Apakah Anda Setuju Jika Suami/Istri Seorang Koruptor Juga Dihukum?

by - Oktober 08, 2017



Saya setuju...

Karena pasangan adalah orang yang paling dekat dengan kita. Apapun yang dilakukan oleh pasangan, orang yang bisa dimintai keterangan adalah suami/istrinya. Pasangan adalah orang yang mengetahui hal paling rahasia dari kita. Bukan saja hal baiknya, kebiasaan terburuknya pun kita ketahui luar dalam. Maka tidak heran, jika orang lain ingin mengetahui tentang kondisi kita, terkait masalah keterangan penting misalnya, orang yang diberondong pertanyaan ya pasangan.

Di rumah sakit, misalnya, pasien baru saja masuk ke dalam ruangan IGD, pertanyaan yang pertama kali dilontarkan oleh pihak rumah sakit, seperti kalimat di bawah ini:

”Keluarganya mana?”

“Istri/suaminya yang mana?”

Tentu saja jika pasien tersebut berujud laki-laki atau perempuan dewasa. Kalau anak muda yang ditanya tentulah ibu atau bapaknya.

Untuk mengajukan pinjaman di bank saja, istri/suami harus ikut menandatangani surat perjanjian. Pinjaman tidak akan dicairkan jika salah satu tidak menandatanganinya. Dalam hal ini bisa disimpulkan, jika terjadi satu dan lain hal, yang berkenaan dengan tanggung jawab, pasangan suami istri harus saling memikulnya.  

Pernah lihat kan, hutang di bank tidak berhasil dilunasi, maka hartanya disita. Sekeluarga menderita akibat hutang. Itu perlakuan tegas dari pihak bank terkait pelunasan hutang, yang bisa jadi orang tersebut berhutang untuk modal usaha. Usaha untuk menafkahi keluarganya dengan cara yang tidak merugikan orang lain. Lalu mengapa koruptor keji yang telah merugikan banyak orang untuk memperkaya diri sendiri tidak diperlakukan lebih tegas?

Jika suam/istrinya melakukan tindakan korupsi, hampir bisa dikatakan mustahil jika pasangannya tidak mengetahuinya. Bukankah perubahan dari penghasilan dan gaya hidupnya bisa diketahui? Bila penghasilan tidak sesuai dengan gaya hidup tidakkah patut dicurigai? Terlihat kok seseorang yang sedang ‘kaget’ bila keuangannya sangat makmur. Apa-apa mau dibeli, sangat royal mengeluarkan uang, penampilannya juga menyesuaikan dengan kondisi kantong. Enggak bisa dibantah lho, seseorang yang punya uang banyak dengan cara mudah dan instant, selalu tergoda untuk memperlihatkannya melalui penampilan. Cocok sekali bila dinamai OKB. Mereka kaget, heboh dan norak.

Maka jika benar terbukti telah melakukan tindakan korupsi, suami/istri koruptor harus di hukum berat, karena: 

Jadi penadah hasil kejahatan pasangannya.
Kedengarannya sadis ya, penadah. Ya memang sadis, karena tidak curiga atau pura-pura tidak tahu darimana asal uang yang diterima. Padahal semestinya mempertanyakan bahkan jika perlu menyelidikinya.

Tidak melaporkan kejahatan korupsi ke pihak berwajib.
Jika sudah terbukti asal uang dari cara yang tidak dibenarkan, pasangan wajib melaporkan kepada pihak yang berwajib. Tapi tentu saja harus diawali dengan mediasi yang benar, ajaklah pasangan bicara dan memintanya untuk tidak melakukan hal tersebut. Jika perbuatan tetap berlangsung, maka mau tidak mau tindakan berikutnya adalah melaporkan perbuatan tersebut. Tentu saja berat, namun demi menegakkan kebenaran sekaligus menghentikan perbuatan salah pasangan.

Tidak peka terhadap jumlah harta atau kekayaan yang di hasilkan suami/istri.
Nah ini memang yang agak aneh, masa iya tidak merasakan perubahan gelagat pasangannya? Atau jangan-jangan justru menikmatinya?

Menurut Teten Masduki, Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW), tindak pidana korupsi merupakan kejahatan luar biasa karena memiliki sifat meluas dan sistematis. Korupsi  juga menghancurkan sendi-sendi kehidupan perekonomian negara. Selama ini koruptor hanya dikenai hukuman lima tahun penjara, hal ini dinilai sangat ringan. Hukuman tersebut tidak memberikan efek jera bagi pelakunya. Karena hukumannya terlalu ringan, akibatnya korupsi terus merajalela maka banyak yang mengusulkan para koruptor sebaiknya dijatuhi hukuman mati.

