Pakaianku Menahan Tingkah Lakuku

by - September 26, 2017



Sampai dengan hari ini, sungguh tidak berani menilai diri ini sudah ‘shaleha’. Akantetapi upaya ke arah sana terus dilaksanakan. Aku yang dulu meledak-ledak, pelan-pelan ingin memperbaiki diri agar bisa lebih tenang dalam segala situasi. Juga masih belum yakin kalau sudah bisa mengendalikan emosi dengan baik, tapi dengan penampilan seorang ‘muslimah’ yang menutup rapat auratnya, setidaknya pakaian ini bisa mengingatkan diri sendiri. Kuakui, berpakaian syar’i bisa menjadi semacam ‘warning’ ketika emosi sudah sampai di ubun-ubun.

Lalu sejak kapan aku menutup aurat dengan rapat (bukan berniqab)? Tanggal pastinya aku lupa, tetapi yang kuingat ketika anak keduaku masih bayi. Berarti sudah sekitaran 13 tahun lebih, usia anak keduaku sekarang 14 tahun. Ketika memulainya dulu tentu jadi bahan perhatian orang-orang yang belum terbiasa. Ketika mereka melihat kakiku yang berkaus padahal siang hari, mereka bertanya,”Sri sedang demam, ya?”

Bersama teman-teman kecil, sudah terbiasa berpakaian syar'i jadinya




Tidak salah pertanyaan mereka kan? Memang lazimnya orang berkaus kaki di siang hari, bukan orang kantoran lagi, kalau tidak sedang sakit, apalagi coba? Aku juga tertawa geli waktu itu, benar juga, batinku. Dan untuk menjelaskan kalau telapak kaki adalah aurat yang wajib ditutup, aku masih segan. Pelan-pelan, jika mereka melihatku tetap istiqomah mengenakannya tentu mereka paham, pikirku waktu itu.

Orang terdekat dan tetangga mungkin merasa aneh, karena aku merubah pakaianku dengan daster batik punya Mamak yang sangat gedombrangan untuk ukuran tubuhku. Maklumlah, untuk beli gamis baru yang tentu saja tidak cukup kalau cuma dua pasang, akan berimbas pada uang belanja, karena waktu itu sudah di ujung bulan. Memang ‘hijrah’ berpakaianku itu tiba-tiba saja kulakukan. Dulu sempat risih kalau lihat perempuan berpakaian begitu, apa enggak ribet pergerakannya, itu saja pertanyaan di kepalaku. Tapi yang namanya ‘hidayah’ memang perlu disegerakan, jangan ditunda.

Bukan karena ikut sebuah partai atau organisasi. Tapi role mode muslimah salah satu partai memang cukup ‘menginspirasi’ku saat itu. Setidaknya aku merasa terbantu kalau orang lain bertanya, mengapa aku sekarang berjilbab panjang, bergamis longgar dan berkaus kaki. Semua kulakukan karena memang menyadari bahwa Alah memerintahkan menutup aurat, hanya telapak tangan dan wajah saja yang boleh terlihat agar mudah dikenali.
              Semoga tetap istiqomah, Aamiinn....



Bagiku pribadi, berpakaian syar’i cukup bisa jadi pengendali diri. Ada semacam rasa tanggungjawab terhadap kesesuaian antara pakaian sebagai identitas perempuan beragama Islam, dengan tingkah laku keseharian. Muslimah itu ya memang wajib menutup aurat, berkata jujur, berakhlakul karimah, sebisa mungkin tidak meledak-ledak ketika marah.

Apakah keinginanku berhijrah tidak mendapatkan ujian dari Allah? Tentu saja diuji. Ada bebarapa peristiwa yang cukup menguji hatiku, diantaranya dikhianati oleh sahabat sendiri terkait masalah bisnis. Alhamdulillah punya suami yang pemahaman dan pengendalian emosinya sangat baik, beliaulah yang terus menasihati agar mengikhlaskan semuanya. Hendak menuntut ke jalur hukum? Sungguh banyak pertimbangan kami, mereka dalam kondisi kurang mampu, anak-anaknya juga masih kecil-kecil, pekerjaan suaminya, gajinya tidak mencukupi, lalu mau diapakan? Malah akan menambah daftar kesengsaraan baru bagi mereka.

“Jangan balas orang yang menyakitimu dengan dendam,” kata suami, kami serahkan saja semua pada Allah.

Selalu terpikir olehku untuk menahan diri jika ingin marah-marah. Aku ingat pakaian, ingat anak-anak, ingat marwah suami, ingat keagungan Islam, ingat bahwa semua adalah perintah Allah.
Jangan pernah menunda hidayah, lakukan saja, berbagai kesulitan yang mewarnainya akan teratasi dengan sendirinya.  Banyak informasi yang bisa didapat melalui berbagi media. Salah satu media online yang dapat memberikan informasi terpercaya, berkunjunglah  ke: https://saliha.id

Allah mewajibkan kita untuk menjadi khalifah di bumi ini, dengan cara mencontohkan segala tindak tanduk muslim sebenarnya. Belum sempurna semuanya, bahkan masih jauh dari kata baik. Tapi tetap berusaha menuju benar. InsyaAllah....



You May Also Like

2 komentar

  1. keep istiqamah kakak, saya dulu alhamdulilah sejak mondok dan mulai mengganti celana jins dengan rok, namun zaman dulu yg pake rok dan kaos lengan panjang gaya anak pasantren masih dianggap kuno, namun sekarang sejak kemunculan artis artis yang hijrah dengan syar'i, hijap syar'i jadi trend.. semog akita tetap istiqamah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin YRA..
      Iya, dulu dianggap aneh, sekarang dah lazim, alhamdulillah...

      Hapus