3 Hal yang Menyebabkan Seorang Pria Patah Hati

by - Oktober 04, 2017


                                                                  geralt (pixabay.com)


Kebanyakan kaum wanita yang mengalami patah hati karena perceraian. Karena patah hati jadi mengurung diri, menangis berhari-hari, lupa merawat diri sendiri bahkan anak-anak terabaikan. Tidak sedikit yang menjadi lemah ingatan hanya kerena diceraikan oleh sang suami.

Namun tidak sedikit pula yang tetap tegak berdiri demi anak-anak, melanjutkan hidupnya dan menjadi jauh lebih baik daripada ketika masih bersuami. Apakah perempuan tangguh model begini tidak mengalami patah hati akibat perceraian? Belum tentu...

Wanita-wanita tangguh tetap terluka hatinya. Tetapi mereka pintar mengendalikan diri. Kebanyakan dari mereka patah hati ditandai dengan mengambil keputusan tidak ingin menikah lagi. Tidak memiliki kepercayaan dengan lawan jenis juga merupakan tanda seorang wanita sedang mengalami patah hati permanen.

Apakah patah hati hanya dialami oleh kaum wanita? Dikutip dari pernyataan Dewi Faeni seorang hipnoterapis dan konsultan pernikahan, pria hanya 17 persen yang mengalami patah hati. Sebenarnya mereka juga merasa terpukul dan sedih karena perceraian. Namun mereka sembuh lebih cepat daripada perempuan. Secara kodrat laki-laki lebih banyak menggunakan otak kiri sehingga perasaan untuk terlibat dengan romantisme masa lalu itu kemungkinannya lebih kecil.

Lelaki lebih cepat  move on, hakim belum ketuk palu menyetujui perceraian, mereka sudah menjalin hubungan dengan perempuan lain.

Sebagai contoh, seorang pria berusia sekitar 38 tahun sudah berniat kembali berumah tangga, padahal harta gono-gini masih dalam persidangan. Tidak ada yang menyangka pria tersebut akan semudah itu mencari ganti istrinya, mengingat selama ini ia sangat bergantung sepenuhnya pada sang istri.

Ketergantungan pria itu bukan cuma rasa cinta yang demikian besar terhadap istrinya, selama ini seluruh  keperluan sehari-harinya sang istrilah yang menyiapkan, dari A sampai Z. Pria tersebut seorang penderita tunagrahita ringan (tidak bisa berpikir masalah yang berat-berat).

Suatu hari sang istri ingin mengakhiri pernikahan yang sudah berusia belasan tahun, alasannya ia memiliki PIL. Pria itu dengan wajah datar menceritakan keinginan istrinya kepada keluarga besarnya. Tentu saja berita itu mengejutkan keluarganya, mereka bingung dan takut pria itu akan terpukul mentalnya. Sebuah kekhawatiran yang cukup beralasan, selama ini, bila berpikir terlalu berat, pria itu langsung sakit.

Berbagai usaha mediasi dilakukan guna mencegah perceraian.  Tidak sekedar memaafkan kelakuan istrinya, keluarga besar seolah menganggap hal tersebut bukan kesalahan sang istri. Mungkin mereka memaklumi, betapa berat menjadi istri seorang pria yang justru minta dilindungi, bukan istri yang memperoleh perlindungan dari suaminya.

Tapi tekad istrinya sudah bulat, ia tetap ingin berpisah. Apakah kekhawatiran keluarga terbukti? Kenyataan justru sebaliknya. Pria tersebut seolah tidak menggunakan sisa otaknya untuk bersedih dan sakit seperti kejadian selama ini. Ia justru mengabulkan dengan tenang keinginan istrinya.

Keluarga sudah harap-harap cemas, bersiap menghadapi semua kemungkinan terburuk. Namun jangankan ia jatuh sakit, tidak menunggu waktu hingga berbulan-bulan, pria itu sudah berencana menikah lagi. 

Bayangkan, seorang pria dengan kelemahan tunagrahita saja begitu mudah move on dari romantisme masa lalunya, konon lagi pria normal? Apakah anggapan tersebut sepenuhnya benar? Apakah seorang pria sehat baik fisik maupun mentalnya tidak akan pernah mengalami patah hati?

