7 Alasan Mengapa Pasangan Muda Enggan Punya Anak

by - Oktober 06, 2017

anak-anak tingkahnya selalu menyenangkan


Hampir semua orang berpikir jika sudah menikah hal yang paling ditunggu adalah memiliki momongan. Banyak yang resah jika tak kunjung diberi keturunan. Di Indonesia sendiri masih menganggap bahwa kehadiran seorang anak adalah keniscayaan. Bahkan beberapa suku ada yang menganggap bahwa belum sempurna sebuah keluarga tanpa kehadiran seorang anak laki-laki. Tidak heran jika anak mereka banyak karena terobsesi ingin memiliki anak laki-laki sebagai penerus keturunan.

Siapa yanag tidak gemas dengan tingkah lucu anak-anak? Meskipun hari-hari diwarnai dengan tangisan, rengekan, tawa, kenakalan khas anak-anak, belum lagi bila mereka tantrum. Semuanya seru, rasanya waktu  berlalu demikian cepat, tidak terasa karena saking repotnya mengurus anak-anak. Maka tidak jarang banyak yang berkata, “Rasanya baru kemarin menggendongnya, kok sekarang sudah setinggi saya?”

Kehadiran seorang anak adalah kebahagiaan bagi mereka. Meskipun katanya kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Mereka hanya berpikir melakukan yang terbaik sebisa mungkin.

Namun sekarang, pasangan muda zaman milenial banyak yang memutuskan tidak memiliki anak. Mobilitas mereka cukup tinggi, waktu bertemu rasanya hanya cukup untuk menuntaskan urusan dua orang manusia dewasa. Mereka menganggap jika kehadiran seorang anak justru menambah masalah baru. Urusan karir dan hubungan sebagai pasangan saja belum beres, konon lagi ditambah dengan kehadiran seorang anak? Ketidaksiapan mental untuk mengasuh anak adalah alasan yang paling mendasar.

Namun demikian, bukan untuk dinyinyiri keputusan pasangan muda tidak memiliki anak. Mereka membuat keputusan yang dianggap aneh oleh orang awam, tapi bagi mereka adalah hal yang membahagiakan. Kalau saya sendiri memiliki keputusan lain (ya iyalah, sudah menghasilkan dua orang bocah juga...), dan tidak berani menganggap keputusan mereka salah.

Apapun keputusan yang diambil oleh tiap-tiap pasangan adalah hak bagi pelakunya. Apa yang menurut kita benar belum tentu membuat mereka bahagia dan nyaman. Hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang membuat orang lain tersinggung. Seringkali pada sebuah acara seseorang mengajukan pertanyaan yang membuat orang lain tidak nyaman.

Baca juga di sini

Hindarilah menanyakan hal-hal berikut ini, ketika Anda bertemu dengan pasangan yang tidak memiliki anak:

1.       “Kamu tidak suka anak kecil, ya, anak kecil kan lucu?”
2.       “Kamu terlalu mengejar karir sih, kelelahan kali...”
3.       “Kamu atau suami yang tidak subur?”

Jika mereka bukan orang terdekat Anda, lebih baik hindari pertanyaan yang bersifat pribadi tersebut. Menjaga perasaan orang lain lebih baik daripada mengacaukan suasana hati. Coba bayangkan, kalau tiba-tiba seseorang kita ajukan pertanyaan di atas, lalu reaksinya jadi jutek? Syukur kalau tidak dibalas dengan ucapan yang tajam, jika dia balik menyerang dengan kata-kata yang setajam silet? Duh, bukannya menyenangkan, moment yang diharapkan bisa mempererat silaturahmi justru bisa jadi penyebab keretakan hubungan baik.

Mengapa mereka tidak ingin memiliki anak? Beberapa alasan berikut ini yang menjadi pertimbangannya:

Takut tidak bisa menjadi orangtua yang benar
Menjadi orangtua adalah pilihan. Jika sudah memutuskan memiliki anak, maka semua konsekwensinya harus dipertanggungjawabkan. Tidak hanya memberikan rasa nyaman dan perlindungan dari hal-hal yang membahayakan, anak-anak juga harus dididik agar menjadi manusia yang berguna. Belum lagi ketakutan jika disalah-salahkakn dalam merawat anak. Ketakutan tidak bisa memberikan pola asuh yang benar membuat mereka memutuskan tidak memiliki anak.
moment menyenangkan menjadi orangtua


Faktor ekonomi
Hidup di zaman modern, tidak bisa dipungkiri, bahwa mengasuh dan mendidik anak-anak membutuhkan dana yang besar. Biaya hidup semakin tinggi, dikhawatirkan biaya tersebut semakin tidak bisa terkendali di kemudian hari.

