Mengapa Ipar Disebut Maut? 4 Cara Bergaul yang Benar Terhadap Ipar

by - September 24, 2017


   
                                                   


Jika Allah berkehendak, sepintar apapun menyembunyikan rahasia, entah bagaimana caranya pasti akan terungkap juga. Bak kata pepatah, “Sepintar-pintarnya menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga.” Silahkan bermain api, suatu saat pasti terbakar.

Affair antara suami seorang perempuan muda berinisial E dengan istri dari abangnya yang berinisal Y, (E dan Y  sepengambilan) tidak diketahui secara pasti kapan dimulainya. Karena sebagai keluarga besar yang terhitung sering ngumpul bareng, bertemu, bercanda dan saling tatap muka, api asmara diantara mereka belum terendus oleh siapa pun.

Lagi-lagi, karena ponsel android yang bisa dibeli dengan murah atau dengan cara mencicil inilah yang ditengarai sebagai alat mempermudah perselingkuhan. Y bukanlah perempuan kekinian, yang mengikuti banyak tren zaman sekarang. Dia hanya ibu rumah tangga biasa, yang urusannya cuma dapur, sumur dan tempat tidur. Kegiatan di luar rumah paling-paling ke warung untuk berbelanja, seminggu sekali ikut perwiridan dan antar jeput anak yang jaraknya juga tidak jauh dari rumah.

Semenjak anaknya bersekolah, mungkin Y mulai terbuka pergaulannya. Beli ponsel android, mulai punya akun fesbuk, WA dan LINE. Niatnya semula agar anggota keluarga tergabung dalam semua akun social media. Maka mulailah keluarga besar itu saling invite, chat dan acap berkomentar. Seru dan cukup menghibur sebenarnya. Tidak salah jika dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi dan mempermudah untuk menghubungi. Yang salah adalah mereka yang punya sikap untuk cendrung menyelewengkan semua kemudahan demi hasrat pribadinya.

Saling puji, itu awalnya. E katanya mengagumi kerajinan dan kecekatan Y dalam mengurus rumah tangga. Rumah Y memang selalu terlihat bersih dan rapi. Kalau dari tampilan fisiknya, Y tidaklah lebih cantik dari istri E sendiri. Perempuan lugu itu merasa demikian tersanjung karena ada laki-laki lain, lebih gagah pula dari suaminya, yang diam-diam mengaguminya. Lalu saling pang ping bertanya kabar jika beberapa waktu tidak ada kumpul keluarga.

Entahlah...sampai sejauh mana perbuatan mereka, hanya Allah dan keduanya beserta ponsel yang mereka gunakan yang mengetahuinya.
Endingnya... pada suatu hari, E sakit cukup serius, demam tinggi hingga tak berdaya untuk beraktifitas apapun. Istrinya merawatnya dengan sepenuh hati, tanpa ada rasa curiga sedikit pun. Ia begitu khawatir terjadi apa-apa dengan suaminya. Kekhawatiran yang tulus tanpa ada kecurigaan kalau suaminya telah menghianati dengan cara berhubungan dengan kakak iparnya.

Dalam kondisi lemah tersebut, Y, perempuan yang sedang kasmaran karena pujian itu tetap menghubunginya. Ia gelisah ingin datang menjenguk ke rumah sakit. E yang dalam keadaan lemah, lupa menonaktifkan ponselnya, sehingga notifikasi dari Y tetap masuk. Seizin Allah, tanpa curiga istri E membuka ponsel tersebut. Bukan kepo, tapi memang terganggu karena notifnya.

Akhirnya...betapa langit rasanya mau runtuh, setelah istri E mengetahui isi chat dari orang-orang yang tidak asing lagi buatnya. Suami dan kakak iparnya bersayang-sayangan, saling mengkhawatirkan dalam konteks yang tidak biasa. Isinya membuat istri E berteriak hebat, hilang kontrol walaupun suaminya dalam keadaan sakit. Ia terpukul sekali, ternyata kegilaan suaminya sudah merambah ke keluarga sendiri. Selama ini ia selalu menutupi perbuatan suaminya yang gemar bermain api dengan perempuan lain. Ia sering menemukan sms mesra atau miscall berkali-kali di ponsel suaminya.

Kesabaran dan waktu menunggu agar suaminya akan berubah sudah sampai pada puncaknya. Tanpa pikir panjang, meski suaminya sedang dirawat di rumah sakit ia tinggal pulang. Hancur hatinya berkeping-keping, terbayang wajah abangnya yang lugu dan polos. Ia tidak menduga, kakak iparnya yang selama ini dipuji-puji olah keluarga besarnya sebagai perempuan rajin, baik-baik, menerima segala kekurangan suaminya, ternyata telah tega berkhianat. Dan sakitanya lagi orang itu adalah suaminya sendiri.

Keluarga dibuat bingung. Kejadian ini mengancam robohnya dua rumah tangga yang dibangun sekian  lama. Tapi kalaupun mereka kembali akur, bagaimana mengembalikan hubungan kekeluargaan seperti sediakala? Namun upaya kesana tetap dilakukan oleh keluarga.
Ibarat kertas yang diremas, sulit kembali halus seperti semula.   

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ . قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

Artinya:

"Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita." Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?" Beliau menjawab, "Hamwu (ipar) adalah maut." [HR. Bukhari dan Muslim]

Jadi hadist shohih ini memang benar adanya, apa yang dikatakan Rasullah tetap berlaku dan kuat relevansinya hingga sekarang. Meskipun zaman sudah maju, serba terbuka, cara fikir yang berwawasan luas, namun kita harus tetap menjaga batas dan adab dalam pergaulan. Silahkan akrab dengan saudara ipar, baik iparan langsung atau sepengambilan. Namun akrab yang bagaimana yang harus dikedepankan?

Beberapa hal yang harus tetap dijaga batasanannya adalah:

      - Tidak menerima ipar lawan jenis untuk berkunjung jika pasangan tidak berada di rumah

      - Tetap berpakaian tertutup jika kumpul keluarga besar

      - Hindari bercanda vulgar  

      - Jangan curhat dengan ipar lawan jenis 


                     Ipar-iparan nih...😂😂

Bergaullah sewajarnya, saling tolong menolong dalam kebaikan, selebihnya jagalah perasaan pasangan, bagaimanapun juga, ipar adalah saudara bukan muhrim. 

Semua hal dan benda memiliki dua sisi, baik dan buruk, tinggal bagaimana kita menyikapi dan menggunakannya.

You May Also Like

2 komentar

  1. silahkan tinggalkan komentar, trimakasih

    BalasHapus
  2. Astaghfirullah...
    Memang sewajarnya kita tetap menjaga adab bergaul dengan non-mahram, sesuai tuntunan yang diajarkan oleh Agama kita ya, Mbak. Sehingga hal yang tidak diinginkan bisa dihindari..

    BalasHapus