Kejadian yang menimpa seorang pria muda beranak satu berikut ini justru berbeda lagi, ia termasuk dalam 17 persen pria gagal move on dari masa lalunya. Ia adalah seorang pria yang mengalami patah hati permanen. Padahal pria ini memiliki semua persyaratan seorang pria idaman mertua maupun wanita.

                                                             annadlah.wordpress.com (google)



Pria ini memiliki profesi sebagai seorang pekerja seni, bekerja di sebuah PH yang tengah naik daun. Sebagai seorang pekerja seni, otomatis jadwal kerjanya bisa nyaris 24 jam, syuting bisa memakan waktu berhari-hari. Meskipun tempat syuting berdekatan dengan rumah, belum tentu bisa pulang sesusai jadwal kerja.

Jam kerja yang tidak teratur, dikejar jam tayang, membuat pria ini sangat sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk keluarganya. Semangatnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang cukup tinggi karena mereka tinggal di kota besar, ia anggap wajar ada yang dikorbankan. Tetapi sang istri tidak  bisa menerima keadaan itu. Rasa kesepiannya ia salurkan dengan cara yang salah. Ia menjalin hubungan dengan pria lain dan memutuskan untuk bercerai dengan sang suami.
                                                                     
Rasa sakit karena dikhianati, terpisah dengan anak satu-satunya, membuat pria ini benar-benar hancur. Ia mengabaikan pekerjaan yang ia anggap sebagai penyebab kehancurannya. Tapi dari semua masalah yang dianggapnya cukup berat, kehilangan anak yang selama ini menghibur hatinya adalah yang terberat. Ia dirundung rind uterus-menerus pada anaknya, meskipun sakit hati terhadap mantan istrinya.

Pria ini menyingkirkan rasa malu dan harga dirinya demi ingin bertemu dengan anak satu-satunya. Seperti orang gila, ia datang ke rumah mertuanya hanya untuk bisa bertemu dengan anaknya, padahal sudah diperingatkan karena kehadirannya dinilai mengganggu. Tidak hilang akal, ia sering menemui anaknya di sekolah, memeluk anaknya dan menangis di depan orang banyak sudah tidak membuatnya malu lagi. Yang penting bisa bertemu dan melepas rasa rindu kepada buah hatinya.

“Kehidupanku layaknya adegan drama yang selama ini kuproduksi,” terangnya. Tapi mau bagaimana lagi, memang itu jalan hidup yang benar-benar dialami oleh pria yang namanya minta dirahasiakan ini. Keikhlasannya menemui anaknya tanpa pernah menuntut agar diberi hak asuh, akhirnya meluluhkan hati mantan istrinya untuk mengalihkan hak asuhnya. Bukan main bahagianya hati pria yang memutuskan untuk tidak akan menikah lagi ini. Ia bertekad mengasuh dan membesarkan anaknya dan tidak ingin dikhianati lagi.

Ternyata ada pria yang patah hati bukan? Mengapa bisa demikian? Ternyata 3 hal berikut ini yang menjadi penyebabnya:

1.       Perselingkuhan yang dilakukan istri mengoyak harga diri pria, memukul telak egonya, apalagi bila PIL sang istri lebih muda, tampan dan kaya. Pria akan merasa rendah diri sehingga timbul anggapan bahwa ia kurang perkasa dan tidak mampu memenuhi kebutuhan lahir dan bathin istrinya.

2.       Terpisah dari anak. Siapa sangka hal ini bisa membuatnya hancur. Bagaimanapun juga anak adalah ahli warisnya secara langsung.

3.       Membagi harta gono gini, ternyata masalah ini bisa membuat pria hancur. Bagi seorang pria, membagi harta menjadi dua untuk mantan istri adalah hal yang sangat mereka tidak sukai.

Hidup memang memiliki cerita masing-masing. Apa yang dialami seseorang kadang dianggap mustahil menurut penilaian umum. Tapi semua hal bisa saja terjadi, tidak ada yang tidak mungkin.



You May Also Like

2 komentar

  1. sudah pernah bertemu dengan beberapa laki2 yang susah move on bahkan sampai sekarang.
    ya, memang ada :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang satu pribadi tidak bisa digeneralisasi, selalu ada perbedaan. Laki-laki juga ada yang susah move on ternyata

      Hapus