Takut tidak bisa menata emosi dengan baik
Persaingan di dunia kerja yang tinggi membuat mereka takut tidak mampu membagi perhatian antara karir dan anak. Hidup mereka fokus untuk memikirkan pekerjaan dan pencapaian prestasi yang tinggi. Kehadiran seorang anak akan menambah beban emosi dan pikiran karena tidak bisa merawat anak dengan baik.

Tidak ingin menurunkan sifat buruk
Meskipun tidak sepenuhnya benar, ketakutan akan menurunkan gen yang buruk membuat mereka memilih tidak punya anak. Cukup mata rantai diputus sampai mereka saja daripada anak akan menderita penyakit turunan. Mereka sangat merasa bersalah jika tetap ingin punya keturunan dari rahim sendiri.

Hamil identik dengan penderitaan
Wanita hamil dengan kondisi yang terlihat kerepotan membuat sebagian orang menilai adalah hal yang tidak menyenangkan. Wanita hamil dianggap tidak bebas beraktifitas. Belum lagi ketakutan mengalami rasa sakit ketika proses melahirkan. Mereka juga takut sesudah melahirkan tubuh tidak bisa kembali normal.

Adopsi
Ada yang berpendapat daripada menambah jumlah manusia tapi tidak terawat lebih baik mengurus anak-anak yang terlantar. Mereka memilih mengadopsi anak untuk mengurangi penderitaan.

Merasa sudah saling melengkapi
Tanpa kehadiran seorang anak mereka sudah cukup merasa bahagia dan saling membantu. Point yang satu ini bukan karena mereka tidak menyukai anak-anak, tetapi mereka sudah merasa puas dengan hanya berdua saja.

So apapun keputusan orang lain, kita tidak boleh memaksakan pemikiran kita pada mereka. Jangan berdebat, jangan menganggap kita paling benar...




-           

You May Also Like

14 komentar

  1. mungkin jarang ya kk, pasangan yang begini.. namun kebanyakan yg saya temui sih banyak yang berharap segera dapat momongan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di kota-kota besar biasanya, kalau du perkampungan kayaknya gak ada... 😁

      Hapus
  2. Ada memang yang seperti ini bahkan saya kenal. Alasannya ya itu sperti yg disebutkan, merasa berdua juga sudah ramai, dll. Kalau memang sudah prinsipnya demikian memang saling menghargai itu lebih baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah...
      Sesuatu yang kita anggap aneh bagi orang lain nyaman, asalkan tidak mengganggu hak oranglain, ya sudahlah...yakan?

      Hapus
  3. Iya bun dulu waktu sehabis nikah aq kosong 7 bulan. Sempet deg2an jg n parnoan apalgi persepsi org bnyak2 ya. Allhamdulillah bulan k 8 dksh 😃

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah baru 7 bulan jugak? Sabarlah Neng...😄

      Hapus
  4. Pernah tahu pasangan seperti ini, teman yang suaminya bukan orang Indonesia. Mereka berprinsip untuk tidak punya anak.

    Kalau sekarang, teman-teman anakku sekolah trendnya anak tunggal. Hampir mirip di atas alasannya. Satu saja cukup, ah. Kalau banyak kerepotan, dll.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu banyak anak banyak rezeki, sekarang banyak anak banyak masalah, hiks....🤔

      Hapus
  5. Kalau di daerah kita jarang juga yang kayak gini mba..

    BalasHapus
  6. Betul Kak, kita gak perlu memaksakan pemikiran kita pada orang lain. Setiap rumah tangga punya visi, misi dan kesukaannya masing-masing. Gak perlu disamaratakan ya ...

    BalasHapus
  7. Boleh beda, asal bertanggungjawab dan tidk mengusik orang lain, yakan?

    BalasHapus
  8. Saya belum pernah bertemu langsung dengan pasangan seperti ini,apa mungkin saya yang terlalu cuek ga suka komentar hidup orang ya Mbak Sri hehehe

    BalasHapus
  9. Ya mungkin juga, kalau kita gak akrab banget masa nanya-nanya dalem? Yakan...

    BalasHapus