akal, salut saba si bungsu udah ngga suka acara yg begituan. bdan lebih baik memilih diam dirumah. padahal anak jaman now apalagi smp paling suka datang sekolah jika lagi tidak belajar, jika belajar pasti banyak yang malass

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak-anak kami, kalau pun di sekitar rumah ada organ tunggal mereka gak mau melihatnya, Dek...sejak kecil

      Hapus
  15. Makasih untuk sharingnya Mba. Saya juga siap-siap nih, tahun depan si sulung udah SD, InsyaAllah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ok, selamat membentuk generasi hebat. Jujur dan berani bertanggung jawab..��

      Hapus
  16. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  17. Wah, jd inget zaman muda nih mbak. Klo bikin surat izin banyak bohongnya. Hahahha

    Tp hbs baca tulisan mbak sri benar juga. Tak perlu beralasan yg justru mengajarkan anak pada kebohongan ya. Jujur aja biar mujur. Iya, gak? Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meskipun pernah melakukan kesalahan, tapi ketika punya anak kita tidak ingin mereka melakukan hal yang sama, ya? Karena orangtua selalu menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya.. ��

      Hapus
  18. sejak kecil diajari berbohong meski hanya hal kecil akhirnya besar nanti terbiasa berbohong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena segala sesuatu dibiasakan akan menjadi kebiasaan. Jika membiasakan yang baik-baik, insya Allah menjadi kebiasaan baik.

      Hapus