Mengapa Kebiasaan Mencicil itu Berbahaya?

by - September 23, 2017

                                                                       bisnis.liputan6.com

                Rachlin (bukan nama sebenarnya), sampai perlu berkonsultasi pada pakar keuangan demi keinginannya untuk sembuh dari kebiasaan mencicilnya. Bekerja di sebuah perusahaan yang cukup ternama, sebenarnya Rachlin memiliki penghasilan yang cukup besar. Tetapi pengeluarannya juga turut membengkak sesuai dengan gaya hidup yang dijalaninya. Belakangan ia pusing sendiri karena ternyata tidak punya tabungan samasekali. Penghasilannya habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan cicilan yang cukup besar.
                Ponsel, furniture, mobil dan barang mewah lainnya ia beli dengan mencicil. Dari penampilannya, Rachlin penggemar barang bermerk ternama. Kebiasaan Rachlin ini oleh konsultan dinilai sulit disembuhkan. Tetapi bila ia memiliki keinginan kuat untuk berubah bukanlah hal yang susah baginya, hanya perlu kekuatan mental untuk tampil lebih sederhana.
                Menurut sang konsultan, pengeluaran itu terbagi menjadi 4 kategori: menabung, cicilan, pengeluaran rutin dan pengeluaran lifestyle. Jika terlalu banyak cicilan pasti sulit menabung. Apalagi bila memiliki banyak tanggungan, pengeluaran rutin semakin besar akibatnya pengeluaran untuk lifestyle semakin terbatas. Semuanya saling berkaitan, bukan?
                Sebenarnya membeli barang dengan cara mencicil sudah dikenal puluhan tahun yang lalu. Bukan hal yang aneh bila kita menyebut kata ‘kredit’. Orang-orang dulu melakukannya hanya untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan tetapi bukan yang termasuk kebutuhan primer. Dan biasanya pelakunya masyarakat ekonomi lemah. Ibu-ibu yang tinggal di kampung-kampung kerap melakukannya. Misalnya untuk membeli perabotan dapur. Sesederhana itu, bukan karena gaya hidup.
                Ada istilah yang lebih keren lagi, yaitu arisan. Arisan teflon, arisan tupperware, arisan permata, dan lain-lain, yang nilainya lebih mahal. Arisan semakin beragam jenisnya, ada yang arisannya berbentuk uang. Dengan uang yang didapat bisa membeli sesuatu dengan cepat, tetapi masih punya tanggungan untuk melunasi cicilan sesuai jumlah yang didapatkan. Pelakunya masyarakat menegah ke atas, bukan lagi untuk keperluan yang mendesak, sudah bergeser pada kebutuhan sekunder.
                Semakin kemari, kebiasaan mencicil juga menghinggapi masyarakat ekonomi menengah ke atas. Bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan, tetapi beralih menjadi gaya hidup dengan nilai yang cukup fantastis. Semua barang dibeli dengan cara mencicil, bahkan untuk barang-barang yang sudah dimiliki sebelumnya. Padahal hanya untuk mengikuti trend terkini. Tujuannya hanya untuk terlihat pantas dan keren jika bergaul dengan orang-orang dari kalangan atas.
                                                         paulusbsuranto.blogdetik.com
               
                Masyarakat modern memang sulit melepaskan diri dari kebutuhan gaya hidup. Kemampuan terbatas, tetapi keinginan untuk tetap tampil mengikuti trend menjadi suatu kebutuhan, jalan satu-satunya apalagi kalau bukan dengan cara mencicil? Sekarang, dengan kehadiran kartu kredit, pengguna sering kebablasan melakukan transaksi pembelian tanpa uang cash. Akibatnya banyak sekali pengguna yang terlilit hutang dalam jumlah diluar kemampuannya untuk membayar.
                Mencicil boleh-boleh saja, tetapi perlu memperhatikan 3 hal berikut ini:
1.       Cicilan untuk sesuatu yang jelas barangnya, terutama untuk rumah dan mobil. Selain dari itu masih bisa, tetapi sudah termasuk kredit konsumtif.
2.       Cicilan jangka waktu sesuai pemakaian barang. Biasanya cicilan rumah untuk 10-15 tahun, cicilan mobil untuk 3 tahun, elektronik untuk 1-3 tahun.
3.       Batasi total cicilan maksimal 30% dari penghasilan. (sumber Rubrik Uang & Belanja majalah Femina, edisi 29 Agustus-4 september 2015)
                Hutang tetap harus dilunasi sementara trend terus berinovasi, masih terus memaksakan diri? Sebaiknya, tepuk dada tanya hati, apakah barang-barang tersebut memang dibutuhkan? Atau hanya mengikuti keinginan?

                    

You May Also Like

0 komentar