Mengapa Arisan Sering Berujung Keributan? Beberapa Penyebabnya Ada di Sini

by - September 28, 2017

                                                                                       fossei.orang(google)




Kata ‘arisan’ sudah demikian akrab di telinga masyarakat Indonesia. Istilahnya juga ada beberapa macam, dua diantaranya ‘jula-jula’ dan ‘tare’an’. Makna sebenarnya adalah mengumpulkan uang yang berasal dari anggota arisan tersebut, dengan nilai yang sama, waktu penarikan sudah ditentukan, sesuai kesepakatan. Belakangan arisan tidak hanya mendapatkan uang tetapi sudah beralih pada pembelian barang.

Di Indonesia sendiri, yang kerap mengikuti arisan biasanya kaum perempuan. Kaum laki-laki ada juga yang menjadi anggota arisan, tapi biasanya hanya kelompok arisan keluarga.

Arisan bukan saja dikenal di kalangan orang dewasa. Bahkan anak kedua saya, semasa masih duduk di bangku kelas 6 SD sudah ‘main tare’an’ bersama kawan sekelas. Satu hari Rp. 1000,-. Karena jumlah itu mingkin dinilai ringan ada yang setor seminggu sekali. Dianggap gampang,  ternyata ketika dikeluarkan sejumlah 1x6 hari menjadi besar jumlahnya. Akhirnya beberapa ada yang menunggak, padahal nomornya sudah keluar di awal, karena terus terlilit hutang setoran, ada yang memutuskan keluar.

Masalah timbul  karena jumlah uang yang diterima oleh anggota yang mendapat giliran narek jumlahnya tidak genap. Anak-anak kecil sudah pusing masalah uang. Saya jelaskan timbulnya persoalan itu, syukurnya ia mau menerima. Walaupun kesal karena uangnya tidak jelas rimbanya. Padahal uang saku sudah dihemat sedemikian rupa.

Entah ide darimana anak-anak itu membentuk arisan. Padahal menabung di rumah dengan jumlah sesukanya sudah saya biasakan dari kecil, aman-aman  saja. Dan saya sendiri tidak ada ikut arisan apapun, apa lagi meperkenalkannya. Anak-anak belum mengerti makna sebenarnya arisan, hanya ikut-ikutan, namun terkait masalah uang mereka bisa saling marah-marahan.

Tujuan arisan itu sebenarnya sangat baik. Selain latihan menabung, kita juga bisa mengembangkan diri dengan cara bersosialisasi. Kesempatan berkumpul saat arisan juga bisa digunakan untuk menambah ilmu, karena biasanya ada diselingi ceramah. Kadang ceramah agama, ceramah kesehatan, sosialisasi tentang brand baru dan lain-lain. Ada juga yang memanfaatkan arisan untuk mengadakan pelatihan dalam rangka menambah ketrampilan anggotanya.

                                                                             eramuslim.com(google)


Tapi yang mau saya bahas kali ini mengenai balada seorang ketua arisan. Semuanya berdasarkan perbincangan dengan beberapa ketua arisan yang pernah saya temui. Kalau di daerah saya, ketua arisan sekaligus yang mengumpulkan uang setoran anggota. Kelompok arisan ada yang memiliki bendahara, nah kalau jenis ini mungkin bendaharalah yang ditugasi memegang uang setoran.

Mereka sering mengeluhkan keterlambatan setoran anggota atau bahkan ada yang menunggak berkali-kali. Satu dua orang mungkin masih bisa ditalangi dulu, tapi kalau sampai berbulan dan bukan hanya satu dua orang yang menunggak? Saya kira sekaya apapun mereka pasti akan mengeluhkan ketidakdisiplinan anggotanya. Sejauh yang saya ketahui, ketua/bendahara arisan itu tidak mendapatkan gaji, bukan? Paling-paling mendapatkan ‘uang buku’ (istilah di daerah kami) dari anggota yang nomornya keluar pada bulan tersebut. Tidak mendapatkan gaji, kerja sukarela, tapi memiliki tanggung jawab yang sangat besar.

Beberapa tanggung jawab tidak tertulis yang diembankan pada ketua/bendahara arisan diantaranya :  Bila nggota telat melakukan pembayaran kewajibannya, ketua/bendahara harus menagih dengan gigih. Ada anggota yang terlambat setoran, ketua/bendahara menggunakan uangnya terlebih dahulu untuk menutupi kekurangannya. Menemui anggota untuk menagih uang setoran arisan sudah lazim mereka lakukan, padahal seharusnya anggota yang menemui ketua/bendaharanya, bukan?. Bahkan jika uang setoran anggota ada yang hilang mereka bertanggung  jawab menggantinya.

Bukankah  terbentuknya perkumpulan arisan tersebut atas kesadaran sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak lain? Bukankah seharusnya berterima kasih karena ada yang bersedia mengumpulkan uang anggota sehingga kondisi terkendali?  Bagaimana jika tidak ada yang mengoordinir pencatatan, tentulah anggota yang menang direpotkan dengan urusan tagih menagih.

Ketua/bendahara arisan patut diacungi jempol untuk perkara kerelaan hatinya karena mau menjabat jabatan tersebut. Mereka dengan sukarela mau menerima jabatan yang berpotensi memicu stress karena berkaitan dengan uang dan kedisiplinan anggota. Padahal, apa-apa yang berkecimpung dengan uang biasanya bisa menimbulkan keributan.

Pemaparan di atas menyoroti tingkah polah anggota arisan yang tidak disiplin. Lain dengan cerita ketua/bendahara arisan yang membawa kabur uang setoran. Amanah yang dipercayakan oleh anggota dan ia terima dengan kesadaran sendiri telah dimanfaatkan untuk melakukan manipulasi. Uang memang bisa menggoyahkan keimanan seseorang. Banyak masalah yang ditimbulkan  karena tidak kuat menahan diri untuk tidak  menggunakan uang yang bukan menjadi haknya demi kepentingan pribadi.

Beberapa  sifat tidak terpuji yang bisa timbul karena uang:
1.      Gemar berjudi
2.      Gemar berpesta pora
3.      Menjadi sangat tamak
4.      Diperbudak oleh uang
5.      Korupsi

Jika Anda memutuskan untuk menjadi anggota arisan maka patuhilah tata tertib yang telah disepakati. Jangan menganggap sepele masalah kedisiplinan penyetoran uang. Jika Anda tidak bisa hadir, kewajiban membayar harus tetap dilakukan. Anda bisa menitipkan uang tersebut kepada teman, atau siapapun yang bisa dipercaya. Apalagi zaman sekarang, semua serba mobile, setoran arisan bisa ditransfer ke rekening ketua/bendahara. Tidak ada hal yang sulit, cuma butuh kekuatan niat untuk tetap menjaga kedisiplinan.

Hargailah seseorang yang telah melakukan suatu usaha untuk mempermudah urusan kita. Selamat berarisan ria.....  


You May Also Like

0 komentar