Mengapa Anak menjadi Penakut? Lakukan 5 Cara Berikut untuk Mencegahnya

by - September 23, 2017

                                                          kurang rasa percaya diri

Banyak orang tua sering mengeluhkan anaknya yang memiliki sifat penakut. Tetapi justru banyak pula yang memberikan ‘julukan’ macam-macam atas rasa takutnya. Julukan seperti "kucur", "kukang", dan lain sebagainya. Akibatnya, di luar rumah, anak-anak juga mendapatkan perlakuan yang sama dari lingkungan sekitarnya. Padahal setiap bayi baru lahir tidak pernah memiliki rasa takut sedikit pun.

Lalu apakah takut adalah sifat alami seseorang sejak ia dalam kandungan? Layaknya kertas kosong, orang terdekatnyalah yang memberikan bermacam coretan padanya. Sebagai bukti, tinggalkan bayi sendirian di suatu ruangan, jikapun ia menangis hal itu dikarenakan lapar atau buang kotoran sehingga risih. Selebihnya ia akan tertidur nyenyak.

Kadang-kadang kebiasaan takut itu diawali dengan tidak beraninya si anak tidur terpisah dari orang tuanya. Meskipun usianya sudah mendekati remaja. Usia dimana biasanya mereka sudah bisa membedakan mana perbuatan baik dan buruk. Bukan hanya usia, tubuh mereka juga sudah tumbuh nyaris setinggi kita.

Ketika anak-anak masih usia balita, mungkin kita tidak mempermasalahkannya. Menganggap mereka memang masih pantas untuk tidur satu kamar bersama orang tuanya. Mereka kita anggap lucu, menggemaskan, kasihan, sehingga rasanya tidak tega tidur terpisah dengan mereka. Bukan hanya berada satu kamar, bahkan anak dan orang tua berada di ranjang yang sama. Padahal berdesakan dan istirahat juga jadi tidak nyaman.

                   Salah satu cara melatih untuk mandiri dan menghindari anak bersifat penakut


Bisa jadi, orang tua sendiri yang tidak mengizinkan mereka tidur sendiri. Jangankan untuk melatih, kamar tidur yang sudah disediakan dibiarkan kosong, menjadi gudang barang-barang. 

Ada lagi takut yang diakibatkan dari kebiasaan orang tua yang suka pergi tanpa pamit (berbohong). Karena tidak bisa membawa anak turut serta pada suatu acara, orang tua sering membuat berbagai alasan. Akibatnya anak tidak mau ditinggal samasekali karena kejadian yang sama takut terulang.

Ketakutan berlebihan pada anak dapat mengakibatkan kurangnya rasa percaya diri, ia juga selalu khawatir, merasa tidak nyaman berada di suatu tempat, selalu ingin ditemani orang tuanya. 

Ada beberapa kiat yang bisa diterapkan guna mengajarkan anak-anak agar anak memiliki sifat pemberani, berani, antara lain:

1.  Berikan motivasi , Jangan pernah menertawakan rasa takutnya. Katakan pada anak bahwa rasa takut bisa diatasi dengan sikap tenang.

2.  Anggota keluarga harus kompak  untuk tidak memperbesar rasa takut pada anak. Caranya dengan bersikap tenang ketika mendengar atau melihat  hal-hal mengejutkan, seperti suara halilintar, kecoa yang menjijikkan, tikus dan lain sebagainya.

3.   Berikan pengertian secara bertahap, misalnya ketika anak belum siap untuk tidur tanpa penerangan. Tidur dengan lampu yang dimatikan lebih baik daripada dalam keadaan terang benderang. Jika anak sudah tertidur, matikanlah lampu. Awalnya mungkin akan terjaga, anak akan menangis, tetapi tetaplah lakukan berulang-ulang, kelak ia akan terbiasa.

4.  Biasakan berpamitan pada anak, komunikasikan dengan suara jelas bahwa Anda memang harus pergi dan akan kembali jika urusan sudah selesai. Tujuannya agar anak tidak merasa dibohongi. Tekankan juga bahwa anak tidak akan ditinggal sendirian, ada pengasuh (orang yang terpercaya) yang akan menemaninya.

5. Jangan menceritakan aib anak, dengan menceritakannya kepada orang lain, terlebih bila ia berada di tempat yang sama. Bagi seorang anak, rasa takut merupakan suatu ancaman, karenanya perlu upaya untuk mengatasinya bukan sebaliknya menjadikannya bahan olok-olokkan.

Beberapa kebiasaan di atas sering terjadi tanpa kita sadari. Kita merasa bagian kecil dari kebiasaan anak-anak adalah hal yang lucu, tidak mengapa jika dibicarakan dalam suasana bercanda. Padahal tidak demikian dengan perasaan anak. Mereka memiliki rasa marah dan malu, hanya saja mereka masih sulit mengekspresikannya.

                                                      Biasakan berkomunikasi yang jelas

Acara kumpul keluarga besar biasanya sering jadi ajang bertukar cerita. Pada kesempatan seperti ini orang tua harus menjaga jangan sampai kelepasan bicara. Acara yang digadang-gadang mempererat tali silaturahmi akan berubah menjadi kegiatan yang paling dibenci oleh anak. Orang tua harus bijak bersikap.

Perasaan-perasaan yang dipendam oleh anak dapat mengakibatkan trauma, dan menganggap dirinya memang seperti yang dikatakan orang lain tentang dirinya. Misalnya si anak sering dikatai penakut, lama kelamaan jika itu dibiarkan, anak akan menganggap bahwa dirinya memang penakut. Jangan pernah mengabaikan perasaan anak, mereka juga sama dengan orang dewasa, tidak suka jadi perbincangan.


 gambar dari pixabay.com

You May Also Like

0 komentar