10 Cara Mengatasi Stress Karena Pasangan Selingkuh

by - September 24, 2017

        Ponsel mempermudah perselingkuhan

Perempuan  cantik itu awalnya seseorang yang sangat bahagia. Ia memiliki karier yang bagus, dua anak perempuan cantik dan suami yang cukup gagah. Setiap rekan yang mengenal pasangan itu sering dibuat kagum karena keharmonisan keluarga mereka.

Suaminya pencemburu, laki-laki yang sangat dicintainya itu memintanya berhenti bekerja, mengurus rumah tangga saja, itu pintanya. Didorong rasa patuh dan cintanya pada keluarga, apalagi anak-anak memang sedang membutuhkan perhatian, ia bersedia meninggalkan karirnya yang sedang menanjak.

Untuk menghilangkan rasa kecewa karena tidak lagi punya penghasilan, ia berbisnis kecil-kecilan di rumah. Ia berjualan online. Lumayan untuk menambah uang belanja, anak-anak yang beranjak remaja tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Suaminya meskipun berpenghasilan besar, tetapi hanya memberikan uang belaja yang sangat pas-pasan, hanya untuk kebutuhan primer. Sementara kedua gadis mereka ingin ini-itu agar penampilannya tidak tertinggal dari teman-temannya.

Dua gadis berusia 17 dan 15 tahun, tentulah sedang seru-serunya mengikuti segala perkembangan trend di kalangan anak muda. Sayangnya kedua anak mereka hanya berani meminta pada ibunya. Sang ayah tidak mau tahu. Dulu bukanlah masalah besar ia memenuhi semua permintaan kedua anaknya. Tetapi sekarang? Asal tidak disalah-salahkan karena uang belanja yang sering minta tambah sudah cukuplah baginya.

Belakangan, perempuan yang sudah berusia 45 tahun itu mengalami stress berat karena menemukan chat mesra suami dengan selingkuhannya. Ia menyadari tidak muda lagi, tidak semanarik dulu, tapi ia ingin suaminya mengahragai masa muda mereaka dulu. Mereka sama-sama berjuang untuk pada posisi sekarang.
                      Tanda kehadiran orang ketiga

Meskipun sangat tertekan, tetapi ia tetap melayani suaminya seperti biasanya, tidak berlebih berkurang. Bukannya menunjukkan simpati, suaminya justru semakin acuh tak acuh padanya. Anak-anaknya bilang kalau ibunya terlihat semakin tua, penampilannya lusuh, rambutnya pun banyak yang rontok.

Teman-teman arisannya bilang ia semakin kurus, tentu saja, sekarang ia tidak punya selera makan dan kurang tidur. Kalau tertidur sering bermimpi buruk. Parahnya lagi, akhir-akhir ini ia sering terserang sariawan, ia takut itu gejala awal penyakit kanker. Ia memang jadi malas berdandan, tidak seperti dulu yang selalu tampil rapi dan menarik. Kalau ke arisan ia tampil sangat seadanya, sungguh berbeda jauh dengan ia yang dulu.

Hubungan yang tidak sehat dari kedua orang tuanya sangat mempengaruhi anak mereka. Sulung jadi malas kuliah hingga nilainya jatuh, bahkan terancam dikeluarkan. Sedang si bungsu lebih suka berada di rumah temannya.

Ketika bangun tidur, di pagi hari, ia tidak bersemangat, menyambut suami pulang kerja ia juga tidak bergembira. Anak-anaknya menyarankan agar ia berkonsultasi kepada psikiater. Tapi meskipun ia perempuan dengan pikiran maju, ia takut diduga gila. Semua menjadi serba salah.

Sebenarnya, semua persoalan perempuan tersebut akan lebih ringan jika ia memiliki tempat untuk mencurahkan perasaannya. Seorang psikiater bisa membantu mengatasi jika ia tidak punya teman bicara. Untuk sakit fisiknya ia memang harus berobat ke dokter, tapi masalah kejiawaan sangat perlu diperhatian.

Ia bukan satu-satunya manusia di dunia ini yang rumah tangganya bermasalah. Ada yang terlilit hutang, ada yang salah satu anggota keluarganya terlibat masalah hukum, atau terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Pada kasus suaminya bisa saja karena tekanan pekerjaan atau hanya iseng, pengaruh pergaulan bisa juga terjadi.

Menurut saran dokter yang ia kunjungi, ada 10 cara untuk mengurangi stress yang bisa ia lakukan:

1.Utamakan memikirkan masa kini, jangan larut pada masa lalu, pikirkanlah apa yang bisa dilakukan untuk masa depan.

2.Selesaikanlah persoalan satu per satu, mulailah dengan yang mudah, misalnya berbicara dengan kedua anaknya. Ajak mereka memelihara rumah tangga dengan cara rajin kuliah dan menemaninya.

3.Cobalah berbagi perasaan dengan orang-orang yang ia percayai, salah satunya dengan anak sendiri.

4.Ikutilah kegiatan social seperti arisan dan pengajian, gunanya untuk memberikan suasana menyenangkan.

5.Tidak perlu menyalahkan orang lain berlebihan, meskipun suaminya menyakiti hatinya, belajarlah untuk memaafkan.

6.Berolah ragalah secara teratur, atau bisa juga melakukan kegiatan fisik lainnya, untuk mengalihkan fikiran-fikiran buruk.

7.Cobalah gali hobi yang dimiliki, hal tersebut akan sangat menyenangkan.

8.Beristirahatlah, lepaskan segala beban fikiran ketika sudah memasuki kamar tidur.

9. Menuliskan perasaan di buku harian.

10.Berdoalah terus-menerus, pasrahkan segala persoalan pada sang maha pencipta.

Memang tidak seharusnya perempuan itu terus-menerus melarutkan diri dalam kesedihan. Setiap orang harus menghadapi persoalan hidupnya, semua harus diselesaikan dengan sikap tegar. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang terbebas dari masalah.
  








    

You May Also Like

2 komentar

  1. Move On...!
    Permasalahan yang diujikan Allah kepada hamba-Nya akan membuat sabar dan tegar. Karena setiap orang akan dicoba sesuai dengan kekuatannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sepakat...
      Ujian menaikkan peringkat kesabaran dan keimanan, tapi bukan berarti tidak ada tindakan, yakan?

      Hapus