Jika diam saja melihat pasangan melakukan tindakan korupsi, bahkan turut andil menikmatinya, maka sangat wajar sekali istri/suaminya juga dihukum, karena dinilai turut bekerjasama.
Sepertinya, selama ini pasangan pelaku korupsi hanya dimintai keterangan. Maka tidak heran jika banyak yang melakukan pencucian uang dengan mengatasnamakan pihak lain pada hartanya. Setelah ditelusuri, ternyata pemilik namanya tersebut bukanlah orang jauh. Masih dalam daftar anggota keluarga. Baik dari pihak suami/istri. Percaya mereka tidak tahu?

Untuk mencegah korupsi terus berkembang memang seharusnya orang terdekat berani bertindak tegas. Karena jika hal itu dibiarkan bukan saja menimbulkan kesengsaraan bagi keluarga, seluruh rakyat pun akan terkena dampaknya.

                                    jangan sampai anak keturunan kita dibebani dosa korupsi

Awal untuk memulai pastilah sulit. Karena sudah pasti akan dinilai ‘tega’ melaporkan pasangan sendiri. Membayangkan pasangan dipakaikan baju cerah ceria berwarna ‘orange’ tentulah peristiwa yang memalukan, Tapi perbuatan salah tidak akan pernah abadi. Suatu hari akan terungkap juga, hanya tinggal menunggu waktu saja sebenarnya. Namun bila terlambat mencegahnya, maka anak keturunan kita akan menderita selama-lamamya.

Keturunan koruptor, mau tidak mau akan dinilai ‘miring’ oleh masyarakat. Anggota keluarganya tidak akan pernah lagi merasa bebas bersosialisasi. Mereka akan dihubung-hubungkan dengan sebuah perbuatan korup padahal bukan dia langsung pelakunya. Tapi mau bagaimana lagi, pasti mereka menilai telah turut menikmatinya.

Sebelum siksa batin itu menghantui keturunan kita, lebih baik mencegah daripada menderita dikemudian hari. Disepanjang sisa hidup...

Anda setuju kan ikut memerangi korupsi?









You May Also Like

8 komentar

  1. tergantug jika si istri ikut berperan berarti pantas di hukum seperti kasus firt trvel

    BalasHapus
  2. setuju banget! istri wajib tau asal usul pendapatan suami, namanya juga rezeki keluarga. selain menghindari hukuman, juga untuk saling mengingatkan, supaya bersamanya dunia-akhirat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sependapat kita mbak, biar efek jeranya kena banget...

      Hapus
  3. Harusnya memang begitu mba. Aku setuju bgt kalo pasangannya jg dihukum. Kalo di bank asing tempat aku kerja skr, kalo nasabahnya terlibat korupsi, istri dan anak2nya ga bakal kita trima jd nasabah juga. Hrs tutup rek kalo udah telanjur buka. Kita strict kalo udh soal pencucian uang ato tindak pidana keuangan gini.

    Ada 1 temen kuliah suamiku, yg skr ini kerja di kehakiman mba. Itu gaya hidupnya berubah total. Beli rumah seharga 800an cash. Beli mobil fortuner cash. Baru2 ini dia umroh ama semua keluarganya. Aku speechless aja sih. Gajiku ama gaji dia, aku yakin lbh besar gajiku. Tp aku msh blm mampu beli fortuner cash wkwkwkwkwkw..

    Kdg aku dan suami discuss, istrinya apa ga curiga yaa.. Ga mungkin banget lah kalo ga ngerti. Trs kmrn itu dia nanya k aku apa di bank ku bisa tukar uang USD.. Bukan masalah bisa ato ga.. Tapi sebagai orang bank, aku curigalah, ngapain juga pns kehakiman, punya USD sebanyak itu.. Gaji mereka dibayar RP. Bukan dollar kan :p.

    Kalo kita mencurigai yg begini, ada line khusus utk kita ngelaporin ga sih.. Krn biar gmn aku kan ga punya bukti. Cm curiga dr transaksi dia yg ga wajar aja.

    BalasHapus
  4. Wah speechless juga saya bacanya...
    Kalau mereka punya bisnis tambang atau sawit, atau apalah lainnya, mungkin juga bisa.
    Kalau cuma suaminya doang yang kerja, ya perlu dipertanyakan.
    Line KPK ada enggak ya?

    BalasHapus
  5. kalau kita punya bukti lebih baik lapor ke LPSK Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. Karena pasutri memang harusnya tahu sama tahu apalagi urusan keuangan keluarga seperti ini. Cuma kadang orang lain nggak punya bukti...ada "Kontak Kami" di KPK mungkin bisa dicoba

    BalasHapus