Mengapa Inkubator Untuk Evakuasi Bayi Buatan Mahasiswa ITB Perlu Segera Diproduksi?

by - November 08, 2017

                                                            dokumentasi dari itb.ac.id


Menurut Badan PBB untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UN-ISDR) Indonesia adalah negara yang paling rawan terhadap bencana. Indonesia menduduki peringkat teratas untuk ancaman bahaya tsunami, tanah longsor dan gunung merapi. Berikutnya kita juga terancam gempa dan banjir bandang.

Dengan posisi geografis yang terletak di ujung pergerakan tiga lempeng dunia, Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik, kita tidak bisa mengelak dari ancaman tersebut. Satu-satunya cara adalah berusaha hidup harmoni dengan alam dan bersiasat guna mengurangi dampaknya.

Ketika terjadi bencana alam, kita tidak lagi memikirkan harta benda, yang paling diutamakan adalah nyawa. Semua orang ingin menyelamatkan diri masing-masing. Setidaknya tindakan yang paling memungkinkan adalah menyelamatkan nyawa orang-orang yang berada di dekat kita. Terutama sekali keluarga. Tak jarang saking paniknya, bantal guling dikira anak sendiri. Langsung sambar dan kabur, padahal si anak sedang tertidur pulas.

Yang paling sulit dalam hal penanggulangan korban bencana adalah ketika mengevakuasi bayi. Kelihatannya saja mudah karena ukuran tubuh mereka masih kecil, ya? Tetapi sebenarnya sulit jika berkaitan dengan kondisi suhu udara pada wilayah yang tertimpa bencana. Bayi masih rentan terhadap kondisi cuaca maupun bakteri, perlu ada alat khusus yang bisa melindungi mereka.

Keberadaan bayi ini tidak bisa dianggap sepele. Mereka harus ditanggulangi dengan tindakan khusus. Terutama bila ada bayi yang baru dilahirkan pada saat terjadi bencana. Kondisi lapangan yang semrawut tentu belum bisa menyediakan tempat yang nyaman bagi bayi-bayi tersebut. Jika salah tindakan, bukan tidak mungkin justru mengorbankan nyawa.

Karena itu, seorang dosen dari ITB memberikan tantangan kepada mahasiswanya untuk membuat perangkat yang bisa digunakan saat kondisi bencana. Dosen tersebut adalah Suprijanto, ahli Instrumentasi Medik dari ITB.

Tantangan itu diterima oleh 5 orang mahasiswanya. Mereka adalah Amanda Putri Chumairoh (Teknik Fisika 2014), Amin Yahya (Teknik Fisika 2014), Ismail Faruqi (Teknik Fisika 2014), Isra Ramadhani (Teknik Kimia 2014) dan Dzatia Muti (Desain Produk 2014). Kelima mahasiswa berprestasi tersebut berhasil membuat sebuah tabung inkubator berbentuk ransel (tas gendong).

Inkubator itu dilengkapi dengan filter udara yang memanfaatkan membran berpori berukuran 50 nanometer. Filter udara tersebut berguna untuk menyaring partikel berbahaya, termasuk juga bakteri yang dapat menimbulkan serangan penyakit pada bayi. Ransel inkubator itu juga dilengkapi dengan pemanas yang menggunakan parafin rantai karbon C30-C33. Tujuannya agar suhu inkubator tetap pada titik leleh 37 derajat celcius. Jika diperlukan paraffin bisa dihangatkan dengan cara  direbus selama 15 menit. Kehangatannya bisa bertahan hingga enam jam.

Di bagian luar ada 3 strip hijau yang berpendar ketika terkena cahaya dan tetap terlihat dalam kondisi gelap.  Tas ini dirancang untuk bayi berusia 0-12 bulan. Tidak hanya digendong layaknya sebuah ransel, tas ini juga bisa dipakai oleh ibu yang menyusui. Karena di bagian belakangnya dilengkapi resleting untuk memasukkan bayi. Tas ini juga dilengkapi denga bagian berbentuk popok di bagian dalam bawah.

Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan percobaan dan pembuatannya adalah 1 tahun. Dana yang dibutuhkan sebesar Rp8,5 juta, mereka peroleh dari Kementrian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemristek Dikti). Untuk satu unit inkubator menghabiskan dana Rp1,5 juta. Jika harga satu unit inkubator konvesional buatan Wenten sekitar Rp. 50 juta, maka karya mahasiswa ITB tersebut hanya 1/50-nya saja.

Hasil karya mereka ini memenangi penghargaan kategori Hasil Poster Terbaik untuk Program Kreatifitas Mahasiswa Bidang Karya Cipta (PKM-KC4) pada acara Pekan Nasional Ilmiah bulan Agustus lalu.

Sayangnya, alat ini belum diproduksi secara massal, masih terganjal lisensi dan sertifikat. Dibutuhkan wewenang dari pihak terkait untuk mengeluarkan izin tersebut jika ingin memproduksinya. Upaya memroduksi inkubator ini saya nilai sudah sangat mendesak, mengingat hal di atas tadi. Jangan sampai kita berlama-lama menyikapinya. Akan lebih fatal bila terjadi bencana, baru memikirkan melakukan tindakan. Jalan satu-satunya apalagi kalau tidak mengeluarkan dana lebih besar? Kita terpaksa membeli harga Inkubator yang berpuluh juta rupiah. Walhasil, bukannya berhemat malah jatuhnya tambah boros.

Semoga saja dipermudah semua urusan administrasinya sehingga cepat bisa diproduksi. Inkubator ini temuan bermanfaat dari anak bangsa. Tidak hanya sekedar diapresiasi dalam bentuk piagam, tetapi direalisasikan dalam bentuk produksi. Jangan sampai negara lain yang membeli hak ciptanya, padahal karya itu hasil pemikiran anak bangsa.







You May Also Like

4 komentar

  1. Wow, keren ya kreasi anak bangsa kita. Mudah-mudahan bisa cepat diproduksi massal euy. Aku yakin bakal bermanfaat banget, mb

    Kebayang kan pas bencana,bayi-bayi bisa kedinginan kalo malam. Bakal terbantu banget sama alat ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, benar. Kita berharap cepat bisa diproduksi. Ya bukan mengharap bencana sih, ya, tapi kalau sudah ada persiapan kan lebih lega. Tim sar juga lebih siap, tidak lagi memikirkan cara bagaimana mengevakuasi bayi agar aman.

      Hapus
  2. Wohoooo kok bisa2nya ya kepikiran bikin inovasi kaya gitu. Bisa menyelamatkan generasi penerus bangsa nih. Yaa andai (amit2 sih) ada bencana, jiwa bayi2 sbg penerus bangsa bisa terselamatkan.

    BalasHapus
  3. 1/50 dari harga pasaran inkubator..? Hemat sekali itu. Pasti kalau sudah diproduksi masal bisa membantu banyak bayi yang memerlukan..Semoga dimudahkan proses perijinan, produksi dll

    BalasHapus