6 Cara Berpidato Agar Audiens Tidak Gagal Paham

by - Oktober 18, 2017



Tidak semua orang mampu berpidato dengan baik dan memikat. Sebagian masih tetap demam panggung, meskipun berkali-kali berpidato. Bagi yang khawatir isi pidatonya keluar dari konsep, memilih membaca salinan, sesekali saja memandang audiens. Biasanya dilakukan oleh pejabat penting negara, cara ini sepertinya memang harus dilakukan karena berkaitan dengan data-data yang spesifik.

Menurut Anda, gaya berpidato yang bagaimanakah yang mampu membius audiens? Apakah ia yang berkobar-kobar, atau seseorang yang tenang dengan tatapan mata menghujam? Ataukah dia  yang hanya fokus pada kertas? SNamun ada juga yang jarang membaca teks ketika berpidato, biasanya dilakukan ketika berkampanye atau memimpin demo. Dalam peristiwa seperti ini kemampuan berpidato dengan gerakan-gerakan bebas akan lebih menarik dan membakar semangat audiens. Seseorang dengan kemampuan berpidato hebat dan memikat dikenal dengan sebutan orator. Indonesia masih mencatat satu nama yang layak digelari seorang orator ulung, yaitu presiden pertama RI, Ir. Soekarno.

Ada 6 cara yang harus dipersiapkan ketika akan berpidato:


1.       Membuat konsep pidato

Buatlah inti dari pidato yang akan disampaikan. Kalimat-kalimatnya harus runut dan saling berhubungan. Bisa disisipi dengan pantun, humor, atau kutipan kata-kata mutiara, tetapi tidak lari dari konsep. Gunanya untuk mengatasi rasa gugup dan mencairkan suasana.

2.       Carilah refrensi sebanyak-banyaknya

Sekarang sangat mudah mencari tokoh-tokoh yang memiliki teknik berpidato yang baik. Bukan hanya narasi dan fotonya saja, videonya juga bisa dilihat berkali-kali. Dalam hal ini, channel you-tube bisa jadi andalan.

3.       Rajin berlatih

Anda bisa berlatih pidato di depan cermin. Mintalah bantuan anggota keluarga yang lain untuk menonton Anda berlatih. Selanjutnya minta pendapat mereka mengenai penampilan Anda.

4.       Berdoa sebelum berpidato

Untuk mengatasi perasaan gugup sebaiknya Anda berdoa terlebih dahulu. Berdoa akan membuat Anda tenang dan percaya diri.

5.       Kenali audiens Anda

Sebelum tiba giliran Anda berpidato, sebaiknya bertanya kepada panitia mengenai tamu undangan yang hadir. Tujuannya untuk menghindari kesalahan saat menyebutkan nama mereka.

6.       Cek kondisi  alat pidato

Setelah persiapan di atas, yang tak kalah pentingnya adalah alat pendukung, seperti mikropon, sound system dan teks pidatonya. Jangan sampai Anda sudah berdiri di atas panggung tapi pengeras suaranya bermasalah.




Beberapa teknik dari pembukaan pidato yang sering digunakan, diantaranya:

-          Mengawalinya dengan cerita lucu
-          Memperkenalkan diri
-          Berkisah tentang sebuah cerita unik
-          Bersyukur dan berterimakasih

Untuk mengatasi grogi atau demam panggung, Anda perlu memerhatikan urutan tahapan berikut ini:
  
Berdiri tegak

Saat inilah moment yang paling mendebarkan, karena semua mata tertuju pada Anda. Biarkan pemirsa menilai sikap Anda ketika pandangan mata bertemu. Edarkan pandangan ke segenap penjuru ruangan, selain menambah rasa percaya diri, sikap ini juga mengurangi rasa grogi.

Jangan terlihat gugup

Sebaiknya Anda tersenyum. Sembari mengedarkan pandangan, sunggingkan senyuman. Wajar jika  merasa grogi, tetapi jangan tunjukkan kegugupan Anda. Apalagi jika pidato dihadiri oleh lawan politik, kegugupan ini akan dijadikan celah untuk membuat Anda semakin terlihat kacau.

Tersenyum

Senyum bisa menetralkan suasana hati. Ketika Anda tersenyum, orang-orang yang menyaksikan penampilan Anda juga tertular kedamaian.

Menyapa undangan

Sesudah tersenyum sembari mengedarkan pandangan, langkah selanjutnya tentu memulai berpidato. Awalilah dengan cara menyapa undangan yang hadir terlebih dahulu. Biasanya ada daftar tamu undangan yang dianggap penting. Anda bisa memintanya pada panitia.

Intonasi dan artikulasi yang terkontrol

Nah, seringkali terjadi karena merasa gugup, tidak bisa mengendalikan diri, suara akan terdengar bergetar atau intonasi suaranya tidak jelas. Anda mungkin bisa berdehem atau batuk-batuk kecil untuk mengealihkan perhatian para tamu. Sekalian pada saat itu Anda tarik nafas dan hembuskan perlahan untuk meredakan ketegangan.

Jangan melampaui waktu yang disediakan

Ketika semua sudah teratasi dengan baik, jangan sampai semangat berpidato menyebabkan Anda lupa pada batas waktu yang sudah ditentukan oleh panitia. Selain jadi terburu-buru pada saat menutup pidato, Anda juga kehilangan moment penting menyampaikan intisari dari paparan yang sudah disampaikan. Karena sebaik-baik pembicaraan tentu yang bisa menyimpulkan apa yang dibicarakan bukan?

Yang terpenting ketika berpidato adalah audiens memahami apa yang kita sampaikan. Jangan sampai mereka bingung, bubar acara dipenuhi dengan tanda tanya. Jika dibuka kesempatan tanya jawab, jawablah pertanyaan dengan singkat dan jelas.

Semua cara baik, yang terpenting audiens bisa mengerti apa yang sedang disampaikan. Jangan sampai karena ingin dinilai jago berpidato, lantas meniru gaya seseorang, akibatnya materi yang disampaikan membingungkan. Alih-alih mengerti, sepanjang pidato disampaikan, audiens seperti menyaksikan pertunjukan komik garing yang membosankan.

               

 foto-foto diambil dari Pixabay.com

You May Also Like

2 komentar

  1. Susah kalo ga gugup euy. Tapi mungkin butuh waktu ya

    BalasHapus
  2. Susah dung, yang master aja pas pembukaan kayaknya masih tetap ndredeg ��

    BalasHapus