Pesan untuk Mamah-Mamah Muda Jangan Hiraukan Hal Berikut Ini

by - September 26, 2017



Pernah tidak, ketika menjadi seorang ibu muda, anak baru satu, Anda mengalami ‘war’ terselubung dengan sesama ibu muda lainnya? Misalnya dengan tetangga, atau teman yang tidak begitu akrab yang juga punya bayi? Ya semacam membanding-bandingkanlah, masalah berat badan bayi, pakaian, rambutnya, susunya atau bahkan warna kulitnya. Pernah...?

Jika Anda mengalaminya, abaikan saja. Aku pernah mengalami masa-masa tidak enak itu.  Sebal juga, bahkan sempat menyalahkan diri sendiri.

Acara kumpul teman, padahal cuma sesekali, dengan  membawa anak masing-masing, bukannya bahagia malah enggak enak hati. Bayangan awalnya, tentu Anda akan merasa pertemuan itu bakalan seru, apalagi diwarnai dengan hebohnya tingkah lucu anak-anak,  tapi ternyata tidak. Membahas sisi positif anak-anaknya sedikit, yang banyak justru masing-masing ibu merasa sudah paling tepat mengasuh anaknya. Karena masing-masing saling membandingkan.


Nah, anak pertamaku, yang lahir dengan berat 2,9 kg dan panjang 30cm itu dikata-katai sangat kecil. Anak mereka, dengan usia yang sama dengan anakku waktu itu, besarnya 2x lipat dari ukuran tubuh anakku. Rambutnya yang tidak sehitam dan selebat anak mereka jadi bahan tertawaan.

Ya aku mau bantah apa coba, memang begitu yang terlihat. Bahkan kemampuan mereka memberi sufor bermerk pun jadi semacam kebanggaan tersendiri. Mereka mempertanyakan mengapa anakku hanya diberi asi. Ilmu parenting yang kudapat dari majalah dan koran khusus ibu dan balita sepertinya tidak berarti apa-apa. Mau bantah-bantahan? Buat apa, sama-sama ibu muda, beranak satu, minim pengalaman tentunya. Meskipun dataku komplit, lah buat apa, wong mereka saja enggak suka baca.

Untungnya punya suami yang selalu menguatkan. Dia tetap mendukung asi ekseklusif, memahami bagaimana repotnya urus bayi. Soal ukuran dan berat badan bayi dia juga tidak mempermasalahkan. Malah kata beliau anak asi memang begitu, tidak akan pernah kelebihan berat badan. Asalkan anak kami ceria, matanya bening dan tidak gampang sakit berarti semua baik-baik saja. Dukungan suami tidak berubah untuk anak yang berikutnya.

Tapi ada juga tingkah konyolku yang sedikit terbawa pengaruh untuk mengupayakan rambut anakku bisa hitam lebat. Segala macam ramuan dari bahan organik yang disarankan orangtua pernah kucoba. Mulai dari mengolesinya dengan lidah buaya, daun cabai dan daun orang-aring kujadikan olesan dengan cara dihaluskan, pernah kulakukan. Mengolesinya dengan minyak kemiri juga pernah. Tapi hasilnya nihil. Malah kulit kepalanya jadi kemerah-merahan. Akhirnya kuhentikan segala usaha itu, dan sangat menyesal karena sudah merasa menyakiti bayiku sendiri.

Jangan khawatir dengan segala macam komentar orang. Yang perlu kita pegang teguh adalah bahwa kita mengasuh dan mendidiknya sudah semaksimal yang kita pahami. Bukan asal-asalan, bukan ikut-ikutan apalagi ikut komentar orang yang berdasarkan ilmu ‘katanya’.


Semua akan tumbuh sesuai waktunya. Asalkan kita sudah menjaganya sebaik mungkin, rasanya tidak perlu khawatir. Jangan membandingkan anak kita dengan anak orang lain. Setiap manusia memiliki ciri khas sendiri, kemampuan setiap keluarga dalam memenuhi kebutuhan anaknya juga berbeda. Menyama-nyamakan kondisi rasanya sangat tidak tepat. Kadang, perkara dimana kita memberikan suntikan imunisasi pada anak pun jadi pembahasan. Seolah kalau dibawa ke klinik ternama anaknya lebih sehat dan vaksinnya lebih bermutu. Padahal cuma perkara tempat. Memangnya ada yang bisa membuktikan pengaruhnya kalau diberikan di puskesmas atau  pos yandu itu lebih buruk dari sebuah klinik ternama?

