5 Cara Menghindari Bullying di Sosial Media, Anda Perlu Tahu

by - September 23, 2017

Hidup di era internet membuat kita ikut menjadi bagian dari kemudahan mengakses segala macam berita. Akun-akun sosial media bagaikan jamur di musim hujan, tumbuh dan terus melakukan inovasi kekinian. Siapapun bisa menggunakannya, hanya dengan modal smart phone dan paket data, semua orang bebas berekspresi. Kebebasan menuangkan ide adalah dampak positifnya, sedangkan dampak negatifnya perilaku menindas yaitu mem-bully.

Bullying di dunia nyata sudah biasa, anehnya bullying di media sosial sekarang ini jauh lebih marak seiring dengan makin banyaknya pengguna internet. Mungkin saja sebagian dari kita adalah pelakunya, atau pernah menjadi korban tindakan bullying tersebut.

Mem-bully lewat internet lebih mudah dilakukan, karena online disinhibition effect, di mana faktor seperti anonimitas, ketidaktampakan, minimnya otoritas, dan tak harus bertemu seseorang melahirkan budaya kebencian. Padahal mereka tidak saling kenal, baik di dunia maya maupun nyata.

Perempuan yang paling banyak menjadi korban bullying dibanding laki-laki.  Dengan cara merendahkan disertai atribut seksual, personal tubuhnya, atau referensi lain dengan tujuan menghina. Suatu hari, pernah teman perempuan saya sms, minta tolong dilihatkan wall facebook sebuah akun yang ia tuliskan namanya, apakah masih ada foto dirinya di sana. Menurutnya, ia menjadi korban kejahatan seorang hacker yang telah menawarkan dirinya sebagai salah seorang perempuan ‘bispak’. Kontan saja dia sedih bukan kepalang, mengaku resah takut rumah tangganya berantakan. Sedangkan laki-laki yang diserang ide atau statementnya, dimana mereka bisa berdebat dengan argumentasi yang sama masuk akal. Demikian pernyataan pendiri PurpleCode, Dyta Caturani. 

Mengapa orang gampang membully?

Menurut Margaretha, psikolog dari Universitas Airlangga, seseorang membully karena pelaku mendapatkan keuntungan dari intimidasi yang ia lakukan. Misalnya, mereka mendapatkan pengakuan dominasi, keuntungan pribadi, pengalihan dari masalah pribadi dan lain sebagainya. Perbuatan seperti ini akan menjadi kebiasaaan dan menjadi wajar menurut si pelaku apabila pengakuan tersebut ia dapatkan.

Selain itu, seseorang yang merasa memiliki harga diri tinggi membully orang lain yang menurutnya akan mengancam posisinya. Atau sebaliknya, seseorang yang memiliki harga diri rendah melakukan bullying untuk menutupi ketidakmampuannya.

Faktor penyebab mengapa seseorang melakukan bullying: 

1.      Perilaku kurang dewasa.
Saat seseorang melihat perilaku orang lain yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip umum, maka ia melakukan penghakiman menurut sudut pandang pribadinya. Sukar menerima perbedaan pendapat.

2.      Tidak memahami apa yang dimaksud dengan kritik membangun.
Ketika orang lain melakukan kesalahan, menurutnya perlu ditulis di media social, sehingga terbaca oleh banyak orang. Menurutnya agar tidak terulang kembali, padahal pada saat yang bersamaan orang tersebut telah ia jatuhkan. Kritiknya tanpa solusi.

Beberapa tips untuk menghindar dari tindakan bullying di social media:

1.    Jangan memberikan respon terhadap komentar yang bersifat intimidasi, seperti cacian, hinaan ataupun ejekan. Jika Anda bereaksi pelaku akan merasa puas dan terus melakukan aksinya.
2.   Jangan balas dengan mem-bully. Jika hal ini Anda lakukan, secara tidak langsung Anda sudah menjadi seorang pembully baru, putus mata rantainya di tangan Anda.
3.    Simpanlah komentar-komentar, foto maupun pesan yang sudah ditujukan pada Anda. Sebagai barang bukti untuk diberikan kepada pihak berwenang, orangtua atau polisi.




Sebagai media baru, media sosial sangat identik dengan berbagai kemudahan yang bisa diakses lewat internet. Kita dengan mudah berinteraksi dengan orang lain. Hanya saja, perkembangan teknologi tersebut belum tentu diiringi dengan pemahaman dan kebijaksanaan dalam pemanfaatannya.

Masih banyak yang beranggapan bahwa media sosial adalah ruang pribadi. Namanya saja media sosial ya, apa yang kita unggah tentu akan terbaca dan dilihat oleh banyak orang. Jadi ketika kita berpendapat  A akan  ada orang yang menanggapi dan berkomentar macam-macam. Ada yang setuju dan ada yang bertentangan.

Karena segala celah bisa dijadikan bahan untuk membully, meskipun apa yang kita unggah bersifat opini pribadi, namun ada baiknya tetap menjaga 5 hal berikut ini:

1. Hindari mengunggah gambar atau foto dengan pose yang dapat menarik perhatian yang bisa menimbulkan terjadinya kejahatan seksual.
2.     Selektiflah dalam memposting tulisan atau mengupload foto di social media.
3.   Disarankan tidak menulis secara detail profil pada social media, seperti alamat rumah, nomor ponsel dan hal pribadi lainnya yang sekiranya tidak benar-benar diperlukan untuk diposting.
4.    Tidak sembarangan menerima pertemanan.
5.  Untuk keamanan, sebaiknya selalu log out setiap keluar dari situs atau surel pribadi yang sudah digunakan.

Ketika kita akan share sesuatu, pertimbangkan dahulu baik buruknya. Perlu berpikir berkali-kali untuk menekan tombol klik. Menurut Meilly Badriati, bagaimanapun dunia media sosial itu di luar realitas, hasil rekayasa. Sementara menurut Listyo, jari adalah hardware, sementara sofwarenya adalah otak kita. Karena itu, jangan sembarangan berbicara di internet atau media sosial apapun.

foto dari pixabay.com

You May Also Like

7 komentar

  1. Saya paling malas adu debat di medsos mbak, lebih baik media sosial buat sesuatu yang bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buang waktu, bikin nggak enak hati fan merusak mood loh, yakan?

      Hapus
  2. Sya gk tahu apa yang sedang dipikirkan o org2 ktka adu mulut di medsos.. kayak gk ada kerjaan aja y mba..

    BalasHapus
  3. Medsos harusnya jadi hiburan..eh malah jadi tempat tawuran.
    Sebaiknya log out setelah medsos-an. Noted. Terima kasih sudah diingatkan Mbak...benar juga yaa:)

    BalasHapus
  4. Media sosial ibarat dua mata pisau ya, Kak. Harus bisa menggunakannya dengan bijak. Dan saya lebih memilih gak ikut serta dalam keriuhan di medsos. Banyak ngehabisin pikiran dan waktu aja...

    BalasHapus
  5. Infonya bermanfaat banget nih, menarik juga pembahasannya, mampir juga ya kesini menggenai solusi kewanitaan KLIK DISINI

    BalasHapus
  6. media sosial bergantung siapa yang menggunakannya...terkadang mereka sengaja mengunggah hal-hal tak bermutu bahkan cenderung kurang ajar supaya banyak dibaca atau dikomen...sungguh

    BalasHapus