Jadi ‘war’ enggak penting itu, sejak belum adanya sosial media sudah ada. Cuma polanya masih berupa bisik-bisik gosip tetangga. Kadang fikiran nakalku sering juga seliar ini, “Sudah jadi apa sih anak-anak mereka yang kecilnya diklaim hebat itu?”

Piss...

  

You May Also Like

26 komentar

  1. Perang yang tak berkesudahan. Padahal juga nggak ada yang kalah atau menang ya, Mbak..:)
    Kadang geram juga dengarnya, panas telinga..hahaha. Tapi kalau ditanggapi, apa bedanya kita dengan mereka. Ya, sudah..setuju tuh..kita lihat saja nanti hasil akhirnya

    BalasHapus
  2. Hehehe... Saya jg dulu pernah ngalamin gitu mb...
    Memang cara yg terbaik abaikan mrk, kita tetap berjalan sesuai ranahnya ��

    Tetap semangat mom ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda orang beda rakdir, tidak ada yang perlu dipersoalkan, bukan?

      Hapus
    2. Urus tanggung jawab masing-masing saja yakan..😊

      Hapus
  3. lupa dulunya bagaimana, cuma sekarang jika lihat anak-anak bayi yang dikasih sufor sama ornag tuanya agak sedikit prihatin, padahal sang ibu juga bukan wanita pekerja, dengan alasan asi sedikit .. hmmm, tapi sepetinya sekarang banyak para ortu yg sudah menyadari pentingnya ASI.Mbak sri kereen anaknya udah di kedokteran :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya bahagia sekali membaca banyak ibu-ibu sekarang mempert asi untuk anaknya, meskipun mereka bekerja di luar rumah. Tifak lagi khawatir kalau anak-anak saya kelak nantinya harus bekerja di luar rumah juga 😊

      Hapus
  4. Bener bun. Saya pernah merasakan dinyinyirin begitu. Tetapi, dari situ saya jadi belajar untuk berhati-hati jika berbicara dengan orang lain. Aduhhh harusnya sesama emak2 itu harus peka ya. Karena menjadi ibu tidak mudah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi sekarang xaman sosmed kan, war itu mudah sekali dilakukan. Perkara alis pun bisa jadi urusan, wkwkwk....

      Hapus
  5. Salah satu cara hidup tenang adalah nggak usah dengerin mulut-mulut nyinyir ya mbak :) sepakattt

    Aku berusaha untuk santai aja dan pasang muka datar kalau ketemu orang rese. Hihi.. biarlah mereka ribut sendiri. Yg penting kita happy :) :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tips yahud...tapi jarang emak-emak bisa gitu.😁
      Keluar asap dari kepala...wkwkwk

      Hapus
  6. Jawaban andalan saya kalo di tengah 'war' adalah: Ooo... Hehe... Biarlah, nyenengin yang ngerasa paling bener. 😁😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...koe dek...dek....
      Hebatlah gak open gitu..😁👍

      Hapus
  7. Setuju banget ini. War yg tak pernah berujung. Sebagaimana pertanyaan2 yg tak berujung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selalu terulang dari zaman ke zaman 😀

      Hapus
  8. Selalu begitu ya mba... Srg kli bgtu ya mba klu ibu2 dh ngumpul ada aja yg mau dikomenin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau komen gak membandingkan kayaknya saya maklum, kadang bisa ngasi saran gitu. Tapi kalau, "Bahan baju bayimu ini kok gini? Aku beli yang gini buat anakku, di toko ini..."
      Lah nyamain kemampuan finansial itu menurut saya bikin ilfill...

      Hapus
  9. Itu tuh yang komen kulit anak saya emang napa? Yg penting hatinya bersih, makannya halal, yg nyinyir minggir ghaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, pengen bilang gitu duluu...hahaha

      Hapus
  10. anakku lahir 2,6 kg abis itu bilirubin kuning dijemur terus jadi kulitnya gosong >> dinyinyirin, rambutnya tipis harusnya begini begitu > dikomentarin, badannya kecil ih kurus ga dikasih makan ya coba kasih ini itu > komen sok tau
    yah begitulah LIFE mba kalau dengerin apa kata orang bisa sinting ga waras wkwkwk yg penting sebagai ortu kita tahu yang terbaik buat anak kita dan berusaha kasih yang terbaik y mb :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dek bener, lakukan yang terbaik saja buat anak kita. Setiap orang kan kasusnya berbeda, suport boleh, nyinyir no way...😊

      Hapus
  11. Banyak ini mbak, aku bgalamin banget tapi ya sudahlah yang penting anak kita sehat.

    BalasHapus
  12. yupz jangan membanding-bandingkan. tak ada yang suka dengan hal yang satu itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahkan anak kecil gak suka dibanding-bandingkan...

      Hapus